
"Apa yang harus aku lakukan. Dan, bagaimana jika Papa Laura tau bahwa anaknya tengah hamil di luar nikah. Bahkan sebelum lahir bayi itu sudah tiada. Tapi.... Mengapa Laura keluar dari kamar hotel sendiri, dan dia mengalami pendarahan ? Apa itu kamar hotel Pria yang telah menghamilinya ?" Batin Vian.
"Emhhhhhh" Sadar Laura sambil memegang kepalanya.
"Apa yang terjadi.... Aw kepalaku.... Stthhh.... Perutku " Rintih Laura.
"Kami jangan bangun dulu Laura " Ucap Vian. Laura sedikit kaget dengan adanya Vian di sampingnya.
"Ka... Kamu kok bisa disini?" Binggung Laura.
"Bukannya terakhir kali aku ingat, aku diluar kamar hotel Alex dan berusaha untuk kabur. Dan sekarang..... Aku di rumah sakit. Apa Vian yang....." Lamun Laura.
"Kamu gak papa kan ? Kamu pingsan dan pendarahan hebat. Jadi aku membawamu kesini" Ucap Vian lagi. Laura masih diam dan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan di hotel kemarin? Apa Papa mu sudah tau tentang kehamilan mu?"
Laura yang mendengar kata hamil dari mulut Vian langsung menoleh kearah Vian dengan mata berkaca-kaca. Dia sangat malu dan binggung harus bagaimana.
"Tapi..... Kamu harus tabah Laura. Karna....." Laura melirik sedikit Vian saat Vian ingin menyampaikan sesuatu.
"Dia....... Bayimu.... " Vian bingung untuk menyampaikan nya. Dia takut jika Laura akan bersedih seperti Cinta waktu itu. Sesekali Vian mengusap rambutnya dan menggaruk kepalanya.
"Dia meninggal...... karna pendarahan nya sangat hebal. Tapi kata dokter ada kekerasan diperutmu yang menyebabkan kamu keguguran. Apa benar kamu di siksa oleh kekasihmu karna kamu hamil?" Tebak Vian. Laura kaget dengan apa yang ditebak Vian. Dia benar jika dia di siksa oleh Alex. Dan dia juga benar jika bayi ini tidak diinginkan Alex lagi. Tapi disisi lain Laura sangat Senang karna bayi yang dia kandung dengan Alex meninggal. Jadi dia tidak akan memiliki beban.
"Kami yang sabar yaa Laura. Kamu harus kuat" Semangat Vian sambil memegang pundak Laura. Laura yang menyadari nya langsung pura-pura meneteskan air matanya.
"Ak.... akku.... Aku.... hiks...."
__ADS_1
"Sudah, kamu harus bisa mengikhlaskan semua ini Laura. Kamu harus kuat" Ucap Vian lagi
"Ta... pi... Bayi ku.... Anakku Vian..... anakku...." Laura menangis sejadi-jadinya agar Vian mau memeluknya.
"Kamu yang sabar yaa" Tenang Vian sambil memeluknya. Laura tersenyum puas dengan yang dia lakukan berhasil. Dia mencium baju Vian dipundak yang meninggal kan bekas lipstik disana. Vian tak menyadarinya dan terus berusaha menenangkan Laura yang tengah bersedih.
***
"Sudah malam Vian kemana yaa? Apa dia kerumah Papa, atau Papa masih membutuhkan Vian untuk masalah bisnis " Batin Cinta sambil bolak balik dibalkon kamar mereka.
"Hah, Vian kemana sih. Dihubungi gak bisa. Biasahnya dia menghubungiku jika ada urusan lainnya " Kesal Cinta dan menghempaskan tubuhnya di sofa empuk yang ada dibalkon kamarnya.
"Apa aku coba telvon Papa aja ya? Tapi aku gak enak sama Papa. Takutnya nanti Papa berfikir kalau aku suka mengatur Vian dan membatasinya. Aduhh, gimana yaa" Binggung Cinta lagi. Tiba-tiba saat dia tengah kesal, dia mengingat dengan Laura yang terus mengejar suaminya itu. Tiba-tiba dia lebih kesal lagi dan mulai berfikir yang tidak-tidak lagi
__ADS_1
"Gak, aku gak boleh berfikir negatif lagi. Gak mungkin Vian aneh-aneh. Dia kan sayang sama aku. Gak mungkin jika dia bermain api dibelakang ku. Aku harus mempercayai Vian. Pasti dia sekarang masih sibuk dengan urusan kantornya sampai gak sempat menghubungi ku. Aku gak boleh berprasangka buruk kepada Vian. Aku gak mau keharmonisan kami hancur begitu saja karna masalah gak jelas ini"
...****************...