System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 51 : Misi selesai


__ADS_3

Setalah puas refreshing dari klub malam, Boby dan Faris bergegas kembali ke kediaman masing-masing. Mereka pulang saat dini hari, jalanan sudah terlampau lengang bahkan tak siapa pun yang lewat.


Fokus pada Faris ....


Dia sedang apes-apesnya, mobil yang ditumpangi mendadak mogok tepat di jalanan yang lampu penerangan tak ada satu pun yang menyala. Di sana gelap, auranya sungguh menyeramkan. Apalagi dekat dengan pemakaman umum.


Namun, Faris tak percaya pada hal-hal mistis. Dia tanpa merasa gentar sama sekali, keluar dari mobilnya guna mencari sumber masalah.


Faris membuka kap mesin. Masalahnya dia tak mengerti apa yang menjadi biang keladi.


"Apa lagi ini? Baru juga diservis seminggu yang lalu!?" keluh Faris. Dia marah-marah, mobilnya pun jadi pelampiasan, ban mobil ditendang-tendang.


"Sepi lagi! Handphone lowbat, sialan!" Faris terus-terusan merutuk. Cuma bisa pasrah duduk di pinggir trotoar. Berharap ada sesuatu yang lewat untuk meminta pertolongan. Tapi, mustahil.


Lalu, tak berselang lama. Nampak ada siluet pejalan kaki tak jauh dari tempatnya berada. Faris pun kembali bersemangat setelah hilang harapan.


Dia melambai dan memanggil. "Umm ... bisa tolong saya? Mobil saya mogok ...." Faris mulai merasa aneh hingga dia tak melanjutkan ucapannya.


Siluet pejalan kaki yang tinggi tegap, pastinya seorang pria, perlahan mendekat. Faris tak memikirkan apa pun. Hanya orang asing yang tak dikenal ... begitu pikirannya. Tapi ... ketika jarak mereka cuma tersisa belasan meter. Keanehan mulai dirasakan Faris.


"Oh, Faris, 'kah? Kenapa? Mobilmu mogok?" ucap siluet itu, masih belum jelas wujudnya.


"Dia mengenalku?" gumam Faris. "Terlebih suaranya ... terdengar tak asing!?"


"Kenapa pulangmu bisa selarut ini? Kau tak ingat ... Anya akan sibuk besok. Kita harus bergegas."


"A-a-anya?" Barulah ketika nama itu disebut. Faris dapat mengidentifikasi sosok itu. "Tidak! Hahaha ... pasti karena mabuk berat!? Dia masih ingin berpikir positif.


"Anya bisa ngambek, lho jika kita tak bekerja dengan baik."


Mukanya langsung pucat, seperti orang mati. Faris hendak kabur, tapi sesuatu dilemparkan dari sebalik kegelapan.


Srettt ...


Tepat mengenai bahu. Pria itu sesaat masih termenung, lalu detik berikutnya ... kesunyian malam diwarnai jerit kesakitan.


"Aaaaarggghhhh!" Faris tak kuasa menahan lara pada bahu kanannya, sampai tak berani menengok kondisi bahunya yang terasa diserempet oleh benda tajam itu.


"Oh? Apakah itu sakit? Maaf, aku terlalu keras melemparnya. Kukira solusi dari masalahmu adalah pisau!?"


"T-tolong, m-m-mafkan aku ... Fandi!" lirih Faris ketika sosok yang diyakininya adalah Fandi sudah berada di hadapannya. Tak ada yang berbeda, Fandi masih setia dengan seragam supirnya.


"A-aku cuma diajak, tak bermaksud menjebakmu——"


"Ya. Maafkan aku juga karena tak bermaksud melukaimu!"

__ADS_1


Jleb ...


Pisau ditusukkan cepat ke arah dada kiri Faris, menarget jantungnya. Pria itu langsung tak sadarkan diri ... namun, apa yang dialaminya itu hanya sebatas halusinasi ciptaan dari makhluk gaib suruhan Erick.


Keesokkan paginya ....


Mobil milik Faris dikerumuni oleh banyak orang sebab parkir sembarangan. Akibatnya Dinas perhubungan akan menderek paksa. Tapi, masalah utamanya adalah pada sang pemilik mobil.


Faris tidur terlentang di atas aspal jalanan tanpa busana yang menutupi badannya. Petugas siaga memberikan kain untuk menutupi burung hitamnya.


"Siapa dia? Orang gila?" ucap seorang wanita yang menyempatkan untuk melihat-lihat sebelum berangkat kerja.


"Orang gila mana yang punya mobil? Lebih masuk akal korban pelecehan." sangkal teman prianya.


"Laki-laki dilecehkan? Bukan jenismu itu bakal kesenangan?!"


"Ayolah! Kau menyamaratakan bahwa semua pria di otaknya hanya ada segs!"


"Kenyataannya begitu."


"Semuanya bubar! Biarkan petugas yang mengurusnya!" seru si petugas berupaya mengenyahkan kerumunan. Itu hanya membuat kemacetan di jalan.


"Mas ... mas ... bangun——"


Semua orang memandang Faris dengan tatapan bingung. Dirinya sendy pun bingung dengan keadaan.


Hanya satu orang yang tak kaget pada keadaan Faris. Dia merupakan orang yang merencanakan hal tersebut. Yah, Erick, dia tersenyum penuh arti. Dirasa tak menarik lagi, Erick pergi. Dia harus melanjutkan perjalanan ke kampus.


"Hah ... itu lucu! Selanjutnya mereka berempat harus memilih bertahan atau mengakhiri ini!" batin Erick.


Faris ujung-ujungnya berakhir di kantor polisi. Dianggap mencurigakan sebagai pemakai obat-obatan terlarang.


Sewaktu diintrogasi oleh polisi, kejadian aneh muncul. Faris tiba-tiba muntah begitu saja tanpa sebab yang jelas.


"Huek!" Faris muntah dengan isian tak lazim.


Para polisi yang melihatnya tak bisa berkata-kata. "Ada yang mengirimnya santet?" pikir polisi itu.


"Uhuk ... uhuk ..."


Faris mengeluarkan darah kental berwarna merah gelap dengan campuran benda-benda tak lazim berada di dalam tubuh. Seperti paku, bangkai tikus, serta benda-benda lain. Yang paling membuat polisi geleng-geleng adalah gulungan kertas minyak yang bertuliskan.


"Hidupmu tak akan pernah tenang sebelum kau mati!"


"A-apa ini?" Faris mengalami ketakutan yang amat tak terkendali setelah melihat tulisan itu. Dia tak ubahnya seperti orang gila. Menjerit tak terkendali. "Fandi, Fandi ... tolong maafkan aku!"

__ADS_1


Setiap kali membuka mata, Faris akan selalu melihat sosok Fandi yang memegang pisau. Persis dengan yang ditemuinya semalam. Halusinasi parah.


Para polisi berusaha menenangkannya.


Seorang polwan yang melihat kejadian itu hanya tersenyum simpul. Yah, dia adalah Rita.


"Satu lagi tumbang, Master! Dia sudah tak tertolong lagi. Syaraf otaknya telah terputus." lapor Rita melalui sambungan telepon. Wanita itu kini berada di toilet.


"Bagus, Rita. Tinggal satu, ya? Kau bisa langsung pergi dari sana!" balas pihak seberang yang tak lain adalah Erick.


"Baik, Master." Rita memutuskan sambungan.


Rita selanjutnya pergi ke rumah Boby. Tugasnya kali ini berjalan lebih mudah. Dia tak perlu sampai menyamar atau sejenisnya.


Wanita itu mengambil handphone-nya. "Target terakhir sudah menyelesaikan hidupnya, Master."


"Huh ... kurang menyenangkan. Tapi, biarlah. Terpenting mereka mengalami penderitaan yang pedih. Rita, kau bisa kembali! Terserah. Hari ini kau libur!" Erick memberikan perintah dan penawaran. Rita memang harus diberi penghargaan atas kerja kerasnya.


"Saya itu bukan manusia, Master. Tak perlu makan, minum, maupun istirahat. Anda bisa bebas memerintahkan saya sesuka hati."


"Huh, tetap saja. Aku merasa kurang nyaman jika memperkerjakanmu terus-menerus."


"Master terlalu baik."


"Hahaha ... begitukah?"


Salah satu dari tujuan dari hidup Erick pun terselesaikan. Masih menyisakan dua tujuan atau misi lagi. Menciptakan keluarga bahagia sendiri dan memperbaiki hubungannya dengan Anya.


[Selamat, salah satu dari misi utama berhasil diselesaikan]


[Master mendapatkan ....]


[Level up System]


[???]


[???]


[???]


[???]


Hal yang ditunggu-tunggu, salah satu misi utama yang memiliki tingkat kesulitan S berhasil diselesaikan. Hadiah besar pun menanti.


[Master ingin mengupgrade System?]

__ADS_1


__ADS_2