Status Yang Tak Pernah Ku Inginkan

Status Yang Tak Pernah Ku Inginkan
Menghapus Air Mata


__ADS_3

Aku dan putri ku pun merasa sangat bahagia. Tak terasa sudah lebih dari lima belas menit kami berada di taman ini.


Dan semakin berjalannya waktu, pengunjung yang datang ke taman ini juga semakin banyak.


Hampir memenuhi semua bangku yang ada di taman ini. Dan berbagai macam pengunjung ke taman ini.


Seperti pengunjung yang hanya datang sendiri, bersama pacarnya, sahabatnya atau bahkan bersama keluarganya.


Seperti yang ku lihat saat ini. Sebuah keluarga kecil yang sedang membawa anak mereka untuk belajar jalan di taman ini.


Sampai aku teringat tak kala putri kecil ku dulu yang seusia dengan anak keluarga itu. Yang saat itu putri ku pun masih sama sepertinya.


Belum bisa belajar dan masih mencoba untuk melangkah sedikit demi sedikit. Lalu terkadang ia pun akan terjatuh jika ia tak bisa menyeimbangkan dirinya.


Namun, disaat ia akan terjatuh maka tangan ku lah yang dengan sigap menahan agar putri ku tak terjatuh dan menangis.

__ADS_1


Tapi di sini aku merasa sedih melihat kenangan itu. Bagaimana tidak, dulu putri ku sama sekali tak pernah merasakan perlindungan hangat dari papanya.


Tak seperti anak itu yang saat ini sangat - sangat di lindungi oleh papanya. Bahkan sepertinya jika anak itu jatuh papanya akan langsung sigap memberikan pertolongan buatnya.


Sampai - Sampai aku tak menyadari air mataku menetes dengan sendirinya. Lalu ketika ku sadar ada cairan bening yang ke luar dari kelopak mata ku.


Aku lalu buru - buru menghapus air mata itu. Agar putri kecil ku tak melihat bahwa aku kini sedang bersedih.


Pandangan ku pun aku alihkan ke yang lainnya. Namun, aku sepertinya salah lagi mengalihkan pandangan.


Mengapa bisa? itu karena aku melihat remaja - remaja seusia ku yang sedang berbincang - bincang. Banyak sekali canda tawa yang mereka tunjukkan.


Masih terbebas dari sebuah ikatan dan masih ingin menjelajahi setiap hal yang membuat mereka penasaran ingin mengetahuinya.


Semua itu sudah Tak ada lagi buat ku. Karena aku malah harus belajar bagaimana membesarkan putriku tanpa adanya sosok papa si samping putri ku.

__ADS_1


Dan itu pun seketika membuat aku meneteskan kembali air mataku. Sedih itulah yang ku rasakan saat ini.


Lalu aku pun mengalihkan kembali pandanganku ke pasangan yang sedang bermesraan di ujung taman ini.


Pasangan yang sepertinya tak menghiraukan pandangan orang. Karena mungkin mereka beranggapan bahwa dunia ini milik mereka dan orang lain hanya numpang saja.


Tapi dulu aku pun mengalami hal yang sama seperti mereka. Bahkan aku sampai keterlaluan dan terlalu jauh berpacaran nya.


Hingga membuat aku harus mengalami kondisi ku saat ini. Mengurus putri ku, pendidikannya, keperluannya, keinginannya agar selalu terpenuhi.


Dengan keadaan ku yang sendiri untuk membesarkan putri ku tanpa ada sosok suami yang mendampingi ku ini.


Maka aku harus semangat dan tak boleh mengeluh demi kebahagiaan putri ku ini. Tapi air mata ku pun tak henti - hentinya mengalir ketika aku membayangkan penyesalan yang ku lakukan kala itu.


Tapi aku lalu tersadar aku tak boleh seperti ini. Aku harus bisa bangkit untuk membahagiakan putri ku ini.

__ADS_1


Next Episode...


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2