
"Bara" Panggilan keras dari belakang.
"Siapa sih..." Ucap pelan Bara sambil menoleh.
"Mama?". Batin Bara.
Plakk. Satu tamparan mendarat dipipi Bara.
"Dasar gak tau berterimakasih. Hidup sudah numpang satu keluarga, kerja enak gaji banyak, kamu bukannya membahagiakan anak saya malah enak-enak kan mengejar istri orang. Kamu mencari kesenangan diluar sana tanpa memikirkan perasaan anak saya. Kamu waras Bara ?" Ocehan Mama Kirana membuat Bara terdiam.
"Kenapa diam, Kamu sama saja seperti Ayah kamu. Mata duitan. Hemh". Kesal Mama Kirana membuat Bara yang tadinya menunduk menjadi melihat kearah Mama kirana dengan tatapan kesal
"Kenapa ? Marah saya bilang seperti itu. Tapi kan benar, kamu sama saja dengan Ayah kamu yang mau uang banyak itu tapi gak mau berusaha. Maunya instans. Hah, dasar gila".
"Ma, maaf jika saya berlaku kurang sopan dengan Mama. Tapi asal Mama tau bahwa saya dengan Ayah saya sangat jauh berbeda. Jika boleh memilih, saya sangat ingin hidup biasah saja dan tidak menikahi anak Mama dari pada hidup dengan banyak harta tapi harus jadi mainan anak Mama. Apa Mama tau bahwa saya amat sangat menderita saat saya berhubungan dan bahkan sekarang menjadi suami dari anak Mama dan menjadi menantu Mama ". Jawab Bara membuat Mama kirana sangat kesal
"Dasar kamu gak tau balas budi. Bisamu hanya mengecewakan anak saya". Bentak Mama Kirana.
Plakkk. Satu tamparan lagi mendarat dipipi Bara.
"Kamu, jika bukan anak saya yang tergila-gila dengan kamu. Sudah saya pastikan kamu akan menjadi gembel. Dan asal kamu tau, Ayah kamu dan Mama kamu sendiri dan berlutut memohon kepada saya dan suami saya supaya mau menjodohkan kamu dengan anak saya. Jika bukan karna anak saya yang tergila-gila dengan kamu, anak saya sudah menikah dan hidup bahagia dengan orang pengusaha kaya raya. Tidak seperti kamu dan keluarga kamu yang hanya memanfaatkan kekayaan anak dan suami saya. Dasar parasit " Kesal Mama Kirana dan langsung pergi meninggalkan Bara yang masih terdiam sendiri.
***
__ADS_1
Sementara itu, Cinta yang merasakan bahwa dia sudah baik-baik saja, Dia menyuruh Vian untuk datang dan kembali bekerja seperti biasanya. Walau awalnya menolak tapi Vian akhirnya setuju dengan satu syarat jika Vian menghubungi harus segera diangkat. Dan jika ada yang datang hanya boleh asisten rumah tangga yang membukakan pintu. Yah walaupun terlihat agak berlebihan, tai Vian sangat takut jika istrinya itu menderita lagi.
"Hemmm, enaknya ngapain yaa. Sendirian dirumah bosen juga, mau jalan-jalan deh rasanya". Batin Cinta.
"Ahh sepertinya bahan makanan di kulkas sudah menipis. Apa aku beli saja yaa diminimarket. Dari pada aku bosan sendiri dirumah. Aku akan telvon Vian dan memberitahu nya". Batin Cinta lagi dan berjalan kekamar nya. Sesampainya dikamar dia mencari ponselnya dan menghubungi Vian tapi tak kunjung diangkat.
"Hemmm, tumben gak diangkat. Apa dia sedang sibuk yaa. Lebih baik aku kirim pesan saja deh" Setelah mengirimkan pesan, Cinta berjalan ke kamar mandi. Sekitar 15 menit selesai mandi Cinta bersiap-siap untuk belanja.
"Bik... Bibik....". Panggil Cinta sembari turun dari tangga.
"Iya Nona ada apa?". Sahut bibik.
"Bik, saya mau keminimarket sebentar. Nanti kalau misalnya tuan telvon bibik bilang saja kalau saya cuma sebentar untuk membeli bahan makanan yang sudah menipis. Kalau menunggu tuan kelamaan dan saya bosan hanya dirumah diam saja". Ucap Cinta.
"Gak usah, soalnya saya gak bawa ponsel karna saya charger. Jafi mungkin tuan telvon sebelum saya pulang tolong bibik kasih tau yaa. Saya berangkat dulu " Pamit Cinta keluar rumah.
"Hati-hati dijalan non". Jawab bibik dan disenyumi Cinta .
Setelah sampai diminimarket, Cinta cepat-cepat membeli bahan makanan yang dibutuhkan dan segera membayarnya. Karna dia tak ingin berlama-lama diluar tanpa Vian.
"Cinta". Tarik seseorang dari belakang
"Ahh". Kaget Cinta.
__ADS_1
"Cinta... Ka-kamu gak papa?". Gugup Bara.
"Menurut mu". Ketus Cinta sambil menepis tangan Bara.
"Cinta tunggu ". Tahan Bara saat tau Cinta ingin masuk mobil.
"Apa lagi. Apa yang ingin kamu dan istrimu buat lagi. Gak cukup dengan apa yang kamu perbuat kemarin ha? ". Bentak Cinta membuat Bara terdiam.
"Hah, aku gak yangka aja dulu bisa kenal sama kamu. Asal kamu tau, jika aku bisa memilih lebih baik aku mati dari pada harus kenal dengan kamu. Karna kamu, aku selalu sakit, kecewa dan sedih. Kamu alasan aku menderita didunia ini. Apa kamu tau itu. Karna kamu waktu itu dengan istri tercinta mu, aku kehilangan separuh nyawa aku. Buah Cinta aku dan suami aku. Apa kamu gak bisa lihat aku bahagia sedikit ha? Sampai-sampai kamu harus merenggut semua kebahagiaan aku. Iya...?" Kesal Cinta sambil menangis.
"Ma-Maafkan aku Cinta. Aku gak bermaksud seperti itu, aku juga gak tau kalau-"
"Kalau apa? Kalau Kirana bakal dorong aku. Sudah lah Bara. Melihatmu hanya buat aku menderita dan muak sekali. Lebih baik kita jangan sampai bertemu lagi. Dan jangan sampai suamiku tau bahwa kamu dan istrimu yang telah membuat bayiku meninggal. Kalau tidak mungkin kamu dan istrimu gak bisa hidup tenang didunaia ini. Mati pun kamu gak akan bisa". ketusnya lagi dan ingin masuk kemobil tapi dihalangi Bara.
"Cinta maafkan semua kesalahanku dan aku janji akan lebih tegas lagi kedepannya ". Ucap Bara sambil menarik tangan Cinta.
"Lepasin ". Ronta Cinta.
"Maafkan aku Cinta ". Rengek Bara lagi. Membuat Cinta semakin marah dan kesal
"Bar, aku bilang lepasin". Ronta Cinta.
Bukgh. Satu tinjuan mendarat dimuka Bara membuat Cinta kaget.
__ADS_1
...****************...