
"Sayang, Aku berangkat kerja dulu yaa. Kalau ada apa-apa kamu langsung telvon aku. Jangan kerja berat-berat dan kalau mau apa-apa sekiranya yang membahayakan, kamu minta tolong pembantu saja yaa. Kamu istirahat yang cukup dan jangan lupa minum vitamin kamu, oke". Ucap Vian sebelum berangkat kerja.
"Iya, udah kamu berangkat nanti kamu terlambat". Jawab Cinta yang mulai bosan dengan ucapan yang setiap pagi selalu dilontarkan suaminya itu saat ingin berangkat kerja.
"Iya aku berangkat. Tunggu aku pulang yaa. Gak sampai malam aku sudah dirumah". Kata Vian sambil mengecup kening istrinya dan tak lupa mencium perut Cinta.
"Papa berangkat dulu yaa Sayang. Baik-baik disana dan jangan bikin Mama kamu kesusahan. Jadi anak baik Sayang". Ucap Vian mengelus perut istrinya.
"Siap Papa". Jawab Cinta. Tak lama kemudian Vian menjalankan mobilnya.
"Oke, sekarang kita masuk Sayang". Kata Cinta berjalan masuk.
"Cinta". Teriak seseorang.
"Iya.." Jawab Cinta menoleh kebelakang.
"Bara" Kata Cinta kaget. Kenapa dia bisa tau rumah Cinta. Padahal hanya orangtua dan mertua Cinta yang tau alamat rumah mereka. Dan juga Putri sahabat Cinta dan tak mungkin memberitahu kan kepada Bara. Karna Putri lah satu-satunya orang yang sangat bahagia saat mengetahui bahwa Cinta putus dengannya.
"Cinta, akhirnya aku bisa bertemu dengan mu lagi". Peluk Bara tiba-tiba membuat Cinta kesal.
"Lepasin". Dorong Cinta dan melepaskan pelukannya.
"Aku rindu denganmu Cinta. Aku terus mencari tempat tinggal mu. Dan akhirnya aku bisa menemukan kamu. Cinta, apa kamu juga rindu denganku?". Tanya Bara penuh harap.
"Apa kamu gila ? Aku sudah punya suami dan sebentar lagi akan menjadi ibu. Mana sempat aku merindukan mantan seperti kamu" Ketus Cinta.
"Cinta, aku tau kamu masih ada rasa sama aku kan? iya kan Cinta?". Yakin Bara lagi.
"Hah, iya ada rasa. Rasa ingin membunuhmu". Ketus Cinta lagi dan berjalan masuk kerumahnya.
"Tunggu Cinta". Tarik Bara.
"Bara lepasin sakit". Ronta Cinta.
"Dengarkan aku Cinta. Aku mohon maafkan semua kesalahanku, aku janji aku akan buat kamu bahagia dari sebelumnya. Aku janji Cinta. Aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi". Mohon Bara.
"Bara..." Teriak Kirana dari belakang. Dan dengan cepat Cinta melepaskannya genggaman Bara saat Bara menoleh kebelakang.
"Kirana". Ucap bara sedikit kaget
__ADS_1
"Jadi ini yang kamu bilang ada rapat mendadak. Kamu mau bertemu dengan wanita ****** ini ha? Apa bagusnya wanita seperti dia? Dia gak ada apa-apanya dibandingkan denganku Bara". Bentak Kirana.
"Aku sudah memberikan semua kepadamu. Bahkan aku tengah hamil pun kamu tak melirikku dan malah menemui wanita ****** seperti ini. Kamu benar-benar keterlaluan Bara". Teriaknya lagi membuat Cinta kaget.
"Dan kamu ******, Kamu udah punya suami dan sedang mengandung mengapa masih menggoda suami orang kamu mau merebut suami orang ha? Wanita sialan". Bentak Kirana dan menjambak rambut Cinta membuat Cinta kesakitan.
"Auhhhh... ahhhh... Kirana lepaskan". Ronta Cinta.
"Kirana, kamu jangan gila. Bukan Cinta yang mencari-cari ku tapi aku yang terus mencari nya". Kata Bara dan berusaha menarik Kirana mundur.
"Aku gak mau tau, karna kehadiran wanita ini kamu selalu mengabaikan aku dan lebih memilih dia. Lebih baik dia mati saja. Dasar ******" Kata Kirana lagi dan terus menjambak rambut Cinta. Cinta terus melawan dengan ganti menjambak rambut Kirana.
"Akhhhhh... Wanita sialan kamu berani menjambak ku". Teriak Kirana.
"Sudah Kirana kamu jangan terus menjambak Cinta, dia sedang hamil kir". Pisah Bara tapi tak ada hasilnya.
Mereka yang terus saling menjambak dan saling memaki. Cinta yang tak sengaja mendorong tubuh Kirana karna dia sangat kesal dengan perbuatan nya.
"Akhhhh... Dasar Wanita ******, beraninya kamu mendorong ku". Bentak Kirana dan ganti mendorong Cinta sampai terjatuh kebawah teras yang lumayan tinggi.
"Akhhhhhh" Teriak Cinta.
"Cinta" Teriak Bara yang kaget.
"Akhhhhh perutku sakit" Ucap Cinta yang terus memegangi perutnya dan meringis kesakitan.
"Cinta, kamu... Kamu pendarahan" Kata Bara saat melihat darah segar keluar.
"To.. tolong panggilkan supirku akhhhhh sakit". Tangis Cinta lagi karna tak kuat menahan sakitnya lagi.
"Aku antar kamu kerumah sakit sekarang yaa... Kamu tahan sebentar". Jwab Bara yang ingin menggendong Cinta.
"Apa-apaan kamu, didepan istri sah kamu, kamu ingin membawa wanita ****** ini pergi. Kamu gak ada otak apa?" Bentak Kirana kesal.
"Kir, ini keadaan gawat. Ini juga karna kamu. Sekarang kamu minggir biar aku bawa dia, ini darurat".
"Gak, biar kan dia sama suaminya sendiri, sekarang kamu pulang bersama ku". Tarik Kirana.
"Kir, ini darurat kir. Kamu jangan egois. Kamu bisa ikut bersama kami kalau kamu tak percaya, tapi kumohon bantu dia. Dia seperti ini karna kita".
__ADS_1
"Enak aja. Siapa suruh jadi wanita ******, biarkan saja biar dia mati bersama anak s*al*n itu. Ayo cepat kita pulang". Tarik Kirana lebih keras lagi. Kirana yang terus menarik dengan kuat dan berhasil membawa suaminya pergi dari rumah Cinta. Sementara Cinta yang msih tergeletak diteras rumahnya dan terus berteriak meminta tolong.
"Yaa ampun Nona Cinta, Nona kenapa bisa seperti ini ?". Kaget supir Cinta saat berlari keluar setelah mendengar Cinta minta tolong.
"Akhhhh sakit pak, tolong selamatkan bayi saya". Isak Cinta.
"Baik Nona, kita kerumah sakit sekarang. Bik, bibik cepat kemari bik" Teriak supirnya.
"Haduh, bibik mana sih. Bibik...." Teriaknya lagi.
"Aduh, kenapa sih ka... Yaa ampun Nona Cinta, ada apa ini kenapa Nona bisa terjatuh?". Kaget bibik saat keluar dari dalam sambil membawa sapu dan lap.
"Sudah jangan banyak bicara, kamu telvon tuan dan bilang untuk segera menyusul kerumah sakit sekarang". Ucap supir Cinta dan menjalankan mobilnya.
"Iya, hati-hati. Semoga Nona dan anaknya selamat" Jawab bibik dan pergi kedalam untuk menelvon Vian.
Sesampainya di rumah sakit Cinta langsung ditangani, sementara Vian yang baru sampai.
"Kenapa bisa seperti ini Pak? Kamu sama bibik kemana kenapa bisa kecolongan seperti ini? akhhhhhhh sial". Panik Vian sambil meremas kasar rambutnya.
"Maaf tuan, tadi saya kekamar mandi, saat keluar saya mendengar teriakkan Nona Cinta baru saya berlari keluar dan sudah melihat Nona tergeletak diteras berlumuran darah, lalu saya bawa kesini. Sedangkan bibik sedang membersihkan ruang kerja tuan" Jawab supir Vian ketakutan.
"Sial, kenapa tadi aku kerja. Sayang maafkan aku, maafkan jika Suami mu ini sangat tak berguna". Kesal Vian dengan dirinya sendiri.
Tak lama kemudian dokter keluar dari UGD dan Vian langsung berlari untuk menanyakan keadaan istrinya.
"Dok, bagaimana keadaannya? dia dan anak nya baik-baik saja kan? iya kan dok?". Tanya Vian panik.
"Tenang dulu pak. Apa bapak suaminya?" Tanya dokter.
"Iya dok, saya suaminya. Bagaimana keadaannya dok? dia baik-baik saja kan?". Tanyanya lagi.
"Allhamdullillah, Pasien baik-baik saja, tapi.... Anak bapak dan ibu tidak bisa terselamatkan" Jawab dokternya.
"Apa dok? Ke... kenapa bisa dok" Kaget Vian lemas
"Pendarahan sangat hebat Pak dan bayinya meninggal saat pasien dibawa kesini. Kami turut berdukacita pak. Dan untuk sementara waktu mungkin kecil kemungkinannya untuk cepat memiliki anak lagi karna kondisi rahim yang masih belum pulih karna pendarahan hebat ini. Kalau begitu saya pergi dulu. Anda boleh masuk tapi jangan ajak bicara yang terlalu berat untuk pasien. Saya akan berikan resep obat dan vitamin untuk pasien agar cepat pulih". Jawab dokter itu dan pergi meninggalkan Vian yang masih terdiam yang masih tak percaya bahwa dia dan Cinta harus mengalami musibah seperti ini.
...****************...
__ADS_1