
Erick masih memikirkan seseorang yang tiba-tiba mengawasinya dari jauh. Dia selalu bertanya-tanya.
"Apakah sedari awal aku sudah diawasi?"
[Saya pun juga tak tahu, Master]
"Yah, bisa saja saat aku baru menginjakkan kaki di Jepang, dia sudah mengawasiku?!" batin Erick berpegang dagu, berpikir.
"Kak Erick, makan malamnya sudah siap." beritahu Mina yang menghampiri Erick di ruang TV.
"Oh, oke ... apa makan malam kali ini? Lalu, siapa yang memasak?" ucap Erick yang mengelus pundak kepala adik sambil berjalan bersama ke meja makan.
"Secara teknis aku, si Ariel cuma membantu menghidupkan kompor."
"Benarkah?"
"Hei, mulut siapa itu? Kamu tak ingat, siapa yang sibuk dengan para sayuran itu?" sahut Ariel tak terima, menyilangkan tangan di bawah dada.
"Ariel lagi mens kali, ya? Sensitif amat!" batin Erick tersenyum kecut.
"Sudah, sudah. Intinya kalian berdua memasaknya bersama, 'kan?" ucap Erick lembut berupaya melarikan ketegangan yang terjadi.
"Ya, tapi bagianku paling banyak."
"Bagianku paling banyak." timpal Mina.
"Yah, setidaknya tangan kalian bekerja. Huh, sudah. Mari kita makan!" Erick asal duduk di meja makan, menghiraukan Ariel dan Mona yang masih ingin berdebat.
Pria itu asal menjejali mulutnya dengan makanan, tapi pikirannya masih terfokus pada hal lain.
"Hmm ... setidaknya aku harus mengetahui identitas orang itu. Dia musuh atau lawan. Akan merepotkan jika di masa depan, dia malah menggangguku." batin Erick.
"Tadi siang kak Erick dengan Mona habis dari mana?" tanya Mina di sela makan malam.
"Eh? Apa?" Erick sedikit tak ngeh. "Oh, dari toko buku aja, sih. Kenapa?"
"Bukan apa-apa." Mina menggeleng.
"Umm ... ngomong-ngomong, perbaikan apartemennya Rinka hampir selesai. Apa kita akan pindah ke sana lagi, Erick?" Ariel tiba-tiba bertanya.
"Hampir selesai? Cukup cepat juga!?"
"Tentu saja cepat, kakak mengerahkan banyak sekali pekerja. Bahkan apartemen itu tambah bagus. Seharusnya Rinka berterimakasih, bukan hanya memperbaiki, tapi kakak juga sudah merenovasinya."
"Ya, sebagus apapun ... jika berhantu tetap saja tak menyenangkan. Erick, apa di sana masih ada penghuninya?" giliran Ariel bertanya.
"Aku belum bisa memastikannya. Umm, malam ini aku akan mengeceknya." balas Erick.
__ADS_1
"Harus malam ini?"
"Semakin cepat, semakin baik."
"Ya, terserah sih. Yang penting hati-hati, jangan pulang dengan keadaan terluka."
"Oke, sayang. Pulang mau dibawain apa?" ucap Erick dengan nada menggoda.
"Ehem ... ehem ... kakak harus ingat bahwa adikmu ini masih jomblo hingga sekarang. Jangan bermesraan di sini."
"Siapa suruh kamu dan Mona dari dulu brocon. Ya, jomblo lah."
"Aku nggak brocon! Mungkin Mona benar, tapi aku nggak!"
.
.
.
"Malam-malam pergi survey. Hmm, System ... apa ada energi yang asing di apartemen itu? Yah, tak perlu ... mereka jelas-jelas masih di sini!"
[Apa yang harus kita lakukan, Master?]
[Pakai cara kekerasan atau cara kelembutan]
"Cara kekerasan malah berujung buruk, mari pakai cara lembut. Jangan buat mereka marah lagi?"
"Tapi, sedikit aneh, ya? Kenapa mereka tak pernah menganggu para pekerja konstruksi?"
[Mungkin mereka sengaja agar tempat tinggalnya semakin bagus]
"Hahaha ... ternyata kita cuma dianggap alat."
Erick pun masuk ke area apartemen. Terlihat masih banyak alat-alat berat. Lalu, dia sambut oleh hembusan angin kencang.
Sambutan selamat datang.
Erick bersikap biasa saja terhadap respon penghuni ghaib apartemen. Meski angin kencang dan selalu menerpa dirinya, suara-suara aneh, dan badan yang terasa berat. Dia tak mempedulikannya dan terus berjalan sampai ke lantai tiga.
Lampu juga tak berhenti untuk berkedap-kedip, menyala-padam.
"Humm ... okay, semuanya harap tenang. Aku datang ke sini secara baik-baik. Jadi, berhentilah membuat suara-suara aneh!" pinta Erick, suaranya menggema di seluruh apartemen. Yah harusnya mustahil bisa bergema.
Memang tak ada respon yang pasti, namun gangguan-gangguan yang dialami kian hilang satu per satu.
"Terima kasih. Aku datang ke sini dengan damai." Erick mengangkat kedua tangannya.
__ADS_1
"Umm ... bisakah salah satu dari kalian menjadi perwakilan. Aku perlu bicara."
Tak lama kemudian sebuah suara wanita yang serak dan agak dalam bergema.
(Katakan keperluanmu! Jangan meminta kami untuk pergi, atau kau dan Keluargamu akan menerima batunya!)
"Kalian terlalu berburuk sangka. Aku kurang lebih kapok dengan kejadian sebelumnya. Jadi, tentu saja tak mau cari gara-gara." balas Erick disertai senyuman.
(Jangan berbasa-basi!)
"Ah, oke, oke. Huh, kalian sungguh tak menyukai kehadiranku di sini, ya?"
Swoosh ....
Angin kencang berhembus.
Erick cuma memasang wajah datar. "Sepertinya benar."
"Baiklah ... begini. Kita buat kesepakatan yang saling menguntungkan!?"
(Apa maksudmu?)
"Begini, aku meminta sesuatu pada kalian. Dan kalian boleh meminta sesuatu padaku. Yah, anggap saja kontrak ... kita buat lebih serius. Bagi yang melanggar akan ada konsekuensi!"
Keadaan lengang sesaat. Tak ada suara yang bergema.
(Baiklah, kami setuju)
"Oh, nice. Jadi, bagaimana kita mengingat kontraknya?"
(Teteskan saja darahmu!)
"Oh, begitu? Baik." ucap Erick yang menggigit ujung jari jempolnya. Dan setitik darah meluncur ke lantai.
Darah yang menetes di lantai langsung menguap, telah hilang tak berbekas.
[Master, Anda tak menyebutkan batasan permintaannya. Bahaya jika meminta hal yang di luar nalar]
"Tak perlu cemas, System. Aku tau mereka tak akan melakukan itu karena mereka punya hal yang lebih penting, dan itu tak bisa mereka lakukan. Juga, jika dibatasi ... aku tak akan bisa meminta hal besar."
Erick tersenyum.
(Nah, cepat katakan apa maumu dari kami! Kecuali pergi dari tempat ini!)
"Bantu aku menyelesaikan setiap masalah yang terjadi. Dan kalian tak wajib untuk melakukan seluruhnya. Jangan salah sangka, aku cukup kalian membantuku untuk urusan ...."
(Mencari seseorang?)
__ADS_1
"Bagaimana kalian bisa tahu?" tanya Erick menaikkan sebelah alisnya.
(Dia berada di Tokyo)