System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 38 kembali perawan


__ADS_3

"Mana kuenya?" tanya Erick kelabakan. Dia langsung mencari-cari di dapur dan meja makan. Tapi, tak ada tanda-tanda dari toplesnya.


"Di mana, ya? Ibu lupa. Oh, baru ingat, di dekat westafel——"


Erick seketika menuju meja dapur, menyambar toples kue yang telah terbuka. "Ibu udah makan berapa?"


"Hanya dua. Huh, nggak usah panik gitu. Masih sisa banyak." Lilis terkekeh melihat Erick yang kalang kabut.


"Bukan begitu. Apa ibu merasa baik? Merasa pusing, mual, mules, ibu punya keluhan semacam itu?" Erick memborbardir ibunya dengan pertanyaan.


Lilis bengong melihat tingkah anaknya itu. "Kamu kenapa? Kayaknya parno banget? Kamu cemas ada racun di kue itu?" terka Lilis.


"Ya. Ibu waktu dulu selalu mengajarkan untuk tak menerima pemberian dari orang asing, 'kan?"


"Hmm ... memang benar. Tapi ... ah, tenang saja. Jika ada racun di kue itu, pasti ibu pasti sudah merasa aneh. Kue itu udah ibu makan setengah jam yang lalu." terang Lilis, menepuk-nepuk bahu Erick. "Sudah, cepat mandi!"


Erick pun tak berdaya dan menjalankan perintah ibunya untuk segera pergi ke kamar mandi.


"System, aku masih belum tenang!?"


[Master bisa membeli sesuatu di shop untuk menenangkan kegelisahan Anda]


"Ah, benar juga. System, beri aku item yang bisa menetralkan zat asing pada tubuh!"


[Membeli pil pensucian seharga 15.000 poin]


[Master mendapatkan 3 butir]


"Baiklah, cepat berikan itu!"


Dua butir pil berwarna hijau yang sekejap mata termanifestasi pada telapak tangan Erick. Pria itu langsung menghembus nafas lega.


"Pria itu sudah membuatku panik. Cih, akan kuselidiki dia nanti!"


Erick keluar dari kamar mandi setelah beberapa menit, langsung menuju ke kamarnya dan mengenakan pakaian dengan cepat. Setelah melakukan semuanya, dia bergegas menemui ibunya yang masih sibuk di dapur.


"Nah, cepat sarapan. Sudah jam berapa ini? Ariel pasti cemberut nungguin kamu yang lelet." Oceh Lilis terkekeh, mengajak bergurau anaknya itu. Tapi, Erick sedang tak ingin bercanda.


"Bu, tolong minum pil ini?" ucap Erick menunjukkan pil bulat berwarna hijau itu.


"Ini bukan obat yang aneh-aneh, 'kan?"


"Untuk apa aku ngeracunin ibu!"


Lilis mengangguk, dia mengambil gelas dan menuju dispenser. Pilnya ditelan dalam sekali telan. Erick pun bisa tenang.

__ADS_1


"Puas?"


"Ok. Kalau gitu Erick pamit."


"Nggak sarapan?" ucap Lilis agak kecewa.


"Umm ... ah, ya udah. Erick sarapan dulu!"


Erick akhirnya menghabiskan sepiring nasi goreng telur mata sapi. Dia tak mau menyia-nyiakan masakan ibunya yang telah masak susah payah.


.


.


.


"Kenapa lama?" tanya Ariel. Dia dan Erick kini berada di dalam lift berdua.


"Sedikit kendala. Tapi, tenang saja. Tak penting!" terang Erick membuat seolah-olah itu adalah hal yang sepele.


"Humm ... tapi, di mana Mina-Mona? Mereka hari ini juga ada jadwal kuliah."


"Berangkat lebih dulu." balas Erick mengambil ponselnya.


"Tumben. Kesambet apa mereka?"


"Pesan dari siapa?" tanya Ariel setelah mendengar notifikasi dari handphone milik Erick. Dia sudah hapal nada deringnya.


"Kita nebeng mobilnya Fian, gimana?"


"Hah? Fian?" Ariel secara tak sengaja berteriak, dia sontak menutup mulutnya dan berusaha menenangkan diri. "Yah, boleh-boleh aja sih. Dia pasti senang, belakang ini Fian nampak kesepian."


"Pacar yang baik. Biasanya pasti cemburu jika pacarnya berhubungan dengan wanita lain!?" puji Erick mengacak-acak rambut Ariel yang sudah ditata rapi. Sudah jadi kebiasaan bagi Erick, apalagi badannya lebih tinggi dari Ariel.


"Ah, kebiasaan!" sebal Ariel cemberut memalingkan muka. "Aku sudah melihat yang yang lebih parah. Pacarku sudah pernah mencium wanita lain tepat di depan mataku." sindirnya.


"Yah, tak perlu dibahas. Aku punya alasan tersendiri."


Pintu lift terbuka, mereka berdua langsung menuju basement yang digunakan sebagai parkir bawah tanah. Di sana sudah ada Fian dengan mobil berwarna merahnya.


"Halo Fian. Kabarmu baik-baik saja?" Ariel berbasa-basi.


Fian menurunkan kaca mobilnya.


"Ya, baik. S-sebaiknya cepat masuk. Kalian tak ingin terlambat, 'kan?" balas Fian gugup terhadap keberadaan Erick, dia tak berani menatap Erick walau cuma seinci badan.

__ADS_1


"Ah, maaf kalau gitu. Maaf, Fian. Kami nebeng mobilmu."


Ariel dan Erick duduk di kursi belakang. Fian sekarang seperti supir.


Fian sebetulnya hari ini tak ada jadwal kuliah, dia bukan berniat pergi ke kampus, tapi ke tempat lain. Karena kontraknya yang terjalin dengan Erick, dia tak bisa membangkang dari keinginan majikannya itu.


"Fian?" panggil Erick.


"Y-ya. Ada apa?" sahutnya, fokus menyetir mobil. Walau sekarang tangannya gemetaran menyentuh kemudi.


"Apa yang ingin dia lakukan padaku? Tolong, jangan aneh-aneh!" batin Fian panik duluan.


"Kau menerima kue pemberian dari penghuni baru apartemen?"


"Apa?"


Mobil direm mendadak secara kasar, Fian benar-benar terkejut.


"M-m-maf. Aku tak sengaja." ucap Fian ketakutan. "K-kalau soal menerima kue itu ... Y-ya, aku menerimanya."


"Huh, telan pil ini!" perintah Erick memberikan pil hijau yang sama diberikan pada ibunya.


Fian asal menyambarnya dan tak banyak bertanya. Pil itu ditelan bulat-bulat tanpa air.


"Sudah." beritahu Fian.


"Yap. Bagus."


"Itu pil apa?" Ariel jadi penasaran.


"Pil awet muda. Kamu mau?" tawar Erick menggoda Ariel.


"Ya. Maulah. Masih ada?"


"Tidak!"


Erick dan Ariel sibuk bercanda di belakang. Sedang, Fian dilanda ketakutan. Keringatnya mengucur deras, ludah ditelan beberapa kali.


"Pil apa itu? Racun, 'kah? Aku akan mati?" batin Fian serasa ingin menangis.


Sedangkan di sisi lainnya ...


"System, aku belum mengetahui fungsi pil pensucian itu secara pasti. Apa kegunaannya selain menetralkan racun?"


[Memulihkan kondisi tubuh seperti sedia kala. Tetapi, hanya berlaku pada organ dalam]

__ADS_1


[Contohnya mengembalikan keperawanan seorang wanita]


Erick hampir berteriak jerih di dalam mobil.


__ADS_2