
Hari demi hari telah dilalui. Kini aku sedang memeriksakan kandungan ku yang sudah menginjak usia tujuh bulan.
Ku lihat pasien - pasien yang lain yang sama - sama ingin memeriksakan kandungan. karena ku lihat keadaan mereka yang sama - sama sudah hamil besar.
Namun disini bedanya adalah aku yang hanya datang seorang diri tanpa ditemani suami ku. Sedangkan mereka, mereka ditemani oleh suami mereka masing - masing.
"Ya ampun kapan ya aku seperti mereka. Bisa di anter sama suami ku. Tapi kayanya mustahil, bahkan suami ku pun tak pernah pulang sama sekali." kata ku dalam hati setelah melihat pasien lain yang di antar suami mereka.
Ada yang dielus perut istrinya, ada yang lagi bicara sama bayinya dan ada juga yang mendebatkan jenis kelamin bayi mereka itu.
Iri mungkin inilah yang ku rasakan saat ini. Aku iri melihat mereka yang begitu di perhatikan oleh suaminya, di sayang suaminya, dicintai dan di jaga dengan begitu baik oleh suaminya. Dan yang paling utama suami mereka rela memberikan waktunya hanya sekedar untuk menemani dan mengetahui keadaan bayi mereka tersebut.
Tapi aku seperti tak akan pernah merasakan itu. Bahkan untuk mendengar suara suami ku pun tak pernah ku rasakan saat ia tak pulang - pulang setelah satu minggu pernikahan kami itu.
Disaat aku ngidam saat usia kandungan ku menginjak lima bulan. Yang mungkin hal yang mudah untuk dilakukan, karena ngidam yang ku inginkan hanya di peluk oleh suamiku walau itu hanya semenit tapi itu bisa membuat ku bahagia.
Namun, aku pendam dalam - dalam keinginan ngidam ku itu. Karena aku seperti tak memiliki keberanian untuk meminta pulang suamiku kepadaku hanya untuk meminta pelukan saja.
__ADS_1
Takut dan berbagai pikiran negatif pun tak henti - hentinya ku sematkan kepada suami ku itu. Takut dia marah, takut dia ngga mau memenuhi keinginanku dan banyak lagi yang memenuhi isi kepalaku itu. Saat aku menginginkan ia untuk sekedar memelukku Kala itu.
Saat aku terlalu larut dalam pikiran - pikiran ku itu. Panggilan atas nama diriku pun menyadarkan ku bahwa kini adalah giliran ku untuk memeriksakan kandungan ku ini.
"Ibu Risna" panggilan dari sumber suara yang memberitahukan bahwa kini saatnya aku masuk untuk memeriksa kandungan ku.
Aku lalu masuk kedalam dan mulai di periksa oleh dokter.
"Ibu ini bayinya, keadaannya saat ini baik dan sehat. Perkembangannya juga sudah semakin terlihat." kata dokter memberitahukan ku kondisi bayi ku saat ini.
"Iya bu" kata dokter menjawab ucapan ku.
Setelah selesai pemeriksaan kandungan dan kondisi diriku dan bayiku baik - baik saja. Aku pun kemudian langsung kembali pulang kerumah.
Dua bulan kemudian, kehamilanku sudah mau memasuki lahiran. Berbagai persiapan pun sudah aku dan keluarga ku siapkan untuk menyambut kelahiran bayi ku ini.
Sampai dimana kini aku telah berada di ruang persalinan karena beberapa menit yang lalu aku mengalami kontraksi. Alhamdulillah tak lama setelah kontraksi itu aku langsung pembukaan sempurna yang mana ini merupakan pembukaan yang bayi akan keluar dengan sendirinya tanpa menunggu pembukaan awal terlebih dahulu.
__ADS_1
Yang biasanya di alami ibu hamil yang mau melahirkan anak pertama mereka. Tetapi aku beruntung tak mengalami hal itu. karena saat aku sampai disini bayi ku akan siap memulai hidup barunya ini.
Aku sempat merasa tak percaya diri atas diriku ini. karena tak adanya suami ku yang mendampingiku saat aku berjuang melahirkan bayinya ini. Namun keluarga ku tak henti - hentinya memberikan ku semangat dan dukungan atas apa yang terjadi pada diriku ini.
"Seandainya mas kamu ada di sini. Menemani ku saat bayi kita lahir. Walau saat mengandung kamu tidak menemani ku. Setidaknya saat melahirkan aku ingin kamu ada mas." kata ku yang sepertinya hanya sebuah harapan saja tanpa sebuah kenyataan.
"Nak kamu pasti bisa melewati ini semua. Yakin bahwa kamu dan bayi mu pasti selamat ya." kata ibu mencoba menyemangati ku.
"Iya nak di sini ada ayah dan ibu serta keluarga mu yang menunggu kabar baik, maka berjuang lah." kata ayah pada ku.
Karena dukungan mereka lah akhirnya aku mau berjuang dan memiliki semangat untuk selalu menemani, merawat dan mendidik bayiku ini seorang diri tanpa ada suami ku yang tak perlu ku pikirkan.
Fokus ku saat ini adalah tegar menghadapi apa yang menimpa kepada ku atas perbuatan tak bertanggung jawab suami ku itu.
Next Episode...
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1