
~Pagi Hari~
"Emm sudah pagi ternyata" ucap Melati sambil mengucek matanya.
Melati merasa keberatan saat dia ingin mengangkat tangan kirinya, Melati lalu mengarahkan pandangannya ke samping kiri. Melati terkejut dan langsung mendorong Akbar yang sedang memeluk tangan kirinya.
"Yaaaaa" teriak Melati.
Akbar terlepas dari tangan Melati dan terjatuh ke lantai. Akbar lalu terbangun.
"Haduh" ucap Akbar sambil memegang pinggangnya yang sakit.
"Rasain tuh" ucap Melati.
"Kamu dorong aku?" ucap Akbar.
"Iya kenapa emangnya, makanya jadi orang jangan ambil kesempatan dalam kesempitan" ucap Melati kesal.
"Saya tidak melakukannya, saya hanya melakukan yang sepantasnya saja" ucap Akbar.
"Sepantasnya? Apakah memeluk tanganku saat tidur itu pantas, emangnya kamu siapa berani-beraninya kamu memegang tanganku saat tidur. Kamu sadar gak aku itu gak pernah cinta sama kamu" ucap Melati.
"Saya juga tidak cinta sama kamu, saya hanya ingin membuat ayah saya bahagia" jawab Akbar.
"Terserah kamu, apapun alasannya saya juga tidak peduli" ucap Melati sinis.
Melati lalu bergegas meninggalkan Akbar dan pergi ke kamar mandi. Akbar berusaha untuk bangun dan mencoba meraih ponselnya yang ada di atas meja. Akbar berhasil meraihnya dan mencoba menghubungi sekretaris pribadinya.
~Ditelpon~
"Halo" ucap Akbar.
"Ada apa tuan Akbar, apakah ada yang bisa saya bantu di pagi hari ini" jawab sekretarisnya.
"Hari ini saya tidak masuk kerja, tolong kamu yang mengambil alih pekerjaan saya" ucap Akbar.
"Kenapa tuan tidak bisa bekerja, apakah ada sedikit masalah?" tanya sekretarisnya.
"Iya ada masalah, sudah yah saya tutup teleponnya" ucap Akbar.
"Baik tuan" jawab sekretarisnya.
Akbar lalu perlahan untuk berdiri tegak sambil memegangi pinggangnya.
"Ayo Akbar kamu bisa, kamu bukan laki-laki lemah. Kamu pasti bisa menghadapi istrimu itu" gumam Akbar menyemangati dirinya sendiri.
Akbar lalu keluar dari kamarnya untuk menemui Pak Seno.
"Pak Seno hari ini tolong antar saya ke dokter" ucap Akbar.
"Tuan Akbar kenapa?" tanya Pak Seno.
__ADS_1
"Ada sedikit masalah dengan pinggang saya, jadi hari ini saya tidak masuk kerja dulu" ucap Akbar.
"Baiklah Tuan" jawab Pak Seno.
Saat Melati akan keluar dari kamar mandi, Melati mulai merasakan mual dan sedikit pusing.
"Haduh kenapa mual lagi sih, ayo dong cepetan berhenti" gumam Melati sambil memegang wastafel kamar mandi.
Melati lalu mengelus-elus perutnya.
"Kamu mau apa sih nak, kamu apa dari ibumu" ucap Melati pelan.
Melati pun akhirnya keluar dari kamar mandi dan segera berpakaian rapi. Melati lalu menuju dapur untuk sarapan. Wangi aroma masakan Bi Inah tercium hingga ruang tamu, padahal jarak antara dapur dan ruang tamu agak jauh. Perut Melati sangat lapar, karena tadi malam dia tidak makan apa-apa.
"Kamu sabar ya nak, kita sebentar lagi akan makan" gumam Melati sambil mengelus-elus perutnya.
Tak sadar dengan apa yang diperbuatnya, rupanya Pak Seno memperhatikan Melati yang sedang mengelus-elus perutnya sambil tersenyum. Pak Seno kebingungan. Melati tidak melihat sekelilingnya, bahwa ada Pak Seno.
"Non Melati hamil atau lapar yah" gumam Pak Seno sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Melati lalu menghampiri Bi Inah yang sedang menyiapkan sarapan di atas meja.
"Bibi masak apa hari ini?" tanya Melati.
"Hari ini Bibi memasak makanan yang diperintahkan oleh tuan Akbar non" jawab Bi Inah.
"Apa-apaan dia berani-beraninya menyuruh Bi Inah tanpa sepengetahuanku" gumam Melati.
"Oh yaudah Bi, saya sekarang mau makan" ucap Melati.
"Gak usah Bi, ngapain panggil dia. Tuan Akbar bisa makan sendiri, dia bukan anak kecil" tegas Melati.
"Tapi non, peraturan nya kan memang harus seperti itu" jawab Bi Inah.
"Siapa yang berani membuat peraturan seperti itu bi" tanya Melati.
"Itu peraturan Tuan Akbar, kata tuan Akbar. Semua orang yang ada di dalam rumah ini harus makan bersama saat makanan sudah siap" jawab Bi Inah.
"Bibi dengarkan saya yah, bibi gak usah dengerin apa kata tuan Akbar. Saya yang seharusnya membuat peraturan di rumah ini, jadi bibi dan Pak Seno seterusnya hanya mengikuti peraturan saya bukan tuan Akbar" ucap Melati.
"Baik non Melati" jawab Bi Inah sambil mengangguk.
Melati dan Bi Inah lalu menyantap makanan yang ada di atas meja.
"Makanan bibi enak juga yah, gak kalah sama masakan bibi yang ada di rumah saya" ucap Melati sambil menikmati.
"Terima kasih atas pujiannya non" jawab Bi Inah.
"Ayo bibi tambah lagi dong, masa makannya cuman segitu" ucap Melati.
"Baik non" jawab Bi Inah.
__ADS_1
"Bibi habis ini panggil Pak Seno yah untuk makan" ucap Melati.
"Baik non, nanti bibi panggil Pak Seno" ucap Bi Inah.
Setelah makan Melati pun langsung pergi ke kamarnya.
"Saatnya beres-beres kamar dulu" ucap Melati.
"Lalalala duduududu" ucap Melati sambil menyanyi.
Akbar lalu keluar dari kamar mandi dan mengejutkan Melati yang sedang asik merapikan tempat tidur.
"Heiiiii" ucap Melati terkejut dan melempar guling yang ada ditangannya ke arah Akbar.
"Hei hei maaf saya tidak sengaja" ucap Akbar.
"Berani-beraninya kamu yah keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk saja, dasar laki-laki tidak punya sopan santun" ucap Melati, lalu menutup matanya.
"Saya tidak tahu kalau kamu akan ke kamar, kalau saya tahu saya tidak mungkin seperti ini. Dan juga kamu percuma menutup mata, kamu juga sudah melihat saya" jawab Akbar sambil menahan tawa.
"Halah itu hanya alasan mu saja, sekarang kamu cepat kembali ke dalam kamar mandi" ucap Melati kesal.
Akbar lalu masuk kembali ke dalam kamar mandi, Melati sangat kesal dengan Akbar. Tapi tiba-tiba Melati tersenyum sendiri.
"Tapi Akbar kok ganteng banget yah kalo habis mandi" ucap Melati sambil memegang pipinya dan tersenyum kecil.
Melati lalu tersadar
"Melati Melati, kamu harus fokus. Tujuan kamu menikah sama Akbar itu cuman buat minta pertanggung jawabannya saja" gumam Melati sambil menepuk-nepuk wajahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG....................................