Suami Pilihan Ayahku

Suami Pilihan Ayahku
Kawatir


__ADS_3

"Tumben yaa Yah, Cinta udah lama gak jenguk kita. Biasahnya setiap minggu dia kesini. Apa Cinta ada masalah yaa pa?" Kawatir Ibu Cinta.


"Bun, Cinta sudah bukan anak kecil kita lagi, dia sudah menjadi istri orang Bun. Dia sudah besar, sudah ada juga yang menjaganya. Kita sebagai orangtua mendoakan saja dari sini Bun" Jawab Pak Bram.


"Tapi bagi Bunda, Cinta tetap anak Bunda yang masih kecil. Masih harus dinasehati dan dibimbing Yah. Kadang Bunda juga sangat kawatir Yah dengan anak kita sematang wayang kita itu" Jelas Bunda lagi.


"Bun, Ayah juga sama. Tapi mau bagaimana lagi, Cinta juga berhak bahagia dengan jodohnya Bun. Gak selamanya Cinta selalu dengan kita, dia punya kehidupan selanjutnya Bun. Kita hanya mengawasi dari kejauhan dan menolongnya jika dia terjatuh dan ikut bahagia jika dia bahagia. Bunda yang kuat ya" Tutur Pak Bram lagi. Bunda hanya mengangguk dan menitikkan air mata nya.


***


Bara yang semakin hari semakin mengila. Dia selalu teriak-teriak dan kadang juga menangis tanpa sebab. Membuat Mama Bara semakin sedih. Sedangkan Kirana sibuk mencari pasangan untuk pemuas dirinya.


"Yah, ini semua karna kamu. Kamu yang gila harta itu telah membuat anak satu-satunya gila seperti ini. Puas kamu sekarang ha? Puas kamu?" Bentak Mama Bara sambil membanting vas bunga didepannya.


"Kenapa kamu diam saja ha? Dasar orang gak tau malu, kamu yang telah membuat keluarga kita yang dulunya harmonis sekarang menjadi neraka seperti ini. Akkhhhhh...... " Teriak Mama Bara semakin histeris.

__ADS_1


"Lebih baik aku mati saja" Teriaknya lagi sambil mengoreskan pergelangan tangannya dengan pecahan vas bunga tadi. Pak Tama yang melihatnya sangat kaget dan langsung berlari kearah Mama Bara yang sudah tergeletak tak berdaya dengan cucuran darah ditangannya.


"Ma, bangun Ma. Mama Ayah mohon bangun Ma. Maafkan Ayah Ma maafkan" Pecah tangisan Pak Tama saat melihat istrinya ini tak berdaya. Sedangkan anaknya yang terus menerus berteriak didalam kamarnya.


***


"Sayang... Lagi apa?" Peluk Vian dari belakang.


"Gak lagi apa-apa. Cuma mau menghirup udara segar aja" Jawab Cinta.


"Kamu gak kedinginan? Kita masuk yaa, nanti kamu masuk angin. Gak bagus lama-lama kena angin malam" Ucap Vian sambil mengecup leher belakang Cinta.


"Tapi kan disini dingin. Nanti kamu bisa masuk angin" Jawab Vian lagi sambil meraba perut Cinta.


"Habis ini, kamu masuk dulu aja aku masih mau disini" Tahan Cinta. Cinta yang berdiri dibalkon sudah hampir sejam utu dengan tatapan kosongnya. Entah apa lagi yang tengah difikirkan nya. Vian yang tak mau kalah begitu saja terus menggodanya. Dia perlahan melepaskan tali baju kimono tidur Cinta. Cinta yang kaget membalikkan badannya spontan.

__ADS_1


"Vian-"


Cup. Satu ciuman mendarat di kening Cinta dam berjalan kebibir lembut Cinta. Saat ciuman itu ingin menjelajah lagi, Cinta menahannya.


"Ini dibalkon Vian, nanti kalau ada orang yang tau gimana" Ucap Cinta kawatir.


"Kalau gitu kita lanjut di kamar" Jawab Vian menggendong Cinta masuk kamar.


"Vian, aku lapar. Aku mau minum Vian" Tahan Cinta dengan tangannya saat Vian ingin mencium lehernya.


"Kalau lapar makan Sayang. Kalau mau minum berati kamu haus" Jawab Vian menarik tangan Cinta pelan.


"Ak-aku laper dan haus maksud nya Vian" Elak Cinta lagi.


"Nanti" Singkat Vian. Vian mulai membuka bra Cinta dan memainkan mainannya. Disusul dengan tangan Vian yang aktif dibawah sana. Cinta hanya bisa terhanyut dengan permainan nya. Berkali-kali Cinta mencapai pelepasan nya. Vian sejenak memandangi pink meronanya itu. Dia mengelus-elus nya dengan ibu jarinya. Cinta yang semakin terbuai dengan perlakuannya.

__ADS_1


"Vian.... Akuhhh mau sekarang" Dengan mata sayupnya. Vian tersenyum puas dengan respon Cinta yang tak biasanya itu.


"Baik Sayang ku" Jawab Vian mengarahkan miliknya kedalam sana. Mereka menikmati malam mereka yang panas itu berdua.


__ADS_2