
Disinilah aku dan suamiku duduk menunggu panggila untuk memeriksakan kehamilan ku ini.
Dilihatkan sekeliling banyak pasien - pasien lain yang sama - sama sedang menunggu panggilan. Ada yang perutnya masih sama sepertiku kecil dan ada juga yang sudah besar dan seperti tinggal menunggu lahiran.
Dan disini jugalah aku mengenang masa - masa kehamilan ku dulu. Masa dimana aku hanya duduk menunggu panggilan itu seorang diri atau terkadang ibu menemaniku untuk memeriksakan kondisi bayiku kala itu.
Di kursi paling pojok itulah yang sering ku duduki saat hamil pertama ku. Karena hanya tempat itulah yang pas untuk aku yang hanya seorang diri tak ada yang menemani dan tak perlu melihat kedua sisi tempat dudukku.
Tak kala semisalnya aku duduk di kursi bagian tengah. Aku pasti akan merasa sedih, karena disisi kanan dan kiri tak pernah lepas dari pasien lain yang di temani keluarganya atau bahkan suami mereka yang mana itu membuat aku merasa tak seberuntung mereka.
Ketika aku larut dalam ingatan saat hamil pertamaku. Panggilan dari perawat atas namaku pun akhirnya datang. Aku bersama suamiku pun masuk kedalam ruangan.
Setelah masuk aku dan suami duduk berhadapan dengan dokter yang akan memeriksa kondisiku. Dokter kemudian bertanya kepadaku apa keluhannya dan tak lupa juga menanyakan terakhir aku datang bulan.
Setelah ku jawab pertanyaan dari dokter aku pun kemudian di suruh untuk merebahkan diri untuk melakukan pemeriksaan yang lebih akurat.
__ADS_1
Ketika semua pemeriksaan selesai aku dan dokter pun duduk kembali. Kemudian dokter memberitahukan aku dan suamiku kalau memang ada bayi di dalam rahimku saat ini. Dan usia kandungannya jalan tiga minggu.
Tak lupa kami pun bertanya apa aja kegiatan, makanan, minuman yang harus dihindari atau yang jangan dihindari.
Setelah puas dengan saran - saran dari dokter kami pun kembali pulang ke rumah.
Tak henti - hentinya suamiku mengucapkan terimakasih selama dokter memberitahukan keadaan ku tadi sampai di rumah pun ia masih mengucapkan kata itu.
Apa sebegitu bahagianya kah ia mendengar kabar ini. Dan sebegitu berharapnya kah ia selama ini ingin segera mendapatkan kabar ini. Yang kini ia bisa lega karena sebentar lagi ia akan memiliki seorang anak kandung.
Lega aku dibuatnya saat ia bilang kalau putriku juga putrinya. Disitulah aku mulai tak khawatir lagi kalau - kalau ia nanti membedakan kasih sayangnya.
Hari - hari ku tak kala ia tau tentang kehamilanku ia seperti tak ingin ada satu hal pun yang tak terpenuhi atas apa yang ku inginkan.
Aku sempat ingat saat aku ingin makan anggur hijau. Dimana saat itu belum musimnya berbuah. Tapi aku malah memintanya untuk membawakan anggur itu saat keinginanku itu muncul.
__ADS_1
"Mas, aku boleh minta sesuatu nggak sama kamu" kata ku pada suami ku.
"Kamu mau minta apa sayang" kata suami ku menjawab ucapan ku dengan tenang dan lembut.
"Aku ingin makan anggur hijau. Kamu bisa bawakan anggur hijaunya kan mas buat aku." kata ku dengan sedikit ragu meminta keinginan ku itu pada suami ku. Namun, akhirnya aku tetap meminta keinginan ku itu pada nya.
"Boleh sayang. Nanti aku bawain ya anggur nya" kata suami ku mengiyakan keinginan ku. Dan langsung bergegas mencari buah anggur itu.
Aku pun langsung menjawabnya dengan anggukan kepala.
Ia pun sampai mencari tanpa mengeluh dari pagi menjelang malam ia tak kunjung pulang kerumah. Aku sempat khawatir kalau terjadi sesuatu kepadanya.
Ku telpon lah ia menanyakan kondisi ia baik baik saja, dan posisi ia saat itu. Ia pun menjawab pertanyaan ku itu dan berjanji tak akan pulang sebelum keinginan ku bisa ia penuhi.
Next Episode...
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸