
Melati bergegas pergi ke dapur dan meletakkan keranjang sayur di atas meja makan. Melati langsung berlari ke kamarnya dan tersungkur di lantai sambil menangis.
"Aku menyesal" ucap Melati.
"Rasanya aku ingin mengulang waktu itu kembali, tak akan aku terlena dengan Edo. Aku tidak akan hamil seperti sekarang, sekarang aku harus bagaimana Ya Tuhan" ucap Melati.
Melati merasakan penyesalan yang sangat mendalam, rasanya iya tak mengenal dirinya sendiri.
"Siapa aku siapa diriku aku bukanlah gadis lugu yang dahulu. Aku sudah ternodai oleh laki-laki yang jahat, seharusnya aku mengikuti apa kata-kata ayah dahulu. Seharusnya aku tidak mengikuti permintaan Edo" ucap Melati penuh penyesalan.
Melati langsung mengusap air matanya, karena dia ingat tak lama lagi dia akan melangsungkan pernikahan dengan Akbar.
Hari pun berlalu semua undangan pernikahan Melati dan Akbar telah tersebar. Makanan, WO, semuanya telah siap. Dan besok adalah hari pernikahan Melati dan Akbar akan dilaksanakan.
~Pagi hari~
"Melati ayah sangat senang sekali akhirnya kamu akan menikah dengan laki-laki pilihan ayah, Ayah berharap semoga kalian akan selalu dinaungi kebahagiaan" ucap ayah Melati.
"Iya ayah terima kasih atas doanya" jawab Melati sambil tersenyum.
Melati seharusnya bahagia dihari pernikahannya, tetap tidak iya hanya memikirkan bagaimana nasibnya nanti kalau seluruh keluarga tahu kalau anak yang dikandungnya bukanlah anak Akbar.
~Di telpon~
"Halo Tante!" ucap kak Ardha.
"Iya Ardha ada apa?" jawab wanita ditelpon.
"Hari ini Melati akan menikah dengan laki-laki pilihan Om Tante" ucap Ardha.
"Benarkah, aku ingin sekali bertemu dengannya. Aku ingin melihat cantiknya Melati memakai gaun pengantin" jawab wanita ditelpon.
"Iya Tante Ardha tahu bagaimana perasaan Tante, tapi mau gimana lagi. Memangnya Tante berani menunjukkan wajah Tante ke Melati apalagi sama Om Tante" ucap Ardha.
"Iyah Ardha, tante akan tahan perasaan ini" jawab wanita ditelpon.
"Kita gak akan tahu tante gimana reaksi Melati, Om, terus sama keluarganya lainnya tan" ucap Ardha.
__ADS_1
"Iyah Ardha iya, sudah yah tante ada kerjaan" jawab wanita ditelpon.
"Iya tante" ucap Ardha.
Gaun cantik yang dikenakan Melati lengkap dengan rambut yang disanggul bagaikan tuan putri, dan bunga yang cantik yang dipegangnya. Melati menghela nafas panjang, Melati sangat gugup karena sebentar lagi seluruh kehidupannya akan sedikit berubah. Saat pagi hari hal pertama yang akan dilihatnya adalah Akbar, ia akan sarapan dengan Akbar. Melati tidak akan pernah lagi mendengar Bi Ijah yang mengetuk pintu kamarnya. Semuanya akan berubah, tapi satu yang tidak akan berubah yaitu kasih sayang orangtua yang takkan pernah luput sepanjang masa.
Melati melangkahkan kakinya langkah demi langkah, suara ketukan sepatu hak tinggi Melati terdengar sekali karena pada saat itu suasana sangat hening tak ada satupun suara kecuali suara ketukan dari sepatunya. Melati lalu duduk di kursi di samping Akbar, Melati sangat gugup sekali. Ayah Melati lalu mengucapkan ijab Kabul, dengan lantangnya Akbar mengikuti nya dengan tarikan satu nafas saja.
Tiba-tiba terdengar saja suara "bagaimana saksi sah sah.......".
Semua tamu mengucapkan sah........
Alhamdulillah.................
Rasanya nyawa Melati baru saja terbang ke atas langit lalu gugur dengan hentakan yang membuat jantungnya berdegup kencang.
"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri" ucap ayah Melati.
Melati lalu menghadapkan pandangannya ke Akbar, langsung saja Akbar mengulurkan tangannya. Melati langsung menyambutnya dan mencium tangan Akbar. Akbar juga mencium kening Melati dengan hangat dan tanpa ada rasa paksaan. Teman-teman Melati dan Akbar semuanya datang dan mengucapkan selamat kepada Melati dan Akbar. Ada rasa bahagia sedikit di hati Melati karena dapat membuat ayahnya bahagia dan tersenyum karena melihatnya telah menikah dengan laki-laki pilihan ayahnya.
~Malam hari~
Dan benar dia adalah Akbar, Akbar memang sangat senang berolahraga dan mengonsumsi makanan yang mengandung protein. Tak heran banyak sekali wanita yang ingin menjadi istrinya. Akbar langsung duduk di atas ranjang, tak ada satupun kata keluar dari mulutnya. Akbar hanya memandangi Melati yang sedang duduk di depan cermin.
"Kenapa aku tiba-tiba gugup yah" gumam Melati.
"Lalu kenapa Akbar terus memandangi, membuatku jadi salah tingkah saja" gumam Melati lagi.
Akbar memang terkenal dengan sikapnya yang pendiam dan tak banyak bicara, tapi dibalik sikapnya yang seperti itu Akbar sesungguhnya adalah orang yang penyayang dan orang yang dermawan tetapi ia tidak pernah menampakkannya kepada siapapun termasuk ayahnya. Melati tak tahan dengan tatapan Akbar kepadanya, Melati langsung angkat suara.
"Kenapa kau memandangiku seperti itu?" ucap Melati dengan wajah sedikit songong.
Akbar lalu seperti orang salah tingkah dan mulai membuat pergerakan dengan
memainkan hpnya.
"Aneh banget sih, haduh aku lupa lagi aku tidur bagaimana yah rasanya dia seperti orang asing bagiku padahal dia adalah suamiku" gumam Melati.
__ADS_1
Melati lalu berbicara lagi.....
"Hei kau!" ucap Melati.
Akbar hanya menatapnya dan tak menjawab.
"Kamu bisa ngomong gak sih, ini orang loh bukan batu" ucap Melati kesal.
Dan sekali lagi Akbar hanya menatapnya.
Melati rasanya seperti berbicara dengan ranting pohon yang dihiasi layaknya laki-laki.
"Mendingan bicara sama kucing kalo kayak gini" ucap Melati langsung membalikkan pandangannya dan mulai bercermin lagi.
"Iya istriku mari kita tidur ini sudah malam, besok kita akan pindahan" ucap Akbar langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
Tiba-tiba yang sangat tak disangka akhirnya Akbar berbicara, yang sangat membuat Melati terkejut dan terheran. Banyak tanya di dalam benak Melati apakah Akbar sudah mulai mencintainya?.
"Kenapa kau masih duduk di situ ayo tidur, aku tidak akan menggigitmu" ucap Akbar.
Melati langsung saja bergegas seperti tak sadar dengan apa yang dia lakukan. Melati langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, Akbar lalu mematikan lampu.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG...............................