Suami Pilihan Ayahku

Suami Pilihan Ayahku
Awal baru


__ADS_3

"Baik tuan Vian, Nona Cinta sudah bisa pulang hari ini. Dan ini resep obatnya bisa ditebus. Jangan lupa untuk istirahat dulu untuk beberapa hari dan jangan melakukan pekerjaan yang berat untuk beberapa hari kedepan. Dan bulan depan bisa kontrol lagi kesini ya tuan" Uvap dokter.


"Baik dok terimakasih". Jawab Vian.


"Kalau begitu saya permisi dulu".


"Sayang, kamu dengar kan. Kamu harus istirahat dulu untuk memulihkan kondisi kamu" Ucap Vian sambil mengelus rambut istrinya.


"Untuk apa Vian, aku sehat pun tak akan bisa mengembalikan anakku. Anak kita Vian" Jawab Cinta menahan tangisnya.


"Cinta, disini yang kehilangan bukan hanya kamu, tapi kita semua. Kita juga merasa kehilangan anak kita. Tapi kita harus mengikhlaskan nya, anak kita sudah bahagia disisinya. Kalau kamu seperti ini, anak kita akan bersedih disana. Kalau kita ikhlas dan bersabar, pasti akan digantikan dengan yang lebih. Sayang, aku mohon, kamu jangan berlarut lagi dalam kesedihan, ada aku, ada Bunda Ayah dan juga Papa yang selalu support kamu. Kamu harus kuat yaa Sayang, kita lalui ini bersama" Bujuk Vian sambil menggenggam kuat tangan Cinta. Cinta hanya bisa menangis dipelukkan suaminya itu tanpa bisa berkata apa-apa. Yang dia rasakan saat ini adalah kecewa, sakit dan juga kesal terhadap Kirana dan Bara. Jika mereka tak membuat masalah dirumah Cinta saat itu pasti Cinta masih bisa bersama dengan buah hati nya.


"Kalau aku tau akan seperti ini lebih baik aku ikut-"


Vian yang tak ingin mendengarkan lanjut ucapan Cinta, dia langsung mencium bibir Cinta dengan cepat. Vian tak ingin merasakan kehilangan untuk kesekian kalinya. Dia tak ingin kehilangan separuh hidupnya lagi.


"Aku gak mau mendengar apapun dari bibir kamu jika itu hanya penyesalan ataupun sebagai nya. Sayang, disini yang merasa kehilangan anak kita gak hanya kamu. Tapi aku juga, Ayah Bunda dan Papa, dan amsih banyak lagi. Jika kamu seperti ini terus, anak kita akan sedih disana Sayang. Kamu harus kuat. Kita bisa melalui ini semua bersama Sayang, percaya dengan aku". Yakin Vian lagi.


"Aku takut aku gak bisa Vian" Jawab Cinta sambil menangis sesenggukan.


"Hust.... Kamu pasti bisa, ada aku jangan takut. Jika kita diberi kepercayaan lagi, pasti kita akan punya bayi lagi Sayang. Kamu pasti akan hamil lagi. Yang pasti kamu sekarang harus bisa mengikhlaskan dulu, supaya kita bisa diberikan kepercayaan lagi, yaa" Bujuk Vian lagi dan diangguki Cinta.


"Sudah ya, kamu jangan menangis lagi. Sekarang kamu istirahat dulu" Ucap Vian lagi dan Cinta mulai membaringkan badannya, dia ingin menenangkan dirinya sebentar saja.

__ADS_1


***


"Yah, Apa Cinta bisa mengikhlaskan kecelakaan yang dia alami? Bunda takut jika anak kita semakin sedih yah". Isam Bunda.


"Bun, anak kita kuat seperti Bunda nya. Dan, disampingnya kan ada Vian yang selalu menemani nya. Jadi, Bunda tak usah kawatir yaa". Bujuk Pak Bram.


"Bunda berharap seperti itu yah. Semoga anak kita selalu kuat dan bertahan dengan ujiannya. Semoga anak kita cepat mendapatkan pengganti anaknya yang sudah meninggal". Kata Bunda.


"Ammiin. Kita do'a kan yang terbaik saja Bun untuk anak dan menantu kita".


"Tapi Yah, apa Ayah dengar saat Cinta bilang kalau mereka yang menyebabkan Cinta keguguran. Kira-kira siap Yah? Anak kita tidak memiliki musuh, kecuali-". Sejenak Bunda terdiam dan berfikir.


"Apa jangan-jangan.... Bara?" Lanjut Bunda.


"Yah, siapa lagi. Atau jangan-jangan istrinya itu, kan istrinya Bara satu angkatan dengan Cinta bahkan juga musuh nya saat Cinta masih berpacaran dengan Bara".


"Kenapa kamu bisa tah Bun?". Tanya Pak Bram.


"Karna dulu Cinta bercerita saat Cinta dan istrinya Bara bertengkar disekolah dan kita dipanggil kesekolah waktu itu lho yah. Ayah ingat kan? Jadi setelah itu Bunda bertanya dan Cinta bilang bahwa wanita itu menyukai Bara dan berusaha untuk memisahkan Cinta dan Bara". Jelas Bunda.


"Ohhh seperti itu. Tapi Bun, kita tak memiliki bukti jadi jangan asal menuduh. Takutnya nanti malah menambah masalah. Kita tunggu kejelasan dari Cinta saja".


"Baik yah, tapi jika memang mereka pelakunya. Bunda gak akan tinggal diam dan akan menuntut mereka". Kesal Bunda

__ADS_1


"Sudahlah Bun, kita tunggu nanti yaa". Jawab Pak Bram dan diangguki Bunda.


***


Sementara itu Bara yang dihantui dengan perasaan bersalah saat mengetahui bahwa Cinta kehilangan anaknya. Bara sangat panik dan takut jika Cinta semakin benci dan sulit untuk dia dapatkan.


"Ini semua gara-gara Kirana, jika dia tak datang pasti Cinta tak akan menderita seperti ini" Batin Bara.


"Apa aku harus meminta maaf ke Cinta? Tapi aku takut dia semakin sedih jika melihat ku, karna gara-gara aku dia seperti ini". Batinnya lagi.


"Hahhhhhh" Teriak Bara sambil mengusap kepalanya kasar.


"Kamu gila bar? Pagi-pagi teriak gak jelas seperti ini". Sahut Kirana saat memasuki kamar mereka.


"Bukan urusanmu". Cuek Bara dan pergi meninggalkan nya.


"Kamu mau kemana bar? Ini hari libur. Bara...." Teriak Kirana tapi tak dihiraukan.


"Brengsek" Kesal Kirana.


"Awas aja kalau kamu berani menemui dia lagi. Akan kubuat dia lebih menderita dibandingkan kehilangan anaknya". Ucap kesal Kirana.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2