System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 21 : Upaya pembalasan (3)


__ADS_3

Erick pamit pada Ariel untuk ikut mengejar penjambret. Ariel pun kini di tinggal sendirian, meneguk minumannya, terus menghela nafas berat.


"Kukira Erick sangat membenci Fian. Kenapa dia ingin menolongnya?" Ariel cuma bisa menerka-nerka.


Fokus ke Erick ...


Erick berlari bukan mengikuti sekumpulan pria lainnya. Dia berlari ke arah lain dengan arahan System.


[Belok kanan, Master]


Arah yang dituju Erick memang bertolak belakang, tapi arahnya sudah benar. System telah memprediksi arah yang bakal dituju si penjambret. Erick pun mengambil jalan pintas. Menerobos beberapa orang yang tengah berpiknik ria, menginjak-injak kebun bunga hingga membuat si tukang kebun marah-marah.


Taman kota itu memang besar. Di dalamnya ada berbagai fasilitas. Bahkan ada wahana naik kuda. Erick bahkan hampir menabrak seseorang yang tengah belajar naik kuda ditemani instruktur. Itu akibatnya karena berlari terlalu cepat.


"Maaf." ucap Erick sambil terus berlari.


"Untung ganteng." teriak si penunggang kuda yang kebetulan seorang wanita. Erick tak bisa menahan untuk nyengir.


"Terima kasih."


Setelah keluar dari area taman, System akhirnya menyuruh Erick agar berhenti.


"Benar di sini, System. Kau tak salah, 'kan?"


[Perhitungan saya 80% benar. Master tak perlu cemas]


"20% itu angka yang besar."


Erick berada di trotoar pinggir jalan, dia dengan sabar menunggu. Mungkin si penjambret sedang kejar-kejaran keliling taman.


[Penjambret menuju ke arah Master]


"Oh, sudah datang."


Erick bersikap senatural mungkin, dia mengeluarkan handphone, pura-pura sok sibuk. Si penjambret semakin dekat, ketika dia berpasangan dengan Erick.


Brukk ...


Erick menghantarkan tubuhnya hingga membuat si penjambret tersungkur jatuh. Sebelum bisa bangkit, Erick bergegas mendekatinya dan menimpuk tengkuk lehernya, hal itu membuat si penjambret pingsan. Erick pun memungut tas yang telah dirampas dari Fian, terus disembunyikan di balik baju.


Para pengejar sampai dengan nafas terengah-engah. Mereka terkejut mengetahui bahwa si penjambret pingsan.


"Maaf, sepertinya saya berlebihan." ucap Erick sedikit menundukkan kepala.


"Oh, tak apa-apa. Jadi, di mana tasnya?" tanya salah seorang dari mereka.


"Saya tak tahu. Penjambret ini tak membawa apa-apa. Silahkan cek." balas Erick berbohong.

__ADS_1


Mereka langsung mengecek tubuh si penjambret, menggeledah untuk mencari tasnya Fian. Hasilnya pun nihil, tak dapat ditemukan. Ya ... karena ada pada Erick.


"Jangan-jangan dia memiliki komplotan dan sudah mengoperkan tas itu?"


"Kemungkinan besar memang begitu. Tapi untuk sekarang, kita cuma bisa membawa penjambret ini ke kantor polisi."


Sekumpulan pria itu lantas kembali dengan si penjambret tanpa dapat menemukan barang curiannya.


[Master menyebutnya sebagai membantu]


"Membantu terhindar dari amukan masa."


Erick kembali ke tempat Ariel beristirahat. Yah, wanita itu masih di sana, nampak menunggu-nunggu kehadiran Erick.


"Hei, Erick. Gimana? Berhasil tertangkap?"


Erick mengangguk. "Tertangkap, tapi tidak dengan tasnya."


"Maksudnya?"


Erick menjelaskan kronologisnya. Ariel serta-merta percaya. Mereka juga mengakhiri acara bersepedanya, yah acara joging. Kini mereka pulang dengan taksi, jika berlari lagi ... maka Ariel akan benar-benar pingsan.


.


.


.


'


"Sudah pulang, nak. Katanya sampai tengah hari?"


"Ah, banyak kejadian tak terduga. Jadi, kami memutuskan untuk pulang." balas Erick yang berjalan menuju kamar mandi guna menyegarkan diri.


"Hmm ... jika mau makan ... semuanya sudah tersedia di meja makan. Ibu mau tidur, rasanya ngantuk."


"Ya." sahut Erick yang suaranya mengecil karena tertelan oleh pintu kamar mandi.


Semasuknya Erick di kamar mandi, dia tak segera menyelesaikan urusannya. Melainkan sibuk mengurus hal lain.


"System, tampilkan rekaman mosquito!"


[Menampilkan rekaman]


[Apartemen dalam keadaan kosong. Fian belum kembali]


"Pasti di kantor pos polisi untuk mengurus kasus penjambretannya. System, tampilkan rekaman kemarin!"

__ADS_1


[Baik, Master]


Monitor holografi yang mengambang di hadapan Erick pun menampilkan kegiatan Fian di kamar mandi dan kamarnya. Tak ada yang aneh, hal yang diperkirakan Erick belum dilakukan oleh wanita itu. Pada akhirnya Erick malah terfokus menonton rekaman ketika Fian mandi. Melihat tubuh nirbusana dari Fian.


"Tubuhnya termasuk bagus. Aku penasaran, sudah berapa kali dia berhubungan s3x."


Suatu ide mendadak terlintas. "Hoh? Aku manfaatkan saja rekaman ini. Menyebar luaskan."


Tapi, beberapa detik kemudian, Erick membantah idenya sendiri. "Huh!" Dia mendengkus kasar.


"Tak ada gunanya. Kerugian yang dialami Fian mungkin cuma rasa malu, tak banyak memiliki dampak. Aku malah memberikan bacol gratis pada para pria menyedihkan. System, kau punya saran?" tanya Erick meminta usulan.


[Manfaatkan pacarnya saja, Master]


"Pacar? Oh, itu ide bagus. Aku akan men-spam video ini ke pacarnya. Terima kasih System."


[Sama-sama, Master]


"Hmm ... sebaiknya aku bergegas mandi, ini sudah terlalu lama. Pasti ibu nanti menceramahi ... 'Jika memang udah kebelet, nikah aja. Buat apa repot-repot pakai tangan sendiri, mending tangan atau mulut istri. Itu lebih nikmat, tau!' dia selalu memaksaku untuk segera menikah." gumam Erick, membayangkan ibunya yang menceramahi dirinya.


Setelah beberapa menit, Erick keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk. Dia bergegas ke kamar, menghiraukan tatapan genit ibunya.


'Dasar anak muda! itulah akibatnya jika udah kebelet. Padahal tinggal nikah. Dan dia bisa melakukannya dengan istri sepuasnya.' suara hati Lilis bergema. Erick malu sendiri mendengarnya.


Erick langsung mengunci kamar, mematikan semua lampu, dan tentunya sudah berhenti baju. Erick juga mulai melihat isi tas milik Fian.


Di dalamnya ada dompet yang berisi KTP, SIM beberapa kartu ATM, dan uang cash kira-kira berjumlah satu juta. Sedang isi lain tas itu adalah handphone, tisu, kunci apartemen, bahkan kunci mobil. Serta beberapa barang yang lazim dibawa oleh perempuan.


"Heh? Cukup ceroboh rupanya." kejut Erick mendapati handphone milik Fian tak dikunci. Erick pun bebas mengotak-atiknya.


"System, kirimkan rekaman itu ke handphone ini!"


[Baik, Master]


Notifikasi lantas muncul. Erick tersenyum licik. "Nah, sekarang kirim ke pacarnya."


Baru beberapa detik videonya terkirim, tapi sudah mendapat balasan.


"Apa maksudnya ini, sayang?"


Erick mengirimkan pesan suara. "Sayangku tepatnya." Suaranya dibuat agak berat.


Erick sontak langsung ditelepon.


"Kau siapa, bajin9an? Dari mana kau mendapat video itu? Lalu, kenapa handphone Fian bisa ada padamu?" bentak pacarnya Fian.


"Tentu saja dari Fian sendiri. Dia merekamnya. Dan kenapa handphonenya bisa ada padaku ... ya karena kami kini bersama. Umm, tapi Fiannya sedang pingsan, sih. Kami baru saja memainkan permainan yang brutal, hahaha." ucap Erick tertawa terbahak-bahak. Dia seperti orang jahat.

__ADS_1


"Dah ... aku mau tidur, lelah ... banget!" Erick langsung mengakhiri sambungannya.


__ADS_2