
Pagi pun tiba, Melati tiba-tiba merasa mual selepas bangun dari tidurnya. Melati langsung bergegas pergi ke kamar mandi.
"Semakin hari perutku akan semakin membesar jika aku tidak segera menikah dengan Akbar, bisa-bisa ayah akan curiga" gumam Melati.
Melati langsung membuat keputusan yang sangat membuat ayahnya terkejut dan bahagia. Melati langsung menemui ayahnya yang sedang sarapan pagi di dapur.
"Ayah ayah" ucap Melati.
"Ada apa nak, ayo sarapan dulu" jawab ayahnya.
"Ayah aku siap untuk menikah dengan Akbar kalo bisa minggu ini ayah" ucap Melati percaya diri.
"Apa?" ucap ayahnya sambil tersedak.
"Kamu serius nak? Kalo begitu ini adalah berita bagus ayah akan segera mengabari ayahnya Akbar, keluarga kita dan teman-teman ayah" tambah ayahnya lagi.
Melati merasa lega mendengar tanggapan ayahnya.
"Iya ayah Melati sudah tidak sabar untuk menikah dengan Akbar" ucap Melati sambil tersenyum.
"Sepertinya sebentar lagi ayah akan merasa kesepian" jawab ayahnya.
"Kok ayah ngomong gitu sih kan masih ada Bi Ijah di rumah, terus ayah kan juga masih bisa temuin Melati" ucap Melati.
"Iyah kamu benar juga nak, yasudah sekarang kamu ikut sarapan dulu" jawab ayahnya.
Setelah makan Melati langsung bergegas pergi ke kamarnya dan mengambil ponselnya yang berada di atas ranjang. Melati langsung menghubungi kak Ardha.
~Melati menelpon kak Ardha~
"Halo kak Ardha" ucap Melati.
"Iya Melati ada apa tumben telepon kakak pagi-pagi" jawab Ardha.
"Melati cuman mau beritahu, Melati akan segera menikah dengan Akbar" ucap Melati.
Ucapan Melati sontak membuat Ardha terkejut, karena wanita yang ia cintai akan menikah dengan orang lain.
"Kamu serius?" ucap Ardha.
"Iya kak emangnya ucapan Melati kayak becanda yah?" jawab Melati.
"Emm yaudah yah kakak mau jalan dulu" ucap kak Ardha langsung mematikan ponselnya.
Ayah Melati sangat merasa gembira karena akhirnya Melati benar-benar menyetujui akan pernikahan Melati dengan Akbar. Ayah Melati langsung menelepon ayah Akbar dan memberitahukan kabar gembira ini.
~Ayah Melati menelpon~
"Halo pak?" ucap ayah Melati.
"Ada apa pak? Suara bapak terdengar sangat senang sekali?" jawab ayah Akbar.
"Melati sudah setuju dengan pernikahannya dan juga Melati ingin pernikahannya dengan Akbar dilaksanakan minggu ini pak" ucap ayah Melati.
__ADS_1
"Bagus sekali itu pak saya akan segera membicarakannya dengan Akbar malam ini" jawab ayah Akbar.
"Baiklah pak saya tutup dulu telepon nya saya lagi banyak urusan" ucap Ayah Melati.
"Baik pak" jawab ayah Akbar lalu menutup telepon.
Melati rasanya seperti bermimpi dengan keputusan yang sudah diambil.
"Apakah aku akan benar-benar menikah dengan Akbar" ucap Melati sambil memegang pipinya dan bercermin.
"Tapi bagaimana dengan anak yang aku kandung ini, nanti bagaimana aku akan menjelaskannya kalau kelahirannya lebih dulu dari usia pernikahan kami" gumam Melati.
"Ya Tuhan aku yakin rencana yang Engkau buat adalah yang terbaik, aku mohon petunjuk Mu Tuhan" gumam Melati.
Malam ini ayah Akbar akan membicarakan soal pernikahan Akbar dan Melati.
~Malam hari di rumah Akbar~
"Akbar ada yang ingin ayah bicarakan dengan kamu soal pernikahanmu dengan Melati" ucap ayah Akbar.
"Iya ayah ada apa?" jawab Akbar.
"Pernikahan kamu dan Melati akan dilaksanakan minggu ini, ini semua permintaan Melati. Hmm sepertinya ayah rasa Melati sudah mulai menyukai kamu nak" ucap Ayah Akbar.
"Iyah ayah, Akbar akan menuruti keinginan ayah" jawab Akbar mengangguk.
"Baguslah kalo begitu, besok ayah akan menemui teman ayah untuk membicarakan tentang WO" ucap ayah Akbar.
"Iyah ayah" jawab Akbar singkat.
"Iyah Ayah apapun yang ayah katakan Akbar akan akan selalu menurutinya asalkan ayah bahagia" jawab Akbar.
~Pagi hari~
Melati pun bangun dari tidurnya dan segera mandi lalu pergi ke dapur.
"Good morning Bibi" ucap Melati sambil menebar senyuman.
"Eh non Melati, tumben non bangun pagi-pagi sekali" jawab Bi Ijah.
"Kok Bibi ngomong gitu sih Melati kan mau bantuin bibi masak di dapur" ucap Melati.
"Eh gak usah non ini kan sudah pekerjaannya bibi, nanti kalo non dimarahin bapak gimana?" jawab Bi Ijah sambil memegang keranjang belanja.
"Udah bibi tenang aja sekarang sini keranjangnya biar Melati yang beli sayurnya ke pasar" ucap Melati.
"Bibi mah gak beli di pasar non, bibi biasanya beli sama tukang sayur keliling" jawab Bi Ijah.
"Oh yaudah biar Melati aja yang beli sekarang bibi beres-beres rumah aja Bi, biar urusan dapur Melati yang urusin" ucap Melati.
"Jangan non nanti bibi dimarahin bapak" jawab Bi Ijah.
"Udah ah Bi gak papa, dadah Melati berangkat dulu yah" ucap Melati langsung mengambil keranjang belanja yang ada di tangan Bi Ijah, dan langsung pergi.
__ADS_1
"Sayur-sayur.........." ucap tukang sayur keliling.
"Bang Abang" ucap Melati sambil melambaikan tangannya.
"Eh iya neng" jawab tukang sayur.
"Sini bang saya mau beli sayurnya" ucap Melati.
"Eneng mau beli sayur apa, sok atuh dipilih. Semuanya tersedia, mau terong, wortel, kentang, bayam, pilih aja neng kalo bisa diborong yah neng" ucap tukang sayur.
"Iyah bang. Saya mau wortel terus sama kentangnya" jawab Melati.
Kemudian ibu-ibu tetangga pun datang karena mendengar suara teriakan tukang sayur yang membuat mereka lantas keluar rumah.
"Ada sayur apa bang hari ini" ucap salah satu ibu-ibu.
"Yah seperti biasanya lah Bu" jawab tukang sayur.
"Eh ada neng Melati, tumben banget belanja biasanya kan masih molor yah kan kan" ucap Bu Erni.
Melati diam saja tak menghiraukan ucapan Bu Erni.
"Tambahin ini juga yah bang dua" ucap Melati.
"Idih sombong amat neng Melati sekarang yah, cuman jadi pemandu karaoke aja bangga. Emangnya gak malu yah" ucap Bu Erni sambil tertawa.
"Husst, jangan gitu Bu Erni nanti neng Melati marah" jawab salah satu ibu-ibu sambil tertawa juga.
"Ibu-ibu bisa gak, gak usah urusin hidup orang lain. Emangnya anak kalian sudah benar yah kerjaannya, terserah saya lah saya mau kerja apa emangnya saya pernah mengusik kehidupan kalian? Gak pernah kan jadi gak usah yah urusin hidup saya" ucap Melati.
"Kenapa emangnya suka-suka saya lah. Makanya kalo tidak mau dibicarakan sama tetangga, kerjanya harus bener jangan jadi mainan laki-laki. Palingan entar lagi hamil duluan" jawab Bu Erni sambil tertawa puas.
"Sudah-sudah atuh kenapa jadi berantem di sini nanti habis lagi dagangan saya di acak-acak" ucap tukang sayur.
"Berapa semuanya bang?" ucap Melati.
"50 ribu aja neng" jawab tukang sayur.
"Ini bang" ucap Melati menyodorkan selembar uang kertas, lalu pergi.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG...