
"Laura. Dari mana saja kamu. Tengah malam baru pulang. Mau jadi apa kami sebenarnya". Bentak Papa Laura saat menunggu anakknya ini pulang.
"Aku capek pa". Jawab Laura tanpa melihat Papanya.
"Capek kamu bilang. Apa yang kamu lakukan sampai kamu capek, Laura kenapa kamu seperti ini nak. Papa hanya mau kamu meneruskan busnis Papa. Hanya kamu anak satu-satunya Papa nak. Kalau bukan kamu siapa lagi".
"Pa, aku juga capek kayak gini pa. Aku gak mau hidup kayak gini pa, aku capek". Teriak Laura sambil menangis.
"Apa maksud kamu. Apa Papa terlalu memaksamu?" Panik Papa Laura.
"Aku capek pa, capek". Isak Laura dan belari masuk kamar. Dia sangat frustasi dengan yang dia alami. Dia membanting semua yang ada dikamarnya. Dia sangat binggung harus berbuat apa dan bagaimana kedepannya. Apakah ada lelaki yang mau menerimanya ? Atau dia harus hidup dengan lelaki brengsek seperti Alex itu ? Pikirannya sangat kacau sekali.
***
Ting Tong Ting Tong. Suara bel rumah.
"Bunda, Ayah ? Mengapa tak memberitahu Vian jika kesini ? kan Vian bisa menjemput dulu tadi". Ucap Vian setelah membukakan pintu.
"Tak apa nak Vian, pasti kamu sibuk mengatur waktu kerja dan menjaga Cinta". Jawab Pak Bram.
"Ahh, mari masuk yah" Ajak Vian. Mereka pun masuk bersama dan duduk diruang tamu.
"Mau minum apa Bun, Yah? ". Tanya Vian.
__ADS_1
"Tak usah nak, nanti saja. Cinta dimana ?". Tanya Bunda.
"Cinta sedang keluar jalan-jalan sebentar dengan Putri Bun, tadi Vian temani tak mau. Katanya gak lama, mungkin setelah ini akan pulang". Jawab Vian.
"Ahh, memang anak itu mirip dengan Bunda nya. Keras kepala". Jawab Pak Bram.
"Kenapa bisa aku Yah ? itu juga anakmu. Jadi sifatnya mirip dengan kita dong". Jawab Bunda. Dan membuat Ayah dan Vian tertawa.
Tak lama kemudian asisten rumah tangga Vian keluar dengan membawa minuman dan cemilan. Mereka bercanda sejenak sampai Putri dan Cinta pulang.
"Lho Bunda, Ayah. Sejak kapan disini, mengapa tak memberitahu Cinta ? Kan Cinta bisa pulang lebih Cepat". Kata Cinta sambil duduk disamping Bundanya.
"Tak apa nak. Ibu hamil juga perlu jalan-jalan untuk menghilangkan penat dirumah. Biar gak sumpek" Jawab Bundanya.
"Iya Sayang. Hati-hati". Ucap Bundanya.
"Mau aku temani?". Tawar Vian.
"Gak usah, Kamu menemani Bunda dan Ayah saja disini". Jawab Cinta dan berjalan menuju kamarnya.
"Sepertinya anak yang dikandung putriku perempuan, dia lebih cantik dari biasahnya". Ucap Ayah Cinta.
"Kamu ini yah, jelas-jelas wajah Cinta ada jerawat dan dia sangat semangat seperti itu, jelas laki-laki anakknya. Kamu tak tau jangan asal bicara". Jawab Bundanya.
__ADS_1
"sepertinya kita harus taruhan nih Bunda, benar perkataan Ayah atau Bunda. Kalau kamu nak Vian bagaimana?". Tanya Pak Bram balik
"Ahh, kalau saya apapun saya terima Yah, Asalkan ibu dan anak sama-sama selamat dan sehat". Jawab Vian.
"Itu Yah, apa yang dikata nak Vian benar. Kamu ini belum-belum sudah mengajak taruhan" Jawab cepat Bunda.
"Tapi kan kamu juga menerima kan? Mengapa sekarang begini". Ejek Ayah membuat Vian tertawa.
"Lagi ngomongin aku yaa?". Tanya Cinta tiba-tiba.
"Ehhh, kamu cepat sekali nak mandinya". Jawab Bunda Cinta.
"Karna tadi Cinta mandinya cepat-cepat biar Bunda sama Ayah gak menunggu lama-lama. Nanti kalian keburu pulang lagi". Jawab Cinta sambil duduk disamping Vian.
"Kamu sedang hamil nak. Jadi jangan sering-sering keluar sendiri meskipun dengan putri. Kalau bisa sama Vian, suami kamu atau sama Ayah. Harus ada laki-laki nya. Jadi kalau ada bahaya atau apapun nanti bisa melindungi" Nasehat Ayah nya.
"Iya Ayah. Tadi cuma Putri menemani Cinta jalan-jalan sebentar kok". Jawab Cinta.
"Iya Ayah mengerti. Cuma lain kali lebih baik pergi bersama suamimu saja".
"Iya Ayah". Jawab Cinta lagi.
...****************...
__ADS_1