
Setelah ibu merespon ucapan ku. Seketika aku pun mulai bersedih.
"Hiks... hiks... hiks..."
Suara tangisan ku yang terdengar sangat pilu. Hingga membuat ibu, ayah dan putri ku menjadi aneh dengan cepatnya perubahan yang ku tunjukkan pada mereka saat ini.
"Nak kamu kenapa? ko nangis" kata ibu yang langsung bertanya pada ku.
"Mamah jangan nangis. Aku nggak mau liat mamah nangis. Hiks... hiks... hiks..." kata putri ku pun berucap pada ku.
Sementara ayah hanya menunggu jawaban yang akan aku ucapkan untuk menjawab ucapan ibu dan putri ku.
"Bu wanita itu udah ambil putra ku dari ku bu. Hiks... hiks... putra ku... hiks..." kata ku memberitahu ibu mengapa aku menangis.
"Sudah nak ibu dan ayah akan ambil lagi putra mu dari wanita itu. Sudah ya jangan nangis lagi." kata ibu mencoba menenangkan aku.
__ADS_1
"Iya nak ayah pasti akan bantu kamu mengambil putra mu dari wanita itu." kata ayah pun sama mencoba meyakinkan ku.
"Ibu sama ayah nggak bohongin aku kan buat bantu aku ambil lagi putra ku dari wanita itu." kata ku yang ingin memastikan kebenaran ucapan dari ibu dan ayah ku.
"Iya nak ibu nggak bohong. Karena putra mu adalah cucu ibu juga. Dan itu artinya ibu pun harus bisa bantu kamu mengambil lagi putra mu." kata ibu dengan yakin.
"Ayah pasti akan bantu kamu mengambil lagi putra mu dari wanita itu." kata ayah sangat meyakinkan aku.
Hingga akhirnya aku pun percaya dengan ucapan yang di berikan pada ku dari ibu dan ayah ku.
Namun, setelah itu aku malah kembali histeris tak terkendali.
Bahkan tak hanya itu, posisi ku yang awalnya duduk di ranjang. Kini telah melompat dari ranjang turun ke lantai dengan berdiri tegap.
Berlari ke sana kemari layaknya orang yang sedang kejar mengejar. Tapi bedanya aku hanya mengejar bayangan yang ku liat adalah bayangan wanita itu.
__ADS_1
Seakan - akan wanita itu nyata sedang berada di hadapan ku. Memberi ku wajah mengejek nya hingga akhirnya aku pun mulai tak bisa menahan emosi ku lagi.
Sampai di mana aku berhenti di ranjang ku. Karena seolah - olah wanita itu terhimpit tak bisa pergi ke mana - mana lagi.
Hingga guling yang berada di ranjang ku pun aku bayangkan guling itu sebagai wanita itu. Lalu memukulnya dengan sekuat tenaga ku.
Buk... buk... buk...
"Mati kau wanita tak tahu diri. Sekarang kau kasih tau aku sebelum kau mati. Kasih tau aku di mana putra ku. Putra ku di mana. Hah... jawab bukan hanya diam saja atau cekikan yang ku berikan ini pada mu tak akan ku lepaskan." kata ku sambil menekan dan mencengkram gulung di kamar ku dengan kencang dan keras.
Sedangkan ibu, ayah dan putri ku mereka hanya bisa menyaksikan tingkah ku ini dengan rasa iba dan sedih.
Keadaan ku ini sangat di luar kendali. Saat di mana aku dinyatakan sembuh beberapa tahun lalu.
Tapi kini penyakit kejiwaan ku kembali lagi. Hanya karena aku melihat wanita itu sekilas. Namun, sangat berefek mengakibatkan kejiwaan ku kembali terguncang.
__ADS_1
Next Episode...
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸