
"Kenapa sih sama aku. Padahal kan aku sedang marah sama Vian. Mengapa aku mau diajak Vian gituan sih. Mana aku yang lebih agresif lagi. Duhh, bodoh nya aku" Batin Cinta sambil memukul-mukul kepalanya.
"Kenapa Sayang. Kok mukul kepalamu sendiri ?" Tanya Vian binggung saat mendekati Cinta yang sedang menyiapkan makan malam.
"Ahh, gak papa" Kaget Cinta. Merekapun duduk dan mulai makan malam. Tapi nampaknya Cinta hanya mengaduk-aduk makanannya saja dengan tatapan polosnya itu.
"Kamu kenapa? Kok cuma diaduk aja makanya. Kamu sakit?" Tanya Vian sambil memegang dahi Cinta.
"Engak" Tolak Cinta.
"Hih, kenapa sih aku gak bisa biasah aja sama kejadian kemarin. Rasanya aku semakin kesal saat mengingatnya lagi. Dan mengapa aku bisa langsung luluh saat Vian menyentuh ku saja. Padahal saat sebelum Vian rasanya aku mau berubah jadi singa saja sangking marahnya. Aku ini sebenarnya bodoh, tolol apa gimana sih. Lemah banget. Dulu saat sama Bara gak gini amat, ini kenapa aku bisa gini sih. Aneh banget" Batin Cinta lagi.
"Sayang, habis ini aku izin ke rumah Papa sebentar ya. Tadi Papa telvon ingin menanyakan soal kerjaan buat besok pagi-pagi sekali. Kamu jangan tunggu aku yaa, kamu tidur aja dulu. Mungkin aku akan pulang larut malam" Pamit Vian.
"Ohh, oke" Singkat Cinta.
"Lagi? Hah, terserah deh" Batin Cinta sambil tersenyum pahit.
"Aku udah kenyang. Aku kekamar dulu " Ucap Cinta tanpa melihat kearah Vian.
"Cinta kenapa sih. Tadi pagi masih baik-baik saja. Kenapa moodnya sekarang begini lagi" Batin Vian binggung.
"Bik.... Tolong dibersihkan yaa. Nyonya sedang gak enak badan" Ucap Vian kepada pembantunya.
"Baik Tuan"
"Apa mungkin Cinta lagi dapet yaa mangkanya moodnya jelek?" Batin Vian lagi.
"Hah, entahlah. Lebih baik aku siap-siap kerumah Papa, biar pulangku gak malam-malam sekali" Lanjut Vian dan mulai siap-siap. Saat Vian melihat kearah Cinta yang sudah membalit tubuhnya dengan selimut tebal, Vian duduk ditepi kasur dan mencium kening Cinta. Sesaat saat Vian keluar dari kamar, Cinta membuka matanya dan meneteskan air matanya. Sangat sakit sekali dan kecewa. Cinta binggung apa ynag harus dia lakukan. Apa benar Vian ada main api dibelakangnya. Jika iya, sungguh sakit sekali untukknya. Semakin deras air mata yang dia keluarkan. Dan tentunya semakin sakit yang dia rasakan.
***
__ADS_1
"Auhhhh..... Sial. Sakit banget perutku " Kesal Laura saat ingin beranjak dari tidurnya dan ingin ke toilet.
"Semua ini gara-gara lelaki br*ngs*k itu. Sial...." Kesal Laura lagi. Dengan tubuh yang lemah Laura berusaha untuk ke kamar mandi sendiri. Saat ingin sampai di depan pintu kamar mandi, tiba-tiba kaki Laura terasa lemas dan dia jatuh ke lantai.
Brakk....
"Ahhhh, sial....." Teriak Laura kesal. Tak lama kemudian Perawat yang ingin mengecek keadaan Laura masuk dan langsung lari membantu Laura.
"Anda kenapa bisa terjatuh disini . Apa anda ingin sesuatu?" Tanya Perawat itu
"Mata loe buta? Yaa jelas gue mau ke kamar mandi lah. Makek nanya lagi" Ketus Laura.
"Biar saya bantu" Jawab sopan Perawat itu.
"Pelan-pelan sakit tau" Bentak Laura lagi.
***
"Kamu kenap Vian " Tanya Pak Handoko tapi tak dijawab oleh Vian.
"Vian" Panggil Pak Handoko lagi. Tapi tetap tak ada jawaban.
Brak... Pak Handoko memukul keras meja sampai membuat Vian kaget.
"Ada apa Pa ?" Tanya Vian kaget.
"Kamu yang kenapa! Kamu bertengkar dengan Cinta ?" Tanya Pak Handoko.
"Tidak" Singkat Vian.
"Jika Papa sampai menemukan bukti sendiri, dan kamu penyebabnya. Jangan salahkan Papa jika Papa sendiri yang akan menghajar mu jika kamu menyakiti menantuku" Ucap Pak Handoko sambil bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Jika kamu bermain api dibelakang Cinta, jangan salahkan Papa jika Papa akan buat kamu kehilangannya semuanya, terutama istrimu" Lanjut Pak Handoko sambil berjalan keluar.
"Hah..... Apa yang harus aku lakukan" Binggung Vian. Vian pun teringat dengan Laura saat itu.
Flashback.
"Vian, apa aku boleh minta tolong denganmu?" Tanya Laura.
"Apa?" Jawab Vian.
"Emmmmm, maaf. Tapi hanya kamu yang aku punya sekarang Vian " Kata Laura lagi sambil meneteskan air matanya.
"Selagi aku bisa, aku akan membantu Laura. Tapi jika aku tak bisa maka, aku minta maaf"
"Ahhh, baiklah. Tak apa, kau tak jadi meminta bantuanmu. Aku tak ingin merepotkan mu" Ucap Laura sambil mengusap air matanya.
"Coba katakan dulu, mungkin aku bisa menbantumu walau hanya sedikit " Ucap Vian lagi.
"Aku ..... Apa boleh.... kamu temani selama aku memulihkan tubuhku. Karna.... hanya kamu yang tau keadaan ku. Jika Papaku tau, takutnya beliau tak bisa menerima dan akan.... akan.... hiks.... hikss...." Tangisan Laura pecah membuat Vian tak tega.
"Tenang lah. Bicaralah pelan-pelan " Tenang Vian.
"Papaku punya penyakit jantung. Aku takut jika Papa ku tau dia akan kaget dan jatuh sakit Vian. Jadi kau mohon kamu merawatku sampai aku sembuh, setelah itu aku tak akan menggangu mu. Atau aku meminta izin dengan Cinta dulu supaya kamu tidak dimarahinya ?" Tanya Laura.
"Ahhh, jangan-jangan. Biar aku saja yang bicara" Jawab Vian dengan cepat.
"Ahhh, kamu sedang sakit, jadi biar aku saja yang bilang. Tapi aku hanya bisa membantumu saat aku senggang saja ya" Ucap Vian lagi. Dan diangguki Laura dengan *senang
Flashback off*.
"Apa aku jujur saja dengan Cinta ? Tapi, dengan sifat Cinta yang seperti itu, jelas dia akan sangat marah denganku dan kecewa. Aku harus bagaimana " Bingung Vian lagi.
__ADS_1
...****************...