
Pertemuan yang tak diduga. Sebelum sesuatu yang buruk terjadi, Erick sontak membekap mulut Fian agar tak sembarangan nyerocos.
"Hmph ... hmph ..." Fian berontak memukul-mukul Erick, bahkan kepikiran untuk menggigit tangannya. Tak ingin gigit, tentu saja Erick melepaskan sumbatan pada mulut Fian.
"Kau rakyat jelata, miskin, bajin9an!" maki Fian melotot tajam pada Erick. "Kau bakal mendapat batunya karena sudah memperlakukanku begini!"
Beruntung di koridor sedang tak ada orang yang kebetulan lalu-lalang. Erick jadi tak perlu cemas untuk main kasar pada wanita di hadapannya. Dia sudah kehilangan kesabaran ketika Fian mulai menghina dan merendahkan.
Baghh ...
Erick mendorong Fian hingga merapat ke tembok. Melakukan kabedon padanya. Erick mencengkeram kuat dagu Fian, dipaksa agar melihat tatapan yang Erick berikan.
"Hei, Nona. Kau tau posisimu yang sekarang itu seperti apa? Oh, ya benar ... rakyat jelata miskin! Kau kemari pasti ingin meminjam uang pada Ariel, 'kan?" ucap Erick sinis. Sorot mata yang angkuh seketika hilang dari diri seorang Fian.
"Aaakhh ... s-sa-sakit!?" erang Fian kesakitan. Air matanya seketika bocor.
"Nona Fian yang manis, aku bisa saja menghancurkan dagumu, lho?! Tengkorakmu ini sangat lembut!" Erick menguatkan cengkramannya.
"Kenapa aku berakhir se-menyedihkan ini? Kenapa? Kehidupanku terlalu banyak berubah. Kemana semua temanku saat kondisiku begini?" ucap Fian dalam hati. Jelas terdengar oleh Erick.
"T-tolong, jangan lakukan itu! Aku mohon. M-m-mafkan aku!" ucap Fian lirih, begitu melas, air matanya turun dengan deras.
"Huh, aku seperti orang jahat. Memuakkan!" batin Erick. Dia mulai tak tertarik bertingkah seperti orang jahat. Fian tak pantas dibalas dengan kekerasan, tapi lewat harga dirinya.
Ariel keluar dari apartemennya, keributan yang dibuat Erick memang agak berisik. Wajar jika bisingnya sampai ke dalam.
"Erick, ada apa——eh? Fian?" kaget Ariel melihat Fian yang menangis sesenggukan. Sedang Erick yang bersikap dingin, takut peduli.
"Yah, sesuatu yang ... begitulah?!" balas Erick acuh berjalan pulang ke apartemennya.
"Jangan kembali dulu, Erick!" seru Ariel. Pria yang menjadi pacarnya baru beberapa saat yang lalu itu pun berhenti.
"Kenapa?" Erick bertanya-tanya.
__ADS_1
"Kita bicarakan ini di dalam. Fian, ayo masuk!" Ariel menenangkan Fian yang terguncang, terus berusaha mengajaknya masuk ke dalam.
Walau sudah berada di dalam, duduk di ruang tamu. Fian masih belum bisa berhenti menangis. Dia terus menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, tak membiarkan Erick maupun Ariel melihat tangisannya yang pasti jorok, ingus meler kemana-mana.
Ariel datang membawakan nampan berisi air sirup untuk memuaskan dahaga.
"Fian, kenapa kau kesini?" tanya Ariel langsung setelah menyajikan minumannya.
"Ariel, dia ke sini karena mau berhutang padamu. Wanita itu sekarang menjadi kere, dia telah dicampakkan pacar dan orang tuanya." beritahu Erick. Dia ingin urusan ini segera selesai. Mina dan Mona pasti menunggu dengan jengah di rumah.
"Benarkah? Separah itu?" kejut Ariel. Dia lantas menatap Fian dengan prihatin.
"Ya. Seluruh kartu ATM yang dia miliki ada di tas yang dijambret. Ariel, kau mengingat kasus jambret di taman kota, 'kan?"
"Umm ...." Ariel mengangguk. "Dampaknya separah itu bagi Fian?"
Hasilnya malah Erick dan Ariel yang berdiskusi, orang bersangkutan sibuk menangisi hal yang tak penting.
"Coba kau lihat video ini! Inilah pokok masalah yang sebenarnya. Penjambretan itu sebetulnya tak memberikan dampak yang berarti." terang Erick menunjukkan sebuah video pada Ariel. Dia pun juga mendekat untuk membisikkan sesuatu pada Ariel.
"Erick, kau sungguh melakukannya?" tanya Ariel untuk mendapat jawaban pasti dari Erick.
"Tak ada keraguan lagi!"
Erick selanjutnya menatap serius Fian. "Fian, kau tau ... kenapa semua hal itu bisa terjadi padamu? Kenapa kau dicampakkan oleh pacarmu? Kenapa orang tuamu tak lagi peduli padamu?"
Fian seketika menghentikan tangisnya, balas menatap Erick. "K-kenapa?" tanya Fian yang tersedu-sedu.
"Aku lah yang menyebabkannya. Berkat video ini!" Erick menyerahkan handphone-nya. "Itulah punca masalahnya!"
Fian memutar videonya. Hanya diam, cuma itu respon yang ditunjukkan. Sorot matanya kosong, seakan nyawanya telah enyah dari raga. Lalu, setitik air jatuh. "M-m-mafkan aku. Tolong maafkan semua kesalahanku padamu, pada keluargamu." Fian pun tak kuasa lagi menahan tangisnya lagi. Lebih deras dari yang tadi.
"Erick. Apa yang akan kau lakukan pada Fian?" panggil Ariel, dia menggenggam tangan Erick. "Kau masih ingin membalas Fian lebih pedih lagi?"
__ADS_1
"Tidak. Sejujurnya aku masih belum puas, tapi ... heh! Dia ternyata serapuh ini. Aku menaruh kasihan padanya."
"Kuharap dia menyesal. Dan bisa sedikit berubah setelah kuberi kesempatan ini. Jika tidak ... masih sama. Apa yang akan aku lakukan padanya akan lebih parah dari yang sekarang." batin Erick.
[Saya sarankan melakukan kontrak dengan Fian, Master. Supaya dia tak berbuat macam-macam lagi]
"Kontrak? Maksudnya semacam apa?"
[Perjanjian antara dua belah pihak yang memuat berbagai hal, yang wajib dilakukan, melarang, di antara kedua belah pihak]
[Kontrak akan sangat mengikat. Master bisa menentukan pinaltinya sendiri]
"Hmm ... baiklah, menarik. Lalu, bagaimana caranya membuat kontrak? Pasti tak seperti yang kupikirkan, 'kan?"
[Dengan ciuman]
"Hah?" Erick mendadak berteriak.
Ariel memiringkan kepalanya, bingung. "Ada apa?"
"Bukan apa-apa!"
"Apa-apaan ini? Aku harus mencium wanita lain di depan pacarku sendiri. Kau ingin aku ditampar?"
[Master bisa menjelaskannya pada Ariel. Dia orang yang pengertian]
"Huh, baiklah."
Erick lantas memanggil Fian ke sisinya. Perempuan itu bingung pada awalnya, tapi tetap mematuhi arahannya Erick.
Cup ...
Tentu saja semuanya terkejut.
__ADS_1
[Kontrak berhasil dibuat]
[Pinalti : Penderitaan tak berujung]