Suami Pilihan Ayahku

Suami Pilihan Ayahku
Mengetahui


__ADS_3

Laura yang disibukkan dengan urusan kantornya, sangat jarang sekali menemui Alex. Sehingga membuat Alex marah.


Ceklek. Suara pintu terbuka.


Betapa kagetnya Laura saat mengetahui yang masuk keruangan nya adalah Alex.


"Ke-kenapa kamu bisa ada disini?" Kagetnya.


"Soalnya wanita ranjangku sangat lama sekali gak menemui ku" Singkat Alex. Alex berjalan kekursi Laura dengan langkah santai. Tapi tidak dengan Laura, dia sangat panik dan takut jika Alex berbuat macam-macam dengannya.


"Kenapa Sayang ? Apa kamu sangat merindukan ku, sampai kamu gugup seperti ini?" Tanya Alex sambil membelai pipi Laura dengan punggung tangannya. Laura semakin takut jika Alex memintanya di kantornya.


"Aku sangat merindukanmu Sayang " Bisik Alex. Laura yang mendengar hal itu sangat kaget. Dengan cepat Alex mengangkat satu pahanya dan memasukan jarinya ke dalam s*l*k*ng*nnya.


"Al... Alexsh...." Tahan Laura.


"Kenapa Sayang ? Aku sangat merindukan nya" Jawab Alex semakin cepat mengerakkan jarinya keluar masuk. Laura mencengkram dengan kuat lengan Alex. Alex melepaskan CD Laura dan mengangkat tubuh Laura agar duduk dimeja. Alex mebuka p*h* mulus Laura dan mencicipi pink meronanya membuat Laura mencengkram kuat meja. Sesekali Alex menjulurkan lidahnya membuat Laura bersuara yang membuat Alex tersenyum puas. Alex berjalan dan menyapa dua bongkahan yang sudah dia rindukan itu. Tanpa berfikir lama Alex membuka resleting nya dan mengarahkan tongkatnya ke pink merona milik Laura. Ruangan Laura diisi dengan suara mereka yang menikmati bersama.

__ADS_1


***


"Bagus, apa menurutmu saya terlalu kasar dengan Laura ? Apa perkataan ku kemarin sangat tidak sopan?" Tanya Pak Handoko kepada sekertaris nya itu.


"Tidak Pak, justru itu sangat bagus Pak. Karna mau bagaimana pun Ibu Laura adalah masalalu dan Ibu Cinta adalah masa depan Pak Vian. Jika ada masalah besar menimpa keluarga Pak Vian, anda sebagai orangtua juga akan merasakan sakit yang dialami Pak Vian, Pak Handoko " Jawab Bagus.


"Hemm, kamu memang pintar untuk mengenang hati yang sedang galau atai sedih. Sepertinya istrimu sangat beruntung memiliki suami seperti mu Gus " Puji Pak Handoko sambil mengangguk kan kepalanya pelan.


"Terimakasih Pak, "Ucap Bagus.


***


"Vian... Ada telvon" Panggil Cinta dari dapur.


Drettt..... Drettt.... Drettt..... Dering lagi.


"Duh, dari siapa sih" Oceh Cinta kesal.

__ADS_1


"Laura?" Ucap lirih Cinta saat melihat dari siapa panggilan itu.


"Apa Sayang ?" Tanya Vian yang baru keluar dari kamar mandi.


"Ada telvon" Singkat Cinta dan memberikan ponsel Vian. Vian melihat sejenak panggilan tak terjawab itu, dan ternyata dari Laura. Vian dapat merasakan bahwa Cinta kesal dengan panggilan dari Laura ini.


"Sayang" Peluk Vian dari belakang.


"Kenapa gak kamu angkat. Biar kamu tau, apa hubungan ku dengan dia. Dan gak lain cuma sebatas rekan kerja. Mangkanya Papa aku suruh tangani kantor selagi masih bekerja sama dengan perusahaan dia" Jelas Vian, karna Vian gak mau jika istrinya ini terus-menerus berfikiran negatif tentang Vian dan Laura.


"Maksudnya ? Siapa juga yang tanya " Ketus Cinta.


"Aku hanya menjelaskan apa yang perlu dijelaskan. Kalau kamu berfikir aku masih ada rasa atau apalah sama dia, kamu salah. Toh aku yang nolak untuk dijodohkan, bahkan aku sampai mau memberikan perusahaan dan fasilitas yang diberikan Papa agar aku gak jadi dijodohkan dengannya. Jika aku mau, sekarang yang aku peluk bukan kamu, tapi dia"


"Ohhh, jadi kamu berharap meluk dia? Yaudah, ngapain nikah sama aku. Sama dia aja sana" Usir Cinta sambil melepaskan pelukannya.


"Hahaha, kan kamu cemburu. Sayang mau didunia ini cuma ada dia. Lebih baik aku gak nikah seumur hidup Sayang " Jawab Vian semakin erat memeluk Cinta.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2