Status Yang Tak Pernah Ku Inginkan

Status Yang Tak Pernah Ku Inginkan
Acara Penyambutan


__ADS_3

Setelah puas memeluk tubuh kecil ini. Aku pun dan semua keluarga ku berpamitan pada perawat dan dokter yang telah merawatku dengan baik hingga aku sembuh dari kejiwaan ku ini.


Langkah kaki pun sampai di depan sebuah ruangan yang mana di sana terdapat berbagai orang yang dengan ikhlas dan sabar merawat dan mengobati kami.


Orang - orang yang berjuang sembuh dari kejiwaan yang kami derita. Mereka orang - orang yang selalu berperan menjadi orang yang memotivasi kami agar selalu berkeinginan sembuh dari kejiwaan kami.


Mereka juga berperan sebagai teman kami dalam ke seharian kami selama berada di sini. Ditempat yang akan membuat kami kembali sembuh baik itu sembuh dengan cepat atau lambat.


Tetapi mereka tetap setia merawat kami. Hingga rasa bersyukur dan terima kasih pun tak luput mereka dapatkan dari orang - orang yang telah sembuh dari kejiwaannya.


Dan selain itu, mereka pun mendapatkan beribu - ribu terima kasih dari keluarga yang telah membuat anggota keluarganya bisa sembuh di sini.


Setelah usai mengucapakan terimakasih. Aku dan keluarga ku pun pergi dari rumah sakit ini untuk kembali ke rumah kami.

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang ke rumah kami. Suasana perjalanan pun tak sesepi waktu aku di bawa ke rumah sakit tahun lalu.


Suara - suara yang di keluarkan dari mereka. Tak luput dari tawa kegembiraan yang kami rasakan. Hingga tak terasa waktu perjalanan yang panjang pun akhirnya kami telah sampai di rumah kami.


Ku gendong putriku saat aku keluar dari mobil, yang aku tumpangi dan keluarga ku pun melakukan hal yang sama keluar dari mobil tersebut .


Dilihat lah sekeliling tempat tinggal ku masih sama seperti dulu. Hanya ada beberapa yang berbeda di tempat tinggal ku.


Sambutan kecil dari keluarga ku pun aku dapatkan. Dan ini membuat aku tanpa sadar mengeluarkan air mata bahagia karena mereka masih peduli terhadap ku.


Walau dalam penyambutan itu. Masih ada orang - orang yang membicarakan ke burukkan terhadap ku. Namun aku hanya membiarkannya saja sesuka hati mereka.


Karen percuma kalau misalnya aku menghadapi mereka bukan kah itu tandanya sama saja aku dengan mereka. Jika aku menghadapi ucapan mereka.

__ADS_1


Pelukan - pelukan dari mereka pun tak luput ku dapatkan. Setelah usai acara penyambutan itu. Kini aku langkahkan kaki ku ke dalam kamar ku.


Kamar yang selama setahun ini aku tinggalkan. Kamar yang kini ku masuki juga adalah kamar yang laki - laki itu pernah di tempati nya.


Kenangan - kenangan itu pun muncul. Kenangan di masa saat itu aku mendapatkan kabar bahagia kehamilanku. Dan hari - hari yang ku lewati saat aku hamil anak ke dua ku.


Namun, sayangnya aku tak pernah melihat wajahnya, menggendongnya, memberikan kasih sayang untuknya dan masih banyak lagi yang tak pernah ku dapati dari kehamilan kedua ku ini.


Hingga saat akhirnya air mata ini pun kembali keluar di kelopak mata ku dengan sangat pilu. Karena rasa kangen, rindu, dan inginnya aku melihat putra yang ku lahirkan.


Bagaimana ia saat ini. Apakah sudah bisa bicara, sudah bisa merangkak, atau bahkan sudah bisa berjalan. Dan apakah giginya sudah tumbuh atau belum. Hingga aku pun hanya bisa membayangkan itu semua karena aku tak tahu keberadaan putra ku itu saat ini.


Next Episode...

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2