
"Kamu kenapa Laura ?" Tanya Vian dengan nafas yang terengah-engah karna berlarian.
"Ahh, aku takut Vian....." Peluk Laura tiba-tiba.
"Kenapa ?" Tanya Vian lagi
"Dia... Dia terus menerorku Vian. Aku takut" Jawab Laura semakin erat memeluk Vian.
"Siapa? Mantan kamu?" Tanya Vian lagi.
"Iya, dia terus menelfonku dan mengirim ku pesan ingin membunuhku. Aku sangat takut Vian, tolong aku" Jawab Laura sambil menangis keras.
"Sudahlah, tak apa. Ada aku disini" Jawabannya lagi. Laura tersenyum puas dengan jawaban Vian itu.
"Sudah, kamu tidur lagi " Ucap Vian mencoba membaringkan tubuh Laura.
"Kamu jangan tinggalkan aku yaa Vian, aku takut" Jawab Laura lagi. Vian sebenarnya ingin menolak, tapi melihat keadaan Laura seperti ini dan tidak ada yang menjaganya Vian jadi sangat tak tega untuk meninggalkan nya.
"Iya " Jawab Vian sambil tersenyum.
__ADS_1
"Terimakasih " Senyum Laura.
"Yes, akhirnya aku bisa menaklukkan Vian. Kenapa tak dari dulu saja seperti ini. Harusnya aku sangat berterimakasih kepada Pria br*ngs*k itu. Karna dia aku bisa terus bersama dengan Vian. Hahahaha. Cinta, tunggu saja masa jandamu akan datang" Batin Laura sangatlah senang.
***
Cinta melihat jam di ponselnya. Sudah jam 02.15 tapi Vian tak kunjung pulang. Kabar pun tak ada. Sungguh sakit sekali yang dia rasakan. Tak biasahnya Vian seperti ini. Setelah mantan tunangannya itu datang kerumah, semua berubah dengan hitungan jari.
"Hah, bodohnya aku yang masih menunggu dia pulang" Ucap Cinta sambil menahan tangisannya.
"Kenapa, kenapa aku harus bertemu dengan dua orang Pria yang sama. Apa salahku sampai seperti ini" Kesal Cinta. Air mata Cinta mengalir begitu saja tanpa permisi. Cinta menangis sesenggukan, dia sangat bingung dan kesal dengan keadaannya sekarang. Dia menangis hingga tertidur.
Skip pagi hari.
"Nyonya, ini bibi" Suara dari luar kamar Cinta.
"Hemm... Iya bik" Jawab Cinta yang masih memejamkan matanya.
"Nyonya, ada Tuan besar ingin bertemu dengan nyonya " Jawab bibik lagi. Cinta langsung membuka matanya dan bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Papa? Masih pagi begini ngapain kesini ya? Apa aku lupa kalau ada janji sama Papa ?" Binggung Cinta.
"Nyonya, apa nyonya ingin dibantu katakan sesuatu kepada Tuan besar?" Panggil bibik lagi.
"Ahhh, tolong sampaikan ke Papa sebentar lagi aku turun ya bik" Jawab Cinta dan buru-buru untuk mandi. Cinta yang terburu-buru tanpa melihat wajahnya kecermin dan langsung turun setelah selesai mandi dan berpakaian.
"Ahhh, Pa. Mengapa Papa tak memberitahu Cinta dulu kalau mau kesini Pa?" Ucap Cinta sedikit gugup
"Ahhh, Tak apa" Jawab Pak Handoko dengan senyuman. Terlihat jika Pak Handoko melihat mata Cinta yang sembab, dan saat diteras pun Pak Handoko tak melihat mobil Vian. Apa mereka baru saja bertengkar atau bagaimana. Tak biasahnya Vian pergi tanpa ada urusan kantor, dan tak pernah juga Pak Handoko melihat Cinta berbeda seperti ini. Pak Handoko terus bertanya-tanya tentang semua ini.
"Vian mana Cin, apa masih tidur?" Tanya Pak Handoko. Cinta yang tadinya tersenyum, menjadi diam tanpa kata-kata.
"Jadi, Vian..... gak ditempat Papa ? Lalu kemana?" Batin Cinta binggung.
"Nak Cinta.... Kamu kenapa?" Tanya Pak Handoko lagi.
"Ahhj, Vian.... dia .... sedang keluar membelikan Cinta sesuatu Pa" Jawab Cinta sambil tertawa paksa. Oak Handoko yang sudah mengetahui jika menantunya ini berbohong. Dan sangat terlihat jelas diwajah Cinta jika dia ingin menangis.
"Ohhh, ya sudah kalau begitu. Papa hanya kesini ingin memastikan jika kalian baik-baik saja. Dan untuk kamu Cinta, jangan sungkan-sungkan untuk bercerita dengan Papa jika kamu punya masalah dan tak ingin menceritakan kepada kedua orang tuamu karna kamu gak mau membuat mereka sakit hati. Papa selalu mendukung kamu dan selalu dibelakang mu. Jangan sedih lagi ya nak"
__ADS_1
"Apapun Masalah mu, Papa siap membantunya meskipun itu bertentangan dengan suamimu" Lanjut Pak Handoko. Cinta hanya mengangguk kan kepalanya.
...****************...