Skandal CEO Playboy

Skandal CEO Playboy
Bab 54 ~ Menghapus Ingatan


__ADS_3

Keesokan harinya kedua orang tua Nabil sudah berada di kediaman Bagas. Mereka akan berpamitan pada besannya itu sebelum pulang. hari ini Barra beserta istrinya akan pulang bersama Nabi, tentunya juga dengan Shanum.


Entah apa yang sudah diucapkan oleh Bagas pada Shanum semalam hingga akhirnya wanita yang sedang hamil muda itu mau ikut pulang ke rumah Nabil. Shanum juga tidak mengatakan apapun pada suaminya. dia hanya sudah mempersiapkan semua baju-bajunya semalam saat Nabil masih ada urusan di luar.


Sedangkan Nabil sendiri juga terkejut sekaligus senang karena Shanum mau ikut pulang bersamanya. Pria itu cukup paham dengan adanya koper besar milik istrinya yang sudah ada di samping ranjang. Itu artinya Ayah mertuanya berhasil menasehati Shanum.


Dan selama Shanum ikut pulang suaminya, sementara Nabil akan mengajaknya tinggal bersama kedua orang tuanya. Mungkin Nabil sengaja melakukan itu karena dia tidak ingin sang istri masih merasa canggung jika langsung tinggal berdua. Nabil juga ingin mendekatkan istrinya dengan kedua orang tuanya dan juga adiknya, yaitu Nabila.


“Aku titip Shanum selama tinggal bersama kalian. anggap saja dia anak kamu sendiri, Bar. Kalau Shanum melakukan kesalahan, jangan sungkan-sungkan untuk menegurnya.” Pesan Bagas pada Barra.


“Kamu tenang saja. aku yakin Shanum adalah anak yang baik dan selalu menurut pada orang tuanya, sekaligus istri yang patuh pada suaminya.” jawab Barra.


Nabil juga ikut bicara. Dia berpamitan pulang dengan membawa serta Shanum. Nabil juga berjanji pada kedua mertuanya untuk selalu menjaga dan mencintai Shanum. Bagas dan Rosma pun sangat percaya dengan Nabil. terlepas dari masa lalu Nabil yang terkenal seorang playboy yang sering membuat skandal. Dan sampai detik ini, Bagas dan Rosma melihat perjuangan dan kesungguhan hati Nabil untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Shanum sedikit mendrama sebelum ikut pulang bersama suaminya. wanita itu menangis sesenggukan saat akan berpisah dari Bundanya. Entah karena pengaruh hormon kehamilannya atau memang sifat Shanum yang manja. Tapi beberapa waktu yang lalu saat dia tinggal terpisah dengan kedua orang tuanya, Shanum terlihat baik-baik saja.


Nabil sendiri sebenarnya juga tidak tega melihat istrinya yang bersedih lantaran akan berpisah dengan orang tuanya. Namun semua itu ada massanya, dimana seorang istri harus menurut pada suaminya kemanapun dia akan dibawa pergi. Dan ini pertama kalinya yang dialami oleh Nabil. dia masih membiarkan Shanum memeluk Bundanya sambil menangis. Setelah ini dia berjanji akan mengisi hari-hari Shanum penuh dengan kebahagiaan.


“Sudah, jangan menangis terus dong Sayang! Nggak ingat apa kamu sebantar lagi akan jadi ibu? Masa iya masih cengeng begini?” ucap Rosma menenangkan.

__ADS_1


Shanum hampir lupa kalau saat ini sedang ada suami dan mertuanya. Tak lama kemudian ia mengusap air matanya.


***


Saat ini Nabil bersama istri dan kedua orang tuanya sedang berada dalam pesawat. Shanum sejak tadi tampak diam duduk di samping suaminya. namun tidak dengan Nabil. pria itu terlihat aktif menawarkan sesuatu atau hanya sekadar menanyakan keadaan sang istri apakah baik-baik saja. tapi sayangnya Shanum hanya menjawab dengan Bahasa isyarat, yaitu menggeleng dan menganggu.


Mungkin karena lelah, akhirnya Shanum tertidur juga. kepalanya pun reflek jatuh ke pundak Nabil. pria itu tersenyum hangat sambil mengusap lembut pucuk kepala istrinya. Ada rasa bahagia dalam diri Nabil yang sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sekaligus ada rasa sesal mendalam, kenapa sejak dulu ia mengabaikan perasaan Shanum. Karena kenyataannya Shanum dulu lah yang menaruh hati padanya. Dia berharap wanita yang sedang tertidur di pundaknya itu masih menyimpan perasaan yang sama.


Beberapa saat kemudian pesawat yang mereka tumpangi sudah landing. Nabil membangunkan istrinya yang masih nyenyak dalam mimpinya. Entah Shanum benar-benar kelelahan atau dia sangat nyaman tidur bersandar pada pundak sang suami.


“Ehm, sudah sampai ya?” tanya Shanum sedikit canggung sambil menjauhkan tubuhnya dari Nabil.


Nabil sengaja tidak ikut pulang bersama kedua orang tuanya yang dijemput sopir pribadi. Dia memilih naik taksi bersama Shanum karena ingin mengajak Shanum makan terlebih dulu. Nabil yakin kalau istrinya sangat lapar, mengingat sejak dalam pesawat tadi Shanum enggan makan sesuatu.


“Kamu mau makan apa?” tanya Nabil saat kini sudah berada dalam taksi.


“Terserah.” Jawab Shanum dengan muka datarnya.


Nabil meminta sopir taksi berhenti di salah satu resto yang terkenal cita rasanya paling enak. Shanum hanya diam saja dan pasrah, karena memang dia tidak masalah mau makan apa saja.

__ADS_1


Setibanya di resto, Nabil segera memesan makanan untuknya dan sang istri. Setelah itu Nabil sibuk dengan gedgetnya karena ada pesan penting mengenai pekerjaannya yang beberapa hari ini ia tinggalkan. Sedangkan Shanum hanya melihat Nabil yang sejak tadi menatap layar ponselnya.


Shanum tidak menyangka kalau pada akhirnya ia menikah dengan pria yang sejak pertama bertemu sudah membuatnya jatuh cinta. Pria itu juga cinta pertamanya. Meskipun jalan yang ia lalui untuk bersatu cukuplah rumit. Shanum berharap, sedikit demi sedikit bisa menghapus ingatan buruknya atas perbuatan Nabil saat itu.


“Shanum! Apa kamu nggak suka dengan makanannya?” tanya Nabil yang sudah beberapa kali memanggil istrinya namun tidak mendapat jawaban. Apalagi Shanum terlihat diam dan melamun.


“I…iiya. Aku suka.” Jawabnya gelagapan.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!


 

__ADS_1


__ADS_2