
"Sayang" Peluk Vian dari belakang.
"Udah selesai belanjanya ?" Tanya Cinta sambil membalikkan tubuhnya.
"Yap, sudah semua tuan putri " Jawab Vian.
"Kenapa gak bangunin aku, kan aku bisa bantu belanja" Tanya Cinta.
"Aku gak tega bangunin kamu Sayang. Yaa jadi aku berangkat sendiri saja" Ucap Vian sambil mencicipi masakan Cinta.
"Kenapa hatiku gak enak ya?" Batin Cinta.
"Kamu udah sarapan ?" Tanya Vian tapi tak dijawab Cinta.
"Sayang?" Panggil Vian lagi, tapi masih tak dijawab.
"Cinta..." Panggil Vian sedikit keras.
"Ahhhh... iyaa, ada apa?" Kaget Cinta.
"Kamu kenapa sih? Kalau ada apa-apa ngomong, jangan diam aja. Dari tadi aku tanya kamu, tapi kamu melamun terus. Lagi mikirin apa sih?" Tanya Vian sedikit kesal.
"Gak apa-apa kok. Tadi kamu ngomong apa?" Jawab Cinta sambil menata sarapan Vian.
__ADS_1
Vian yang sedikit kesal, menarik lembut dagu Cinta keatas. Sejenak dia melihat kedua bibir Cinta dan diciumnya debgan lembut. Cinta membalas ciuman nya dengan lembut juga.
"Udah?" Tanya Vian saat melepaskan ciumannya.
"Apa?" Jawab Cinta binggung.
"Udah mau jawab apa belum?" Tanya Vian lagi dan Cinta kembali terdiam. Vian kembali mencium bibir Cinta lagi. Kini tangannya pun bergerak bermain dengan dua buahnya. Dengan spontan Cinta melepas ciumannya.
"Vian" Kesal Cinta sambil mengerutkan dahinya.
"Mau jawab apa engak?" Tanya Vian lagi. Dan Cinta masih belum bercerita. Vian mendorong tubuh Cinta ketembok dapur, dan menaikkan satu kaki Cinta. Vian menciumi Cinta dan bermain diinti Cinta. Cinta sangat kaget dan takut jika seseorang melihatnya.
"Vian lepas" Tahan Cinta. Tapi Vian tak mendengarkan dan terus menciumi dua buahnya. Cinta yang susah payah menahannya sudah hampir tak kuat.
"Gitu dong dari tadi sayang " Jawab Vian puas.
***
"Bu Laura, Pak Handoko sudah datang. Dan menunggu Bu Laura diruang rapat" Ucap sekertaris Laura.
"Apa? Pak Handoko ? Bukan Vian ?" Kaget Laura.
"Bukan Bu, Yang datang bukan Pak Vian melainkan Pak Handoko " Jawab sekertaris nya lagi.
__ADS_1
"Sial, kenapa jadi orang tua itu yang datang" Kesal Laura. Dengan terpaksa Laura pun menemui Pak Handoko.
"Selamat pagi Pak Handoko. Maaf jika menunggu terlalu lama" Sapa Laura saat memasuki ruangannya.
"Ohh, selamat pagi Laura. Tidak kok, saya baru sampai sekitar 10 menit yang lalu. Tidak terlalu lama menunggu ". Jawab Pak Handoko menjabat tangan Laura.
"Silahkan duduk Pak " Jawab Laura.
"Ohh, iya. Bukannya ini proyek atas perusahaan Vian, tapi mengapa malah Pak Handoko yang kesini dan bukannya Vian ?" Tanya Laura.
"Ohhh itu, Vian sedang menemani istrinya jadi belum bisa sepenuhnya untuk bekerja di perusahaan dulu. Jadi saya yang menggantikan selama Vian tidak aktif dikantor. Karna istrinya sangat membutuhkan Vian disampainya setelah kecelakaan menimpa anak mereka " Jawab Pak Handoko.
"Kecelakaan ?"
"Iya, anak Vian dan Laura meninggal saat Cinta tak sengaja terjatuh dan mengalami keguguran. Dan Cinta sangat terpukul dan tidak bisa menerima semua ini, jadi Vian tidak bisa untuk jauh dari istrinya itu". Jawab Pak Handoko lagi. Laura sangat kesal dengan cerita Pak Handoko dengan kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga Vian. Membuat Laura semakin ingin memisahkan mereka.
"Kenapa sampai seperti itu Pak. Proyek ini sangat penting dari pada menemani Cinta yang gak bisa jaga dirinya sendiri itu. Sudah tau hamil bukannya baik-baik malah melaku6yng aneh-aneh, Sangat merepotkan. Seharusnya dia bisa menerima semua ini. Dan juga ini kan kesalahan dia, seharusnya dia bisa sadar tanpa harus merepotkan Vian. Caper banget sih" Kesal Laura.
"Menantu Pak Handoko ini selain merepotkan juga sangat manja sekali ya Pak ". Lanjut Laura.
"Maaf nak Laura, maaf jika perkataan saya kurang enak didengar. Tapi yang kamu bicarakan tentang menantu sayang semuanya salah besar. Justru saya sangat mendukung anak saya untuk memanjakan istrinya dan menomorsatukan istrinya. Karna dia adalah segalanya. Dan dia tidak merepotkan, karna Vian meminta nya dari kedua orangtuanya untuk dibahagiakan lahir batin, bukan dibiarkan atau disakiti. Dan untuk nak Laura, kamu jangan sekali-kali berbicara seperti itu lagi kedepannya. Dan jangan ganggu anak saya lagi karna anak saya sudah bahagia dengan hidupnya yang sekarang " Tegas Pak Handoko membuat Laura terpaku diam.
...****************...
__ADS_1