
Aku dan putri ku pun memutuskan untuk pulang. Sekitar satu jam lebih beberapa menit aku dan putri ku telah sampai di rumah.
Seperti biasa putri ku selalu tidur di sofa setelah jalan - jalan. Hingga kebiasaan itu kerap kali ia lakukan ketika pulang dari jalan - jalan.
Sementara aku langsung pergi ke kamar ku. Di saat aku telah berada di dalam kamar. Aku lalu merenungkan kejadian saat dimana aku melihat wanita itu.
"Em... apa tadi itu dia. Kalau iya berarti dia tinggal di sekitaran sini, tapi kalau bukan harapan dan keinginan ku agar bisa bertemu putra ku makin sedikit. Udah lebih dari sepuluh tahun aku tak bertemu dengan wanita itu. Kini hari ini siapa pun wanita itu tadi aku ingin dia kembalikan putra ku. Hiks... hiks... hiks..." renungan ku di kala aku mengingat kejadian itu. Sampai tak kuasa aku pun mengeluarkan air mata ku.
Sangat pilu dan sedih ku rasa bila mengingat peristiwa di ambil paksa nya putra ku oleh suami kedua ku dan istri pertamanya dari ku.
Sudah aku di bohongi dengan status istri satu - satunya. Tapi ternyata aku istri keduanya. Di tambah lagi putra yang ku lahir kan pun mereka ambil dari ku.
"Apa salah ku? kenapa nasib ku seperti ini? apa aku pantas di bilang p.....r dan j....g? saat aku nggak tau apa - apa tentang status asli suami ku dulu. Mengingat perkataan wanita itu dulu membuat aku sangat sedih." suara hati ku saat aku menangis mengingat semua itu.
Ini adalah luka lama namun luka ini masih membekas dan melekat dalam diri ku. Rasa cemas dan kekhawatiran aku rasakan saat ini. Ketegangan pun terjadi saat aku mulai tak bisa mengendalikan diri ku.
__ADS_1
"Argh... argh... "
Suara teriakan ku yang tak terkendali. Sampai - sampai putri ku yang sedang tertidur pun seketika terbangun dari tidurnya. Tak kala ia mendengar teriakan ku.
"Eng... suara apa tuh" kata putri ku yang terbangun berbicara pada dirinya sendiri.
"Argh... argh... argh..."
"Prank... prank... prank..."
"Ah... mamah... Mamah" teriak histeris putri ku memanggil ku sambil berlari dengan cepat menuju kamar ku.
Ketika putri ku telah sampai di depan pintu kamar ku. Ia terlebih dulu mengatur napas nya yang tak beraturan karena berlari.
"Huh... huh... huh..."
__ADS_1
Beberapa detik setelahnya ia pun mulai mengetuk pintu kamar ku sambil memanggil - manggil aku.
"Tok... tok... tok.."
"Mah... mamah... buka pintunya"
Tak ada jawaban sama sekali sampai akhirnya ketukan pintu itu pun berubah menjadi gedoran yang kencang.
"Dor... dor... dor..."
"Mah... mah... buka ini aku mah... Hiks... hiks... hiks... mah aku mohon buka mamah jangan kaya gitu mah... sadar... mah... sadar... tenangkan diri mamah... hiks ... hiks... hiks..." kata putri ku mencoba menyadarkan aku sambil ia pun tanpa di minta langsung meneteskan air matanya.
Samar - samar di alam bawah sadar ku aku mendengar suara seseorang saat kemarahan ku tak bisa ku kendalikan. Suara itu mencoba agar aku tak seperti ini. Tapi aku nggak tau suara siapa itu yang telah berusaha menyadarkan dan meredakan kemarahan ku ini.
Next Episode...
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸