
"Hei, sangat tak menyenangkan, bukan? Jika bertarung tanpa mengetahui nama lawan masing-masing. Perkenalkan namaku Ceres, kau bisa memanggilku begitu?!" Pria itu melepas kaos yang tinggal separuh itu, melemparnya terus diterbangkan angin.
Erick menghela nafas. "Huh, terserah. Namaku, Erick." balasnya yang telah bersiap bertarung kapan saja.
"Erick, 'kah?" Ceres menyeringai, terus berlari dengan sangat cepat. Erick siap sedia dengan katananya
Trang ...
Erick hendak memenggal leher Ceres. Namun siapa sangka muncul bunyi yang tak lazim ketika katananya bersentuhan dengan leher pria itu.
"Padahal besi pun bisa terpotong?!" Erick melompat mundur.
Ceres menikmati ekspresi tertekan yang ditampilkan Erick. Pria berambut cokelat-pirang itu sudah percaya diri dengan katana yang bisa memotong apa pun, namun dengan segera dipecundangi oleh kulit Ceres yang mendadak sekeras berlian.
Ceres dengan cepat menerjang Erick.
Bang ...
Tinju yang diarahkan Ceres tepat menghantam Erick, beruntung refleknya bagus. Erick sempat merentangkan katana sebagai samsak dari tinju Ceres. Namun, sialnya hantaman yang diterima Erick terlampau besar.
Dia sampai terhempas jauh, bahkan hampir terjatuh dari gedung bila Erick tak cekatan menancapkan katananya ke lantai.
"Huh ...." Erick menghela nafas. Keringat seketika bercucuran. Cuma beberapa inci sebelum dia terjatuh dari gedung 40 lantai itu.
"Ini sungguh gila. Kekuatan pria itu abnormal. Yah, mungkin seperti Ru. Legian, pedang ini juga gila. Seperti hidup saja!?" batin Erick yang melangkah jauh dari pinggiran gedung. Bahaya jika Ceres menyerangnya lagi, dia akan langsung terjatuh.
"Kau hebat! Oh, bukan! Pedangmu yang hebat!" Ceres meledek sambil menyeringai.
"Masa bodoh siapa yang hebat! Sebenernya siapa kau? Kau bukan orang biasa!?"
Sementara itu, Ru selesai membereskan anak buah Ceres yang mempunyai kemampuan. Mereka disebut cenayang atau Esper, berbagai kemampuan supranatural dikuasai.
"Anak muda, kau kewalahan! Butuh bantuan?" teriak Ru menawari. Angin di atas sana sangat kencang.
"Hmm ... aku tak keberatan sih, dua lawan satu." Ceres melirik Ru.
"Sangat percaya diri! Dia tak takut sedikit pun dengan Ru. Apa dia setara atau bahkan lebih kuat? Lalu, bagaimana aku mengalahkannya? Katana ini? Rasanya sungguh mustahil!" Erick mulai mengeluh. Dia menatap beberapa helikopter yang sedang meliput segala aksinya.
"Aku tak mungkin keluar dari sini hidup-hidup jika tak bisa mengalahkan pria itu!" batin Erick, genggaman pada katananya diperkuat. Ekspresinya berubah sangat serius dan tanpa sadar lonjakan energi spiritual yang besar meluap dari katana itu.
Ceres yang dari tadi meremehkan Erick langsung bersikap waspada setelah merasakan lonjakan energi spiritual yang tak main-main.
Lalu, Ru yang cuma jadi penonton malah kesal sendiri. "Sehebat itu pedangnya? Siapa yang membuatnya?" batinnya.
__ADS_1
"Para bawahanku ... bangkitlah! Mau sampai kapan kalian pura-pura mati?" teriak Ceres.
Beberapa orang yang telah dihabisi Ru mendadak dapat berdiri lagi. Seperti zombie, karena Ru melakukan hal macam-macam pada mereka. Mata mereka merah menyala.
Ru pun jadi tak bisa santai lagi. "Wah, wah ... manusia zaman sekarang ada yang bisa melakukan hal seperti ini? Siapa dia? Pemanggilan iblis dan menjadikan mereka bawahan."
"Kepung mereka!" perintah Ceres.
"Baik, Master." jawab pasukan iblis itu. Mereka menerjang Erick dan Ru dengan cepat.
Erick dan Ru sudah bersiap.
"Hati-hati, anak muda! Mereka benar-benar iblis! Pria itu memanggil mereka! Namun, para iblis itu tidak bisa memanifestasikan wujud aslinya ke dunia fana. Makanya mereka merasuki manusia!" Ru menjelaskan.
Swosshhh ...
Erick mudah menghindari terjangan salah iblis itu, tapi dia punya manuver yang tajam. Gagal pada serangan pertama, si iblis langsung berbelok dan akan menerjang Erick dari arah belakang.
Seakan punya mata di belakang kepala, Erick dengan entengnya bergerak ke samping, serangan iblis itu gagal. Di saat yang bersamaan Erick mengayunkan katananya.
Slash ..
Iblis itu terpotong menjadi dua bagian, tapi tak cukup, dia masih tetap hidup. Bergerak mengerikan, merayap cuma menggunakan dua tangan.
"Memang harus dimutilasi!?" keluh Erick yang terpaksa mencincangnya.
Untuk menghentikan para manusia yang kerasukan iblis itu, darah harus menggenang di mana-mana.
"Apa aku akan dianggap psikopat oleh orang-orang?" pikir Erick melirik helikopter yang terbang. Dia membayangkan wajah ngeri ketika orang-orang melihatnya.
Slash ...
Erick melakukan tebasan untuk memutuskan kepala dengan badan. Dia terlihat seperti ahli pedang yang telah berlatih selama puluhan tahun. Lihai dalam memberikan tebasan.
Pasukan Iblisnya Ceres tak mampu bertahan lama. Lagipula mereka hanya mengandalkan fisik yang meningkat beberapa kali lipat.
Pasukan iblis Ceres lantas habis. Sisanya cuma daging-daging yang menggeliat mengerikan.
"Aku harus mandi sangat lama." ucap Erick menelisik tubuhnya yang dipenuhi bercak darah.
"Tenang anak muda, kita semua bisa mandi di pemandian air panas alami terbaik di desa." ucap Ru enteng santai.
"Kalian ... bukan! Kau, Erick! Dari mana kau mendapatkan pedang katana seperti itu?" ucap Ceres terdengar serak.
__ADS_1
"Diberi oleh dia!" Erick dengan santai menunjuk Ru.
Ceres lantas fokus pada Ru.
"Coba saja, buat aku bicara!" Ucap Ru menantang, dia tersenyum mengejek. Biasanya Ceres tak mudah terprovokasi, namun entah kenapa ... dia sangat kesal mendapat olok-olok dari Ru.
Ceres merasa tak terima sudah diremehkan oleh Ru.
Pria itu seketika berusaha menyerang Ru. Namun, siapa sangka jika Erick memanfaatkan kelengahan Ceres.
Erick melemparkan katananya ke arah Ceres. Pria itu awalnya kaget, tapi dengan segera bersikap biasa. Serangannya Erick itu bukan lagi ancaman baginya.
Ceres percaya diri dengan kemampuan untuk mengeraskan tubuh sekeras berlian.
Akan tetapi ....
"Serangan seperti ini tak akan——" Ceres tak bisa melanjutkan perkataannya. Dia terlewat terkejut. Lonjakan energi spiritual yang keluar dari katana sungguh di luar imajinasinya.
Jleb ...
"K-kenapa b-bisa?" ucap Ceres dengan gagap. Pria itu dengan takut melirik ke dada kirinya yang tertancap sebilah logam, tembus sampai belakang tubuhnya.
"Uhuk ... uhuk ..." Ceres batuk darah yang kemudian tumbang tak berdaya.
"E-energiku diserap? Pedang ini? Sebetulnya apa?" Ceres susah payah bicara, melihat Erick yang sedang berjalan mendekatinya.
"Aku pun tak tau. Katana itu seolah hidup sendiri. Mengenfalikan tubuhku untuk mengikuti arahannya." Erick datang-datang langsung berjongkok dan sangat kasar mencabut katana itu dari tubuh Ceres.
Pria malang itu berteriak sekencang-kencangnya.
"Seharusnya katana ini adalah milikku. Yah, tapi sepertinya aku tak mampu mencuri perhatiannya." ucap Ru terdengar menyesal, menepuk-nepuk bahu Erick.
"Huh? Dia menjadi semakin tua?! Apa maksudnya?" Kaget Erick melihat Ceres yang berangsur-angsur menua. Kulitnya secara perlahan mengerut dan kendur, rambutnya pun memutih.
Pada akhirnya Ceres menjadi sangat tua, ujungnya adalah berubah menjadi butiran debu yang diterbangkan angin.
"Beginilah nasib dari manusia yang menjalin kontrak dengan iblis. Yah, jelas-jelas ilmu hitam. Dan pasti punya bayaran setimpal. Entah apa yang telah dia tumbalkan." Ru bicara panjang lebar.
Semuanya berakhir dengan happy ending bagi Erick. Di puncak gedung itu, beberapa helikopter mulai mendekat dan mendarat.
"Sekarang, bagaimana, anak muda?" tanya Ru.
"Kita menang, sih. Tapi entah mengapa masih ada yang mengganjal. Kurasa masih ada sesuatu." ucap Erick meragu. Ada sesuatu yang menggangu di hatinya.
__ADS_1
"Sebaiknya waspada saja!"