
Setelah kedatangan Pak Handoko, Cinta nampak sedang melamun memikirkan sesuatu. Yaa benar, tentang Laura dan Vian. Cinta sangat binggung dengan ucapan Papa mertuanya itu. Dan juga tentang Vian yang sudah lama menginginkan Cinta. Apa Vian pernah bertemu dengannya dimasa lalu. Mengapa Cinta tak mengingatnya sama sekali?.
"Apa aku harus menanyakan langsung sama Vian, tapi aku malas jika menanyakan dulu. Apalagi soal mantan tunangannya itu. Tapi, kalau aku tak menanyakan aku bisa gila sendiri memikirkan masalah ini yang gak ada ujungnya. Yang ada aku malah selalu dihantui cewek itu dengan semua kelakuan nya yang kegatelan itu" Batin Cinta.
"Seperti nya memang benar yang diucap Papa, jika aku diam saja dan menyimpan sendiri, nanti malah muncul masalah baru dan semakin rumit. Lebih baik aku tanyakan langsung saja. Apa maksud wanita itu dan apa sebenarnya yang sudah terjadi diantara mereka. Jika memang mereka sudah pernah terlibat dalam cinta dimasa lalu, mungkin akan sukit untukku bersaing dengannya. Belum lagi penampilan wanita itu seperti kucing liar yang ingin memakan ikan saja. Hah, memikirkan nya saja sudah membuatku kesal" Batin Cinta lagi Sambil cemberut. Cinta yang masih hanyut dengan lamunan nya, tak menyadari bahwa Vian sudah pulang.
"Memikirkan apa Sayang, sampai suaminya pulang gak tau" Peluk Vian membuyarkan lamunan Cinta.
"Kakamu sudah pulang. Sejak kapan?" Kaget Cinta.
"Sejak kamu memanyunkan bibir kamu" Jawab Vian yang masih memeluk Cinta dari belakang.
"Kapan aku begitu" Elak Cinta.
"Hahaha, tapi sangat cantik saat bibir kamu maju seperti ini" Ejek Vian sambil memanyunkan bibirnya meniru kan Cinta.
"Apasih, gak lucu tau" Jawab Cinta sambil tertawa dan menutup mulut Vian.
"Akhirnya, Istriku yang cantik dan manis ini bisa ceria lagi. Kamu kenapa sih Sayang akhir-akhir ini sering diam seribu bahasa? Aku ada salah? Atau aku lupa sesuatu sampai kamu seperti itu? Aku hampir gila memikirkan itu semua Sayang. Jangan begitu lagi yaa, kalau ada apa-apa cerita sama aku. Kalau itu mengaitkan dengan ku, kamu cerita. Jangan dipendam sendiri Sayang " Kata Vian. Sejenak membuat Cinta diam.
__ADS_1
"Kenapa? Coba cerita dengan ku. Apapun masalahnya jangan dipendam sendiri yaa. Cerita semuanya " Bujuk Vian lagi.
"Apa kamu masih suka sama dia?" Tanya Cinta membuat Vian menaikkan alisnya.
"Dia?" Tanya Vian. Dan Cinta menganggukkan kepalanya.
"Dia.... Siapa ?" Tanya Vian lagi .
"Yaa dia pokoknya, mau siapa lagi". Jawab Cinta yang masih membingungkan Vian.
"Emmmm, Sayang. Suamimu ini masih belum faham dengan yang kamu maksud dia. Dia siapa yang kamu maksud. Bara....?" Tanya Vian lagi.
"Laura ?" Tebak Vian dan diangguki Cinta dengan bibir manyun itu.
"Hahahaha" Vian malah tertawa dengan keras membuat Cinta semakin kesal.
"Kenapa malah ketawa sih. Kamu ngejek aku atau gimana?" Kesal Cinta sambil mencubit lengan Vian.
"Ahhh, sakit Sayang "
__ADS_1
"Salahmu sendiri. Bukannya menjelaskan malah tertawa. Memangnya ada yang lucu?" Kesal Cinta.
"Jadi selama ini kamu diam saja dan cuekin aku karna masalah ini? Kami cemburu Sayang ?" Tanya Vian lagi .
"Gak" Jawab Cinta cepat
"Yakin?
"Iya... Udah cepat jawab jangan tanya terus" Ucap Cinta semakin kesal. Vian yang tak menjawab dan malah mencium leher Cinta membuat Cinta sedikit kaget.
"Vian..... Jawab dulu" Hindar Cinta.
"Tapi aku ingin kamu dulu Sayang " Jawab Vian sambil memasukkan tangannya kedalam celana Cinta.
"Nanti aja" Tahan Cinta.
"Aku maunya sekarang " Jawab Vian. Vian menarik lembut tubuh Cinta kekasur dan menciumi leher Cinta. Semakin turun dan bermain dengan 2 buah yang indah itu . Membuat darah Cinta semakin memanas. Perlahan Vian melepaskan pakaian Cinta sampai tak ada satu benangpun yang menutupi indah tubuhnya.
"Kenapa kamu sangat cantik Sayang " Ucap Vian dengan nafas beratnya.
__ADS_1
...****************...