Suami Pilihan Ayahku

Suami Pilihan Ayahku
Penyesalan


__ADS_3

Vian yang berusaha untuk menutupi kesedihannya, melihat wajah istrinya yang masih menutup matanya. Vian sangat takut jika Cinta tak bisa menerima musibah ini. Walau bagaimanapun, dia harus bisa menguatkan Cinta walaupun dia juga sangat merasa kehilangan juga. Tak lama kemudian Cinta membuka matanya perlahan. Dia masih binggung dan memegangi kepalanya. Dia melihat-lihat sekeliling nya.


"Sayang, kamu sudah sadar?". Tanya Vian dengan memenggangi kiat tangan Cinta.


"Ini dimana Vian, dan kamu kenapa disini juga?" Cinta sejenak mengingat dengan pertemuan tadi padi dengan Kirana dan dia langsung melihat perutnya yang sudah rata.


"Di... dimana bayiku. Kenapa perut ku rata Vian. Mana bayiku, mana anak kita" Panik Cinta sambil mengusap-usap perutnya.


"Vian, jangan diam saja. Mana bayiku Vian, mana..." Teriak Cinta lagi.


"Sayang, kamu tenang dulu ya. Kamu baru sadar, kamu jangan banyak gerak dulu. Sekarang kamu istirahat dulu". Jawab Vian sambil ingin menidurkan Cinta kembali,tapi Cinta menghindar.


"Jawab pertanyaan ku Vian, dimana bayiku..." Teriak Cinta lebih keras. Sejenak Vian terdiam, dia sangat tidak tega memberitahu yang sebenarnya.


"Jawab aku Vian, atau aku akan tanya dengan dokternya sendiri. Dokter..... dimana bayiku dok.... dimana...." Teriak Cinta sambil berusaha turun dari ranjangnya.


"Cinta, kamu tenang dulu Sayang. Anak kita sudah tenang disisinya. Anak kita sudah disurga Sayang. Kita harus ikhlas". Peluk Vian sambil menangis


"Disurga? Hah, hahahaha.... Kamu bohong kan Vian, anak kita pasti sedang diruangannya kan. Pasti anak kita sedang menunggu ku Vian biarkan aku melihatnya". Ronta Cinta lagi.


"Cinta, anak kita belum masuk Tri semester, kecil kemungkinannya untuk hidup jika kamu mengalami pendarahan yang begitu hebat. Maafkan aku Sayang, aku gak bisa menjaga mu dengan baik. Maafkan aku, kamu bisa marah dan bisa juga menghukum ku. Tapi aku mohon , ikhlas kan anak kita. Dia sudah bahagia disurga Sayang". Mohon Vian dan membuat Cinta semakin keras menangis.


"In... ini semua karna mereka.... mereka Vian yang telah membuat anak kita meninggal. Mereka harus merasakan apa yang kita rasakan Vian, aku mau mereka menebus kesalahan mereka Vian. Hukum mereka Vian". Isak Cinta.


"Kamu tenang dulu Sayang. Aku akan membuat mereka menderita karna telah membuat kita berpisah dengan anak kita Sayang. Kamu tenang saja yaa" Ucap Vian menenangkan nya.

__ADS_1


"Mereka siapa yang dimaksud Cinta, apa benar dugaan ku jika ada seseorang dibalik kecelakaan ini. Tapi siapa?" Batin Vian.


***


"Bunda... Bunda..." Teriak Pak Bram.


"Apa sih Yah, kenapa teriak-teriak begitu. Pulang gak salam malah teriak seperti itu. Bunda gak tuli Yah" Jwab Bunda sambil melihat siaran di TV.


"Bun, Cinta bun" Kata Pak Bram gemetar.


"Cinta kenapa Yah? Ada apa dengan anak kita?" Panik Bunda.


"Cin... Cinta. Dia...."


"Dia apa Yah? Bicara yang jelas. Jangan menakuti Bunda". Jawab Bunda kesal


Pyarr.... Gelas yang dipegang Bunda jatuh begitu saja saat mendengar ucapan suaminya itu


"Ayah bercanda kan yah, Ini Ayah hanya ingin membuat lelucon kam yah?"


"Bun, mana mungkin Ayah bisa bercanda dengan situasi seperti ini. Ayah barusan dapat kabar dari supir Vian, sekarang vian6dan cinta dirumah sakit. Cinta histeris tak bisa menerima jika anaknya meninggal Bun" Jawab Pak Bram.


"Ayo yah, Ayo kita kerumah sakit sekarang" Panik Bunda dan langsung mereka menuju rumah sakit.


***

__ADS_1


"Bagaimana jika Cinta dan bayinya kenapa-kenapa. Apa aku menghubungi Cinta saja untuk memastikan nya. Tapi, jika yang menerima Vian bisa kacau. Akhhhhh... kenapa aku bisa kecolongan sih sama Kirana" Batin Bara kesal.


"Kamu masih memikirkan mantan pacar kamu itu" Tanya Kirana tiba-tiba.


"Tidak" Singkat Bara.


"Gak usah kamu tutupi, sudah sangat terlihat jelas. Asal kamu tau, itu baru permulaan aku membuat perhitungan dengannya. Jika kamu masih mencari-cari dia, maka aku gak akan tinggal diam saja" Ancam Kirana.


"Sudahlah ini sudah malam juga, lebih baik kita bersenang-senang saja" Lanjut Kirana sambil mencoba mencium Bara.


"Kamu sedang hamil muda. Bukannya harus menunggu sampai umur kandungan mu 4 bulan baru bisa melakukannya" Tolak Bara dan dia membaringkan tubuhnya.


"Sial" Batin Kirana kesal


"Aku tak akan tinggal diam jika kamu masih terus mencari dia bar. Aku Pastika kamu akan menyesal jika kamu terus mencari-cari dia dan berusaha untuk meninggalkan aku. Kamu lihat saja" Batin Kirana lagi.


***


"Sayang, sudah yaa ikhlas kan semua. Bunda yakin kamu akan bahagia nak. Ini ujian yang harus kamu dan Vian lalui bersama, pasti kalian akan menemukan kebahagiaan nantinya jika kalian saling menguatkan" Nasehat Bunda.


"Ta... tapi bun"


"Sayang, semua yang kita punya akan kembali kepada yang diatas. Mungkin belum rezekimu nak. Pasti nanti akan digantikan dengan yang lebih. Kamu harus kuat Sayang jangan lemah seperti ini. Oke" Ucap Bunda lagi dan diangguki Cinta.


"Sudah, jangan berlarut dalam kesedihan. Jangan menangis lagi Sayang kamu harus kuat" Kata Bunda sambil mengusap air mata Cinta. Bunda pun memeluk cinta untuk memberikan kekuatan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2