Suami Pilihan Ayahku

Suami Pilihan Ayahku
Episode 12


__ADS_3

~Pagi hari~


Sinar sang surya pun masuk ke kamar dan membangunkan Melati.


"Emm sudah pagi ternyata" ucap Melati.


Melati bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Aku akhirnya tidur dengan laki-laki yang tidak aku cintai, tapi kenapa aku merasa sangat nyaman didekatnya dan tidak merasa kekhawatiran sama sekali, aku merasa aman" gumam Melati.


Setelah mandi Melati langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Di dapur telah berdiri Bi Ijah yang sedang merapikan meja makan.


"Pagi Bi" ucap Melati dengan senyum bibirnya.


"Pagi non Melati, ini makanannya sudah siap" ucap Bi Ijah.


"Yah kok Bibi gak ngajak-ngajak Melati sih masaknya" ucap Melati.


"Hehe maaf non Melati soalnya bibi takut nanti dimarahin bapak" ucap Bi Ijah.


"Emangnya ayah bilang apa bi?" jawab Melati.


"Sudah-sudah sekarang non Melati makan, eh den Akbar kemana non kok gak keluar?" ucap Bi Ijah.


"Gak tahu Bi, sekarang Melati mau makan udah lapar banget nih" jawab Melati.


"Yasudah non, bibi mau panggil bapak sama den Akbar dulu. Non Melati bibi tinggal sebentar yah" ucap Bi Ijah.


"Iyah bi" jawab Melati.


Tok tok ........... suara ketukan pintu Bi Ijah yang membangunkan Akbar yang sedang tertidur pulas.


Akbar lalu beranjak dari tempat tidur dan segera membuka pintu kamar.


"Ada apa bi" ucap Akbar sambil mengucek matanya.


"Mari sarapan dulu den makanan sudah siap, non Melati sudah menunggu" jawab Bi Ijah.


"Iyah Bi, saya mau mandi dulu nanti saya akan menyusul" ucap Akbar lalu menutup pintu.


Bi Ijah pun kembali ke dapur................


"Eh ada bapak" ucap Bi Ijah.


"Kenapa emangnya Bi?" jawab ayah Melati.


"Gak saya cuman kaget aja, sini saya tuangkan air" ucap Bi Ijah.


"Terima kasih Bi Ijah, makanannya enak" ucap Melati sambil dengan lahapnya menyantap makanan yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Biasanya kan juga gitu non, yang beda mah bini cuman masak agak banyak biar non Melati kenyang kan non Melati akan jarang makan masakannya bibi" ucap Bi Ijah.


"Yah bibi jangan ngomong gitu, ntar Melati sedih lagi" jawab Melati dengan wajah sedih.


"Sudah-sudah kalian ini bicarakan apa. Sekarang lebih baik bibi ikut makan, ayo Bi duduk sekarang" ucap ayah Melati.


Akbar lalu keluar dari kamar dan menuju dapur, tiba-tiba suasana menjadi hening karena melihat wajah Akbar yang bersinar dan sangat tampan sekali. Akbar kebingungan, karena 3 pasang mata melihatnya dengan tidak biasa terutama Bi Ijah.


"Masyaallah, den Akbar ganteng sekali. Kalau lihat den Akbar mah jadi inget suami saya di kampung" ucap Bi Ijah sambil memegang pipinya karena terpesona melihat ketampanan Akbar.


Akbar hanya diam saja sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Ayo Akbar segera sarapan" ucap ayah Melati.


"Iya pak" jawab Akbar.


"Melati kalo kamu ada apa-apa kamu jangan minta sama ayah lagi yah nak" ucap ayah Melati.


"Kenapa emangnya, kok ayah gitu sih sama Melati. Kan Melati anak ayah" ucap Melati.


"Emangnya siapa yang bilang kalau kamu bukan anak ayah, kan anak ayah yang cantik ini sudah punya suami" ucap ayah Melati.


"Cieee non Melati" ucap Bi Ijah sambil meledek.


"Bibi apan sih, Melati lagi serius nih" ucap Melati.


"Sudah-sudah sekarang kalian bersiap-siap" ucap ayah Melati mengakhiri makannya.


"Eh bibi ngapain ikut, gak boleh. Liat mata ayah tu kayak pengen keluar" ucap Melati sambil menahan tawa dengan menutup mulutnya.


"Kamu ini, kok bilangnya mata ayah mau keluar. Mata ayah emang gini anakku" ucap ayah Melati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ini mah bukan masalah mata bapak yang pengen keluar non, tapi emang sih kayak pengen keluar" jawab Bi Ijah.


"Kamu ini yah juga ikut-ikutan bilang mata saya mau keluar, mata saya ini emang besar" ucap ayah Melati.


"Hehe ampun pak" ucap Bi Ijah menahan tawa.


"Emmm tapi bukannya emang non Melati yang pengen berduaan sama den Akbar, cie-cieee Iyah Iyah non bibi paham. Bibi kan juga punya suami di kampung gantengnya sama lagi kayak den Akbar" tambah Bi Ijah lagi.


Melati dan Akbar pun bersiap-siap untuk pergi ke rumah baru mereka.


"Kalian baik-baik ya nak, ayah akan selalu merindukan kamu" ucap ayah Melati.


"Iyah ayah Melati juga. Bi Ijah gak rindu apa sama Melati?" ucap Melati.


"Yah pasti rindu dong non, bibi pasti rindu banget sama non" ucap Bi Ijah sambil memeluk Melati.


"Ayah, bibi, Melati berangkat dulu yah" ucap Melati.

__ADS_1


"Kamu hati-hati yah nak" ucap ayah Melati sambil mengusap kepala Melati.


"Dadah non Melati" ucap Bi Ijah.


Melati masuk ke dalam mobil, dan Akbar pun melajukan mobilnya.


"Gimana perasaan kamu sekarang" ucap Akbar.


Melati hanya diam saja tak mau bicara, kali ini Melati mengulang hal yang sama ketika kencan pertama mereka. Melati lalu mengalihkan pandangannya ke jendela dan melihat pepohonan hijau di jalanan. Melati menghela nafas panjang. Sekarang giliran Melati yang bertanya.


"Kamu kenapa mau nikah sama aku? Kamu dibayar berapa sama ayah kamu?" ucap Melati dengan berani.


Akbar tak menghiraukan ucapan Melati dan tetap fokus menyetir.


"Eh Akbar, asal kamu tahu ya aku menikah sama kamu karena kita dijodohkan" ucap Melati sambil menunjuk wajah Akbar dengan wajah sinis.


Akbar lalu menepikan mobilnya di pinggir jalan.


"Eh eh kenapa kamu berhenti" ucap Melati terkejut.


"Bukannya kamu yah yang mendesak pernikahan ini, saya hanya mengikuti kemauan ayah saya" ucap Akbar.


"Iya memang aku, tapi kamu jangan bersenang-senang dulu kamu kira aku suka sama kamu" ucap Melati.


"Dengar yah Melati, saya tidak suka dengan ucapan kamu. Jadi saya minta kamu perbaiki cara bicara kamu" ucap Akbar dengan tatapan marah dan nada sedikit tinggi.


Sebelumnya Akbar tidak pernah berbicara dengan meninggikan nada suaranya terhadap orang lain, apalagi dengan seorang wanita. Akbar sangat tidak berani meninggikan nada suaranya karena ia tahu wanita itu harus dihormati, tapi entah kenapa saat berbicara dengan Melati, Akbar tak bisa menahan


emosinya. Melati lalu diam mendengar perkataan Akbar dan mulai meraih ponselnya yang ada di dalam tas. Akbar pun mengemudikan mobilnya kembali.


"Ada apa dengan wanita ini, apa yang dia inginkan dariku" gumam Akbar.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG.........


__ADS_2