
Ketika aku sampai di rumah aku terdiam tanpa ada reaksi apa pun. Rasa itu seperti rasa yang tak ingin ku utarakan kepada siapa pun itu.
Hingga aku tanpa sadar tertawa, kemudian detik berikutnya bersedih, dan menit berikutnya aku pun mulai bicara sendiri dilanjut lagi mulai melempar benda apa aja yang ada di dekat ku ke sembarangan arah.
Lalu berikutnya aku berteriak - teriak dan menggaruk - garuk kepala ku sambil menangis tak terkendali. Kondisi ku yang seperti ini pun membuat semua keluarga ku merasa iba dan prihatin serta sedih dibuatnya.
Karena biasanya mereka melihat aku seperti orang yang tanpa beban dan selalu ramah kepada siapa pun serta terbuka pada siapa pun.
Namun kali ini aku masih bungkam tak ingin memberitahukan masalah dan penyebab aku jadi seperti ini. Karena mustahil keadaan ku sudah sangat kacau aku bahkan sudah tak bisa mengenali diriku sendiri.
Setelah aku puas berteriak - teriak aku lalu mulai menyakiti diri ku sendiri dengan memukul, mencakar dan banyak lagi yang ku perbuat pada tubuh ku ini.
__ADS_1
Sampai tubuh ku tampak sangat mengerikan. Karena banyaknya darah dan goresan - goresan di tubuh ku ini atas apa yang diperbuat ku.
Kemudian setelah aku puas melampiaskan kemarahan ku, aku lalu terjatuh pingsan karena lelah dengan semua ini. Selain lelah karena teriak - teriak aku juga lelah dengan kenyataan yang aku terima saat ini.
Lalu keluarga ku menghampiri ku yang terjatuh pingsan. Dan membawaku ke kamar ku untuk membuat aku sadar kembali dan memberikan ku obat agar ketika aku terbangun aku bisa mengontrol kembali emosi ku.
Luka - luka pada tubuh ku pun sudah di bersihkan dan di obati. Yang kini sudah banyak terdapat perban - perban dalam tubuhku untuk membalut luka di tubuh ku.
Mereka lalu mulai mencoba memberikan solusinya dan hingga akhirnya keputusan dari pembicaraan itu pun sudah di putuskan. Bahwa aku akan di masukkan ke sebuah rumah sakit jiwa di daerah sekitar tempat tinggal ku.
Agar aku dapat kembali pulih. Mengapa mereka memutuskan aku ke tempat itu. Itu karena mereka takut aku bisa saja menyakiti orang - orang yang berada di sekitar ku. Apalagi mereka takut kalau aku akan menyakiti putri kecil ku.
__ADS_1
Tak kala nanti aku di tinggal berdua di rumah sama putri ku. Hingga akhirnya keputusan itu pun di sepakati oleh mereka.
Ketika ku terbangun dari pingsan ku. Aku merasakan pusing di kepala ku. Di tambah lagi sakit di sekujur tubuh ku akibat luka yang ku buat sendiri di tubuh ku ini.
Aku mengedarkan penglihatan ku ke sekeliling kamar ku ini. Lalu aku teringat tentang laki - laki itu yang mana dia pernah berada di kamar ini.
Mengingat perlakuan manisnya dulu kepada ku. Membuat aku pun tersenyum dengan sendirinya, namun di menit berikutnya di saat aku mengingat perlakuan dia kepada ku di saat aku telah melahirkan bayinya. Dia menghianati ku, mencaci ku, dan memisahkan aku dengan putra ku yang belum ku lihat wajahnya sama sekali. Bahkan hanya untuk mendekap dan memeluknya pun aku tak di beri kesempatan olehnya.
Next Episode...
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1