
"Hiks... hiks... hiks... mamah jangan kaya gini lagi. Aku mohon mah, aku ingin mamah kaya dulu lagi. Hiks... hiks... hiks..."
"Bukankah mamah dulu yakin bahwa adek pasti kembali. Kenapa sekarang mamah jadi kaya gini. Apa yang mamah takut kan, inget mah... mamah masih punya aku, nenek, kakek, paman, bibi dan masih banyak lagi yang selalu mendukung mamah dan membantu mamah menemukan adek."
"Sekarang mamah jangan kaya gini lagi ya, aku sedih dan berapa banyak orang juga yang merasa sedih melihat kondisi mamah."
"Apa mamah nggak kasihan melihat mereka sama - sama menangis melihat kondisi mamah."
"Satu hal yang harus mamah tau kami tak akan meninggalkan mamah dan kami akan selalu berada bersama mamah. Kita semua akan membantu mamah bertemu kembali dengan adek."
"Jadi jangan bersikap kaya gini lagi. Lawan semua rasa khawatir dan takut itu. Siapa pun wanita yang mamah maksud itu. Ketahui lah mah, itu hanya bayangan mamah saja."
"Karena kami di sini tidak ada yang melihat wanita yang mamah maksud sama sekali. Aku mohon berusaha lah mah untuk melawan rasa takut itu."
"Hiks... hiks... hiks..."
Aku yang mendengar perkataan putri ku menjadi luluh dan akhirnya aku merenungkan setiap kalimat yang di ucapakan putri ku tersebut pada ku.
Ada rasa bersalah dan penyesalan setelah aku pikir - pikir kembali bahwa apa yang di ucapkan putri ku memang ada benarnya.
Aku tak seharusnya bersikap seperti ini. Tapi sebaliknya aku harus bisa melawan semua ini agar aku bisa menenangkan diri ku dan bisa sembuh kembali.
Tapi saat aku sudah yakin ingin melawan rasa ketakutan itu. Lagi dan lagi aku mendengar suara tawa dari seseorang.
Entah itu siapa aku nggak tau sama sekali suara tawa itu berasal dari mana. Tapi semakin aku tak menganggap ada suara tawa itu.
Suara tawa itu malah semakin kencang terdengar di telinga ku.
"Hahaha... hahaha... hahaha..." Suara tawa yang terdengar sangat nyaring di telinga ku.
Ku lepas lah pelukan putri ku dari ku. Lalu pandangan ku mulai mencari suara tawa itu berasal dari mana.
Sampai dimana akhirnya aku menemukan suara tawa itu berasal dari luar jendela. Lalu aku mulai menghampiri jendela lebih dekat lagi.
Deg...
__ADS_1
Di luar jendela wanita dan laki - laki itu menertawakan ku. Bahkan wajah mereka sangat membuat ku marah.
"Berhenti... jangan tertawa lagi. Apa belum cukup kalian membuat aku seperti ini hah... jawab..." kata ku sambil menutup kedua telinga ku dengan kedua tangan ku.
Putri ku lalu berucap lagi pada ku.
"Mamah ada apa? kenapa mamah berbicara seperti itu. Di sini nggak ada yang ketawa mah."
"Diam... kamu. Apa kamu nggak bisa liat apa? di sana ada dua orang yang menertawakan ku. Liat lah aku sangat ingin mencakar wajahnya." kata ku pada putri ku dengan sangat kesal.
"Mana mah nggak ada siapa - siapa. Tolong mah sadar nggak ada yang menertawakan mamah."
"Kau buta atau gimana? dua orang itu masih menertawakan ku. Argh... argh... hentikan... jangan menertawakan ku lagi."
"Hahahaha... hahaha... hahahaha..."
"Argh... argh... argh..."
"Mah sadar mah sadar (kata putri ku sambil menyentuh tubuh ku) di sana nggak ada siapa - siapa."
"Argh pergi sana, aku nggak mau mendengar ucapan mu lagi. Pergi argh... aku bilang pergi..."
"Argh... pergi... argh... pergi. Kalau kamu nggak mau pergi aku akan lompat dari sini." kata ku sambil berdiri di jendela.
"Jangan mah, baik lah aku akan menjauh dari mamah tapi mamah turun ya dari sana."
"Jangan mengatur ku karena aku suka berada di atas sini."
"Mah nanti mamah jatuh"
"Aku nggak peduli aku jatuh atau pun nggak karena aku nyaman berada di sini."
Beberapa menit kemudian aku mulai akan turun dari atas jendela. Putri ku yang melihat ku akan turun merasa lega.
Saat aku mulai turun entah kenapa keseimbangan tubuh ku tak sesuai dugaan ku. Karena aku malah hampir jatuh keluar dari jendela.
__ADS_1
Tapi beruntung aku tak terjatuh karena ada seseorang yang memegang tangan ku. Dan ya seseorang itu adalah putri ku.
Disaat putri ku membantu ku turun dari jendela. Entah kenapa keseimbangan tubuh putri ku malah tak baik.
Mungkin karena berat badan ku yang tak seimbang dengan berat badannya lah yang menyebabkan tubuh putri ku menjadi kelimpungan.
Ia yang telah membantu ku dengan sekuat tenaga berhasil membuat aku masuk ke dalam ruangan ku, tapi malah tubuh putri ku yang keluar dari jendela secara tiba - tiba.
Dan...
Bruk...
Tubuh putri ku sudah berada di bawah dan tak hanya itu darah pun keluar dari kepala putri ku begitu banyak.
Aku yang belum menyadari hanya terdiam mematung menyaksikan tubuh putri ku yang berlumuran darah.
Seketika semua orang yang ada di luar jendela berkerumun melihat putri ku.
Sementara ayah ku, ibu ku, Sinta, ibu nya Sinta, dokter dan perawat yang ada di ruangan ku mereka langsung histeris melihat kejadian tak terduga itu.
Ada yang langsung lari melihat putri ku dari atas jendela, ada juga yang langsung lari menemui putri ku dibawah sana.
Dan aku orang yang pertama kali melihat putri ku terjatuh malah mematung tak bisa berkata - kata lagi.
Yang ada hanya air mata ku yang terus menerus keluar tanpa henti. Pikiran ku entah berada di mana tapi perasaan ku aku keluarkan dengan sebuah air mata yang tak henti - hentinya menetes.
The End...
Makasih buat para readers yang udah baca cerita ini dari awal sampai akhir selalu setia menunggu up nya.
Buat kalian yang masih penasaran nanti akan ada season 2 nya ko.
Sampai Jumpa di season 2
Makasih🤗
__ADS_1
Sambil nunggu Season 2 nya, yuk mampir juga ke novel ke tiga nya author. Judulnya : Menunggu Penantian Tanpa Batas
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸