
Ketika putri ku telah pergi bersama ibunya Sinta dan Sinta. Kini ke dua orang tua ku mulai ragu untuk melihat aku yang sedang menangis itu.
"Bu yakin kita masuk sekarang?" kata ayah ku bertanya pada ibu ku.
"Iya yah yakin, kasian Risna di dalam lagi nangis." kata ibu ku menjawab ucapan ayah ku.
"Tapi bu kata dokter kita kan nggak boleh masuk. Jadi gimana bu kita masuk apa nggak?" kata ayah ku menjawab ucapan ibu ku dengan keraguan dan bertanya juga pada ibu ku.
"Iya sih yah nggak boleh masuk. Tapi kalau kita nggak masuk kasian Risna yah. Gimana nanti aja yah sekarang yang lebih penting kita tau kenapa Risna nangis." kata ibu ku menjawab ucapan ayah ku.
"Ya udah bu kalau itu keinginan ibu kita masuk aja. Ayah juga kasian sama khawatir juga takut terjadi apa - apa di dalam." kata ayah ku yang langsung menyetujui perkataan ibu ku.
"Ya udah yah sekarang aja kita masuknya" kata ibu ku pada ayah ku.
"Iya bu" kata ayah ku menjawabnya singkat.
Di saat ibu dan ayah ku mulai mendekati pintu ruangan ku. Mereka berdua langsung membuka pintu tersebut.
__ADS_1
Ceklek...
Suara pintu yang terbuka pun terdengar oleh mereka. Namun, aku tak menghiraukan suara pintu itu karena saat ini aku malah terus menangis tanpa sebab.
Seakan - akan air mata ini seperti air yang mengalir terus - menerus tanpa henti kecuali jika airnya ada yang berusaha mematikannya agar tak mengalir lagi.
Hiks... hiks... hiks...
Suara itu lah yang di dengar oleh ibu ku dan ayah ku saat pintu ruangan ku terbuka dengan sempurna.
"Yah Risna yah" kata ibu ku yang mulai merasa khawatir dengan kondisi ku yang menangis ini.
"Tapi... yah..." kata ibu ku yang mencoba protes dengan ucapan dari ayah ku itu. Namun langsung di potong oleh ayah ku.
"Udah lah bu kita tunggu dulu aja." kata ayah menjawab ucapan ibu ku agar tak membantah lagi ucapannya.
"Baik yah, kita tunggu dulu. Tapi kalau Risna nangisnya tak berhenti - berhenti ibu akan langsung ke sana." kata ibu ku pada akhirnya menuruti ucapan ayah ku.
__ADS_1
"Hem..." kata ayah ku menjawab ucapan ibu ku dengan deheman saja sambil mengangukan kepalanya. Tanda bahwa ayah ku setuju dengan perkataan ibu ku.
Hening tak ada lagi pembicaraan di antara ayah ku dan ibu ku dan yang terdengar hanya lah suara Isak tangis dari diri ku, yang setiap tangisan nya itu bisa membuat siapa pun ikut larut dalam tangisan nya.
Seperti ibu ku saat ini. Sekitar lima menit ia melihat aku menangis air matanya masih tak keluar tapi setelah lebih dari lima menit. Ibu ku malah larut juga dalam tangisannya itu.
"Hiks... hiks... hiks..." suara tangis yang ibu ku keluar kan saat ini.
Hingga membuat ayah ku pun mulai bertanya pada ibu ku.
"Bu kenapa nangis?" kata ayah ku pada ibu ku.
"Em... apa yah, ibu nggak nangis ko cuman kemasukan debu aja yah." kata ibu ku mencoba menyembunyikan rasa sedih nya itu dari ayah ku.
"Ibu jangan bohongin ayah, ibu nangis kan bukan kemasukan debu. Jangan khawatir bu Risna pasti sembuh." kata ayah ku menjawab ucapan ibu ku.
"Iya yah ibu sebenernya khawatir dengan keadaan Risna yah. Hiks... hiks... hiks... maafin ibu yah yang bohongin ayah." kata ibu ku menjawab ucapan ayah ku di iringi dengan isak tangis.
__ADS_1
Next Episode...
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸