
Di lain tempat, tepatnya di perjalanan menuju ruangan ku. Putri ku, Sinta dan ibu nya Sinta. Kini mereka hampir sampai ke ruangan ku.
"Sin, kita lomba yuk"
"Lomba apaan sih"
"Em... (terdiam sejenak untuk memikirkan lomba apa yang tepat untuk mereka lakukan saat ini) lomba lari." kata putri ku setelah terdiam pada Sinta.
"Hah... lari, kamu ya ada - ada aja. Mau lari dimana?"
"Ya di sini lah Sin"
"Masa iya di sini. Ini kan bukan lapangan emangnya boleh gitu."
"Ih... bukan lari beneran maksud aku tuh jalan nya di cepetan aja. Kaya gitu. Mau kan Sin kamu."
"Oh gitu ya, aku kira lari kenceng. Ya udah deh siapa takut. Kita mulai kapan?"
"Lusa"
"Hah... lusa, ya terus kalau lusa kenapa di kasih tau nya hari ini."
"Ya kamu sih Sin. Nanyanya itu yang udah jelas - jelas aku ngajakin nya hari ini, ya masa lusa lomba larinya. Kan aneh."
"Hehehe... becanda kali. Kamu nih baperan terus dari tadi."
"Kapan aku kaya gitu, ko aku nggak tau ya"
"Ya udah deh lupain aja. Terus ini gimana aturan lomba nya."
"Jadi gini siapa yang lebih dulu sampai di depan ruangannya mamah aku itu pemenangnya, gimana setuju nggak?"
__ADS_1
"Oke setuju"
"Kalau gitu aku hitung sampai tiga ya"
"Oke"
"Satu... dua... ti... Ih... Sin ko kamu curang sih. Ini kan aku belum bilang tiga ko udah lari duluan."
"Ya kan biar aku menang, nggak papa curang sedikit juga. Ayo cepat kalahkan aku."
"Awas kamu Sin, aku pasti yang menang" kata putri ku sambil berjalan dengan cepat menyusul Sinta yang sudah lumayan jauh darinya.
Sementara ibu nya Sinta ia kini malah menggeleng - geleng kan kepala melihat tingkah kedua bocah itu.
"Mereka berdua ini ada - ada aja tingkah nya. Ckckck..."
Setelah itu ibu nya Sinta lalu melangkahkan kakinya juga menyusul putri ku dan Sinta yang sudah jauh.
"Huh... huh... huh... akhirnya sampai juga"
Tak berselang lama putri ku juga telah sampai di sana.
"Huh... huh... huh..."
"Yey... aku menang"
"Iya kamu menang Sin karena kamu pake cara curang."
"Nggak papa yang penting aku menang"
"Huh... curang"
__ADS_1
"Biarin"
"Kalian stop jangan ada yang bicara lagi" kata ibunya Sinta yang telah sampai di dekat putri ku dan Sinta.
Dengan otomatis putri ku dan Sinta, mereka berdua langsung terdiam. Tak ada yang bicara lagi.
Hening... sampai dimana mereka mendengar ada suara seseorang yang berteriak sangat keras.
"Argh... argh... pergi kalian... argh... aku bilang pergi... argh..."
"Mamah... itu mamah kan Sin, bentar - bentar deh kakek sama nenek kemana? apa itu bener suara mamah."
"Aku nggak tau, tapi bisa jadi itu suara bibi Risna."
Putri ku tanpa bicara lagi ia langsung bergegas mendekati pintu ruangan ku.
Dan begitu terkejut nya putri ku saat melihat aku yang berada di dekat jendela sambil berteriak - teriak pada perawat dan orang orang yang ada di ruangan ku.
"Mamah..."
"Nek, kek, mamah kenapa?"
Ibu ku dan ayah ku sempat terkejut mendengar suara putri ku. Namun kemudian mereka berdua mencoba menjawab ucapan putri ku dengan tenang.
"Mamah kamu nggak kenapa - kenapa sayang. Sini kamu deket sama nenek biar dokter dan perawat yang tenangin mamah."
"Iya sini cucu kakek di dekat nenek dan peluk nenek."
"Nggak mau nek, nggak mau kek. Aku ingin tenangin mamah. Kenapa nenek sama kakek bohongin aku kalau mamah baik - baik aja. Tapi kenyataannya mamah seperti ini. Hiks... hiks... hiks... nenek sama kakek jahat... hiks... hiks... hiks..." kata putri ku pada ke dua orang tua ku sambil berderai air mata.
Next Episode...
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸