System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 49 : Fian


__ADS_3

...Nama : Erick ...


...Level System : 2 (0/10.000.000.000)...


...Kekuatan : 25 (jauh di atas rata-rata)...


...Kecepatan : 25 (jauh di atas rata-rata)...


...Kecerdasan : 25 (jauh di atas rata-rata)...


...Daya tahan : 25 (jauh di atas rata-rata)...


...Reaksi : 25 (jauh di atas rata-rata)...


...Kelenturan : 25 (jauh di atas rata-rata)...


...Kharisma : 25 (jauh di atas rata-rata)...


...Keterampilan khusus :...


...•Pembaca pikiran dan hati(aktif)...


...•Cybercrime (non aktif)...


...•Tangan serba bisa (non aktif)...


...•Black magic (non aktif)...


...Aset :...


...•Satu unit apartemen...


...•Uang 46 juta...


...•Sejumlah barang elektronik...


...•55% saham Meta platforms, Inc...


...Poin : 286.000...


...Tambahan :...


...•Asisten tanpa nama...


...•Rita...


"Sejak kapan terakhir aku mengecek status? Tak sadar sudah seperti ini?"


Erick sedang mengecek data statistik dirinya. Yah, semuanya berkembang. Pria itu cuma mengangguk-angguk puas. Terbesit sedikit untuk membelanjakan uangnya.

__ADS_1


Kembalinya bukan untuk Erick sendiri. Dia berencana memberikan hadiah untuk Ariel yang sebentar lagi berulang tahun.


"Beli mobil kali, ya? Tapi, yang seperti apa? Bagaimana spesifikasinya? Ah, tanya langsung!"


Erick sedang dalam perjalanan pulang setelah pergi ke tiga tempat berbeda yang saling berjauhan. Hari pun sudah menjelang sore.


"Huh, malah tertidur!?"


Ariel bersandar di bahu Erick, mendengkur kecil. Damai sekali, dia kelelahan mengikuti pacarnya sepanjang hari. Sebagai laki-laki yang baik, Erick berusaha membuat Ariel senyaman mungkin.


"Fian!" panggil Erick pelan.


"Y-ya. Ada apa? Kita pergi ke kemana lagi?" balas wanita itu agak berteriak dan dalam tempo yang cepat. Fian tegang, dia tadi sebetulnya mengintip Erick dan Ariel dari kaca spion.


"Tolong carikan mobil yang pas untuk Ariel!"


"Huh? Kau ingin memberikan Ariel sebuah mobil? T-tidak ... sepertinya——"


"Dia tak mau menerimanya?" sela Erick menerka.


"B-begitulah. Dulu orang tuanya juga sempat membelikan Ariel mobil, tapi dia menolaknya."


"Huh ... beli apa, ya?" Erick memandang lamat-lamat Ariel. Memikirkan dengan sungguh-sungguh, apa yang diinginkan olehnya, yang tak bakal ditolak.


"Umm ... jika kau memang serius ingin membelikan Ariel mobil. Mungkin dia mau menerimanya, jika itu dirimu!"


"Y-ya. K-kau 'kan pacarnya?" ucap Fian gagap, sekujur tubuhnya menggigil.


"Baiklah. Kalau begitu, aku menyerahkannya padamu. Tolong carikan mobil yang pas untuk Ariel! Deadline-nya sewaktu pesta ulang tahunnya." Erick tersenyum penuh arti. Dia meminta tolong, tapi sebetulnya adalah perintah yang tak boleh ditolak oleh Fian, jika dia memang tak ingin mendapat nasib buruk


"Y-ya, kau bisa mengandalkanku! T-tapi, bagaimana dengan——"


"Terserah kau saja! Kau yang mengaturnya. Kau kan anak gaul, sosialita?! Harusnya tau hal yang lagi nge-trend. Mobil seperti apa yang sedang hits. Tak perlu cemaskan harga. Kau juga boleh ikut membeli, jika bosan dengan mobil ini!" Erick tak membiarkan Fian bertanya lagi.


Yah, Fian tak bisa lagi berkata-kata. Cuma fokus menyetir dengan sesekali melirik ke belakang, memandang Erick. Mata wanita itu sedikit berkaca-kaca, merasa terharu.


"Kenapa dia sebegitu baiknya padaku? Meski itu sudah lewat. Aku pernah berperilaku buruk dengannya. Tapi ...." batin Fian yang tak bisa lagi melanjutkan unek-uneknya.


Perjalanan pulang pun diwarnai keheningan, tak ada yang berinisiatif mengajak bicara guna mencairkan kesunyian. Namun, sebetulnya Fian ingin bicara sesuatu. Dianya saja yang tak berani. Erick sampai harus memancingnya.


"Kau ingin membicarakan sesuatu? Jika benar, bicaralah! Tak perlu takut, aku tak akan menggigit atau apa!?" ucap Erick sedikit bergurau. Bosan rasanya memasang tampang serius selama seharian.


Dorongan dari Erick itu tak cukup untuk memaksa Fian agar bertutur. Pasalnya wanita itu malu, hal yang ingin dibicarakannya adalah hal yang ... begitulah. Sesuatu yang kurang pantas dibicarakan dengan pria yang tak memiliki hubungan apa-apa dengan dirinya.


"Ini perintah, Fian!" Erick pun akhirnya penasaran berkat suara-suara hati dari Fian.


Karena itu perintah, Fian tak bisa menolak. Erick dan Fian terjalin suatu kontrak yang mengharuskan dirinya menuruti segala perintah Erick, maka sebaliknya ... Erick berkewajiban menafkahi Fian.


"Aku hitung sampai 3. Jika tidak ... kau kuanggap membangkang!"

__ADS_1


"Pil apa yang sebenarnya kau berikan padaku waktu itu?" ucap Fian ngebut, tanpa jeda. Sehabis mengatakannya, dia langsung terengah-engah.


Akan tetapi ....


"Awas ada pejalan kaki!" peringat Erick tiba-tiba.


Fian tak fokus menyetir, mobil oleng ke sisi jalan yang ada seorang pejalan kaki. Beruntung Erick memperlihatkan, jadi Fian bisa menginjak rem tepat waktu.


Di sisi lainnya Erick dengan sigap menahan tubuh Ariel agar tak terkena hentakan berlebih. Supaya dia bisa tidur nyenyak tanpa terganggu.


"Hati-hati dong! Pasti nyetirnya sambil mabuk!" marah-marah si pejalan kaki.


Fian membuka kaca mobil, menunjukkan wajah untuk meminta maaf. "Maafkan atas kelalaian saya."


Erick sedikit terkejut melihat perangai Fian yang seperti itu. Sungguh terbalik dengan Fian yang dulu.


"Sifat wanita itu ... dia sudah cukup banyak berubah dibanding ketika kami pertama bertemu!" batin Erick.


"Maafkan, aku. Apa kalian baik-baik saja?" Fian tak lupa meminta maaf pada Erick. "Tolong lupakan saja ucapanku tadi!"


"Oh? Pil itu? Kenapa, kau mengalami suatu perbedaan? Kau menyadarinya?" goda Erick. Dia sudah mengerti hal yang ingin dibicarakan oleh Fian.


Wajah Fian seketika merona merah. Dia sampai tak jadi menjalankan kembali mobilnya. Tangan yang memegang kemudi tak henti-hentinya gemetar.


"Gimana kalau Erick tau bahwa aku wanita senonoh yang suka memuaskan diri dengan dil*o? Gimana jika dia tau aku itu sangean? Ah, mau ditaruh mana mukaku?" panik Fian dalam hati.


Erick sudah tahu dari dulu ketika dia memata-matai Fian. Bahkan sampai keterusan beberapa kali melihat wanita itu melakukannya. Menurutnya itu menarik, karena Fian menahan gairahnya dengan itu, lebih baik ketimbang menawarkan diri menjadi toiletnya para pria. Setidaknya Fian cuma melakukan itu dengan pasangannya, setia.


"Yah, libido wanita itu sangat besar, sih." komentar Erick dalam hati


"Tak perlu malu! Tak aneh jika punya libido yang besar. Aku malah kagum kau tak berakhir menjadi la*ur!?" puji Erick.


"Setidaknya pil itu membantumu, 'kan? Milikmu jadi tersegel kembali. Yah, asal kau tak melakukan hal aneh-aneh pada lubang——"


"Cukup, cukup!" Fian menutup kupingnya. Dia tak tahan mendengar apa yang dikatakan oleh Erick.


"Berapa kali kau melakukannya dalam seminggu?"


"Cukup, cukup. Kau sendiri bagaimana? Laki-laki pastinya lebih sering ...." Fian terbungkam ketika melihat Erick cuma tersenyum dan mengelus puncak kepala pacarnya.


"Untuk apa aku melakukannya?"


"Dia sudah melakukannya dengan Ariel, ya?" batin Fian agak kecewa.


"Aku mau melakukannya denganmu jika kau bisa mendapat izin dari Ariel. Yah, jika kau bisa!" tantang Erick.


Hati wanita itu pun tergugah. Ke depannya dia berusaha membujuk Ariel, tapi tak semudah apa yang dengan ciuman cuma-cuma yang pernah tak sengaja mereka lakukan.


Ariel tak ingin berbagi!

__ADS_1


__ADS_2