Skandal CEO Playboy

Skandal CEO Playboy
Bab 27 ~ Kegelisahan


__ADS_3

Nabil mengeram kesal saat mendengar panggilan Papanya. Mau menghindar juga percuma. Apalagi saat ini Papanya sedang bersama rekan bisnisnya yaitu Tuan Dedy beserta anaknya, yaitu Nila.


“Ayo kita makan siang bersama! Bukankah Papa sudah mengatakannya tadi pagi?” lanjut Barra yang mengerti kalau Nabil ingin menghindar.


Akhirnya Nabil hanya menurut saja. setelah itu mereka berempat segera pergi ke sebuah restaurant untuk makan siang. Nabil memilih mengendarai mobilnya sendiri. Dia beralasan akan pergi ke suatu tempat setelah selesai makan siang nanti. padahal itu hanya alasannya saja karena tidak ingin satu mobil bersama Nila.


Nabil juga sudah mengirim pesan pada Nabil kalau tidak jadi ikut makan siang bersama lantaran ikut makan siang bersama Papanya. Kemudian ia kembali melajukan mobilnya mengikuti mobil sang Papa menuju sebuah restaurant seafood.


Sesampainya di sana, Nabil bergabung dengan Papanya dan juga Om Dedy dan Nila. Nabil bersikap sopan pada rekan bisnis Papanya itu. termasuk dengan wanita cantik bernama Nila.


Meskipun Nabil jarang sekali bertemu dengan Nila, tapi mereka berdua sudah saling mengenal. apalagi dulu Papanya sudah pernah mengatakan akan menjodohkannya dnegan wanita itu. lalu Nabil memilih pergi dari rumah dan memimpin perusahaan cabang.


Menurut Nabil, Nila adalah wanita yang cantik dan ramah. Bahkan wanita itu mudah sekali akrab dengannya walau jarang bertemu. Tapi entah kenapa Nabil tidak bisa jatuh cinta pada wanita itu. Tapi bukankah Nabil tidak pernah mengenal cinta dan tidak percaya adanya cinta. Jadi buat apa dia berharap ingin merasakan bagaimana jatuh cinta itu.


“Bagaimana kabar kamu, Nabil? Om baru dengar kalau kamu sudah kembali ke kantor pusat.” Tanya Dedy basa-basi.


“Baik, Om. Iya, seminggu yang lalu. Karena masa kerja Nabil sudah habis, jadi harus kembali lagi ke tempat semula.” Jawab Nabil.


“Ya, memang harusnya seperti itu. bukankah dengan begitu kita bisa melanjutkan rencana kita?” sahut Barra.


Nabil sudah merasakan hawa tidak nyaman. Pasti Papanya akan membahas masalah perjodohannya dengan Nila. Tapi jujur saja, Nabil juga tidak bisa berkutik kalau sudah seperti ini. ini juga konsekuensi yang harus ia terima.

__ADS_1


Nabil menyesali perbuatannya yang telah gagal mengajari Shanum ilmu bisnis. Andai saja Shanum bertahan dan tetap ingin bekerja di kantornya, mungkin saat ini dia tidak akan berada di situasi seperti ini. tapi bukankah kepergian Shanum juga karena kesalahannya. Mengingat itu semua, Nabil kembali teringat dengan Shanum. Kenapa dia ingin sekali bertemu dengan wanita itu.


“Kamu tunggu saja, Ded kedatangan keluargaku untukn membahas pertunangan Nabil dan Nilam.” Ucap Barra memberi keputusan tanpa bertanya dulu pada Nabil.


Dedy dan Nila terlihat sangat senang mendengarnya. Terutama Nila yang sejak tadi hanya diam dan menyimak pembicaraan orang-orang di hadapannya. Sedangkan Nabil menatap Papanya malas. Namun tidak berani protes.


Usai makan siang, Dedy dan Nila pamit undur diri terlebih dulu, karena ada urusan penting yang mendadak. Kini hanya tinggal Nabil dan Papanya saja di ruangan vvip restaurant itu.


“Pa, kenapa Papa memberi keputusan sepihak tanpa bertanya dulu pada Nabil?” tanya Nabil dengan kesal.


“Kenapa memangnya? Kamu mau menolaknya? Bukankah ini konsekuensi yang harus kamu terima. Tidak hanya itu saja. Papa ini ingin istirahat dan menikmati hari tua bersama Mama kamu. Setelah kamu menikah nanti, otomatis kantor pusat akan kamu pimpin.”


“Papa benar-benar tidak mengerti jalan pikiran kamu. Cobalah buka hati kamu untuk belajar mencintai Nila. Nanti kamu akan merasakan bagaimana kalau hati kita ini melebur jadi satu dengan orang yang kita cintai. Meskipun usia Papa sudah tidak muda lagi, tapi Papa masih ingin terus membuat Mama kamu bahagia. Yaitu dengan tidak terus menerus meemikirkan perusahaan. Papa mempunyai dua anak. Kini saatnya anak-anak Papa yang melanjutkan perjuangan Papa selama ini.” ucap Barra dengan nada melemah dan membuat hati Nabil tersentuh.


Seketika itu terbesit rasa bersalah pada diri Nabil terhadap kedua orang tuanya. Memang selama ini yang ia lihat hubungan Papa dan Mamanya sangat harmonis. Sekalipun ada masalah, kedua orang tuanya tidak pernah menunjukkannya di hadapan anak-anaknya. dan itu menurun pada adiknya yaitu Nabila. Lantas, apakah Nabil harus menikah agar bisa merasakan kebahagiaannya seperti Papa dan Mamanya?


“Maafkan Nabil, Pa.” jawab Nabil tidak bisa berkata-kata lagi.


“Ya sudah Papa kembali lagi ke kantor. katanya kamu juga ada urusan penting. Nanti saat di rumah kita bahas tentang hubungan kamu dengan Nila.” Pungkas Barra lalu beranjak meninggalkan Nabil.


Setelah Papanya kembali ke kantor, Nabil juga ikut keluar restaurant. Dia ingin menenangkan hati dan pikirannya. Tapi sepertinya dia butuh seseorang untuk menemaninya sekaligus meminta pendapat atas kegelisahan yang sedang ia rasakan.

__ADS_1


Sebelum Nabil mengemudikan mobilnya. Ia menghubungi Nabila. Meskipun dia tahu kalau Nabila pasti sedang bersama suaminya, tapi jika dia membutuhkan adiknya, pasti Nabila akan meluangkan waktunya.


Tuk tuk tuk….


Nabil terkejut saat kaca mobilnya ada yang mengetuk. Ternyata dia adalah Nabila.


“Ada apa?” tanya Nabila saat Nabil membukakan jendalanya.


“Kenapa kamu bisa di sini?” tanya Nabil bingung.


“Aku tadi juga makan siang di sini. setelah kamu mengirim pesan, aku minta Jo kembali ke kantor dulu.”


“Ya sudah, masuklah!” pinta Nabil kemudian.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2