
Tak terasa Vian dan Cinta berlibur sudah satu bulan lebih. Dan Cinta sudah memutuskan untuk kembali karna sangat rindu dengan Bunda dan Ayah. Mereka siap-siap untuk ke bandara, di pesawat pun Cinta tertidur lelap karna semalaman dia dibuat melayang oleh Vian. Untuk perpisahan dikota orang. Setelah beberapa jam, akhirnya mereka sampai di bandara dan langsung pulang kerumah Bunda karna jaraknya yang lumayan dekat dari pada ke rumah mereka.
"Bunda...." Teriak Cinta.
"Jangan lari-lari Sayang " Jawab Bunda sambil melebarkan kedua tangannya yang siap memeluk Putri nya tercinta ini.
"Cinta kangen"
"Iya Sayang Bunda juga kangen banget sama kamu" Balas Bunda semakin erat memeluknya.
"Kangen sama Bunda aja nih, Ayah engakk?" Ucap Ayah yang baru ikut gabung.
"Kangen Ayah juga" Jawab Cinta sambil memeluk Ayah.
"Sudah-sudah. Dilihat Vian gak enak, seperti gak ketemu berabad-abad saja. Yuk kita makan siang dulu. Pasti kalian dari tadi pagi belum makan kan?" Ajak Ayah.
"Iya Yah, Cinta terlalu bersemangat sampai gak mau sarapan dulu. Padahal Vian sudah sangat lapar" Jawab Vian.
"Tuh kan. Ayo kita langsung ke meja makan. Dan kamu Cinta, lain kali jangan begini ya. Layani dulu suamimu. Utamakan suami, baru urusan lainnya. Jangan begini lagi. Kamu sudah bukan anak kecil lagi, melainkan istri orang lain" Nasehat Pak Handoko.
__ADS_1
"Iya Yah, maaf" Jawab Cinta sambil menyenderkan kepalanya di bahu Pak Handoko.
"Sudah-sudah, ayo sekarang kita makan dulu" Ajak Bunda. Dan mereka pun makan bersama-sama.
***
"Saudara Laura, ada yang ingin bertemu dengan anda" Ucap polisi sambil membuka kan pintu besi itu.
"Siapa?"
"Papa anda" Jawab polisi itu.
"Silahkan, waktu kalian hanya 30 menit saja. Jadi gunakan sebaik mungkin" Ucap polisi itu dan pergi meninggalkan mereka berdua. Laura duduk dengan santai sambil menatap tajam Papa nya.
"Kenapa? " Tanya Laura ketus
"Ternya meskipun kamu dipenjara sifat kamu masih sama" Jawab Papanya. Laura hany tersenyum kecut mendengar ucapan Papa nya
"Kenapa? Memangnya aku peduli. Kalau gak ada yang dibicarakan, lebih baik pulang saja dan urus dirimu sendiri"
__ADS_1
"Apa kamu tau, bagaimana hati Papa hancur saat mendengar kamu ditangkap polisi dengan tuduhan membunuh anak Vian. Dan tau kembali saat tubuh kamu di gilir dengan beberapa pria? Kamu tau bagaimana hati Papa ha?" Bentak Papanya.
"Lalu?" Jawab Laura santai.
"Kamu......" Bentak Papanya sembari memegang dadanya yang terasa sangat sesak.
"Kenapa ? Bukankah istri Papa itu juga begitu, kelakuannya seperti j*l*ng" Bentak Laura balik.
"Cukup Laura, bagaimana pun dia juga Mama kandung kamu. Yang melahirkan kamu" Suara Papa nya sekarang semakin keras dan menggema di ruangan itu. Terlihat diraut wajah Papanya sangat merah menyembunyikan kemarahan nya.
"Hah, Mama ? Mama yang tega menjual anaknya hanya untuk kesenangan nya sendiri, iya?" Teriak Laura lagi dan dia pun pergi dengan air matanya yang mengalir deras.
"Dia sudah meninggal Laura " Jawab Papanya dengan suara pelanya. Seketika menghentikan langkah Laura.
"Ohhh, bagus. Orang itu memang pantas mendapatkan itu semuanya " Jawab Laura dan pergi meninggalkan Papa nya.
"Maafkan Papa nak, maafkan Papa yang telah gagal mendidik mu. Andai Papa tau dari awal, pasti kamu akan hidup bahagia nak" Guman pelan Papa nya dengan Isak an tangi yang tak bisa dibendung lagi.
...****************...
__ADS_1