
"Hah sial. Ngapain sih orangtua itu malah yang ambil alih perusahaan Vian. Dan lagi istrinya Vian, manja banget. Sakit gitu aja lebay minta ditemenin sampai Vian pasrahkan urusan kantor ke Papa nya. Lemah banget sih jadi cewek" Oceh Laura kesal.
Laura flashback.
"Maaf nak Laura, maaf jika perkataan saya kurang enak didengar. Tapi yang kamu bicarakan tentang menantu sayang semuanya salah besar. Justru saya sangat mendukung anak saya untuk memanjakan istrinya dan menomorsatukan istrinya. Karna dia adalah segalanya. Dan dia tidak merepotkan, karna Vian meminta nya dari kedua orangtuanya untuk dibahagiakan lahir batin, bukan dibiarkan atau disakiti. Dan untuk nak Laura, kamu jangan sekali-kali berbicara seperti itu lagi kedepannya. Dan jangan ganggu anak saya lagi karna anak saya sudah bahagia dengan hidupnya yang sekarang " Ucapan Pak Handoko yang membuat Laura terdiam.
"Ahhh, Bu-Bukan seperti itu Pak, maksud saya adalah, jika Vian terus-terusan menjaga istrinya kan nanti takutnya perusahaan gak stabil atau mungkin ada kendala lainnya. Kan Vian kerja juga buat istrinya, jadi apa salahnya jika istrinya lebih pengertian lagi. Kurang lebih seperti itu lah maksud saya. Dan saya gk bermaksud menjelekkan mantu Pak Handoko " Jawab Laura sedikit gugup
"Nak, urusan Vian biarlah urusannya. Kamu jangan ikut mengatur, karna bagaimana pun itu istrinya. Vian meminta Cinta kepada kedua orangtuanya dan berjanji akan membahagiakan lahir batinnya. jadi jika Cinta dimanja seperti ini itu sudah kewajibannya. Toh perusahaan ini juga milik saya, kita membangunnya dari 0 bersama jadi menjalankan juga bersama" Jawab Pak Handoko.
"Saya harap kamu jangan menbawa masa lalumu kedalam rumah tangga anak saya" Tegas Pak Handoko dengan kuat membuat Laura kaget.
__ADS_1
"Sial, orangtua ini sepertinya sudah tau kalau aku masih mengharapkan anakknya. Gak bisa dibiarkan " Batin Laura.
"Ahhh, Bapak tenang saja. Saya dan Vian hanya sebatas rekan kerja saj dan tak lebih. Saya mohon maaf jika ucapan saya tak mengenakan ya pak. Kita langsung saja keintinya untuk menbahas proyek kita saja yaa pak" Elak Laura.
Flashback off.
"Sial, bagaimana bisa orangtua itu bisa tau kalau aku masih suka dengan Vian. Gak bisa dibiarkan seperti ini. Bisa-bisa dia jadi penghalang untuk hubungan ku dengan Vian. Gak boleh terjadi, aku harus membuat dia bertekuk lutuh denganku, jika tidak ...... Hah, mungkin perlu aku singkirkan. Hemmmh... Yaa, siapapun penghalang nya akan aku singkirkan walau itu calon mertuaku " Ucap Laura sinis.
***
"Gak Sayang. Papa yang sementara dikantor jadi aku cuti dulu" Jawab Vian santai
__ADS_1
"Kenapa ? Kok tumben, kan kita dirumah aj gak lagi libur atau ada acara. Kenapa Papa yang gantiin kamu dikantor" Binggung Cinta.
"Gak mungkin kalau aku bilang kalau Laura mau mengusik rumah tangga ku dan Cinta. Yang ada nanti dia semakin kepikiran" Batin Vian.
"Vian.... Kenapa ? Kok malah diem" Panggil Cinta.
"Ahhj, gak sayang. Jadi ada satu perusahaan yang mengajukan kontrak kerjasama dan itu teman Papa jadi Papa sendiri yng tangani" Bohong Vian.
"Ohhh, gitu. Tapikan kamu bisa kerja yang lain gak eorku sampai libur. Kasihan kan Papa kerja sendiri. Mungkin kamu bisa bantu atau apa gitu sana" Omel Cinta.
"Sayang disana ada Bagus, jadi buat apa binggung. Udah aku disini aja menemani istriku yang cantik ini, sayang banget kalau ditinggal-tinggal terus. Nanti kalau diambil semut gimana. Nanti aku bakal sedih" Manja Vian sambil menyenderkan kepalanya kepundak Cinta.
__ADS_1
"Apa sih, alay" Malu Cinta.
...****************...