System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 90 : Surat untukmu


__ADS_3

"wanita itu, Anya? Jika benar ...." Erick mengigit bagian bawah bibirnya.


Di tak mau membuang waktu untuk bergumam atau membatin. Setelah kembali dari SMA, Erick bergegas menuju kediaman Uzen.


Pria itu dengan tak sabaran menekan bel rumah, tak ada balasan. Dia lalu menggedor-gedor. Namun, tetap tak ada balasan. Saking geramnya, Erick asal mendobrak pintu itu hingga jebol.


"Tenka! Tenka!" Erick terus memanggil. Namun, rumah itu dalam keadaan kosong, benar-benar tak ada sahutan.


[Tenka sedang tak ada di rumah, Master]


"Akhhh ... System, lacak keberadaanya!" ucap Erick mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.


[Saya tidak bisa mengetahui lokasinya]


"Jadi, apakah yang dikatakan si rubah ekor sembilan itu sungguhan? Dia yang merupakan roh kuat, dan kau System ... bahkan tak mengetahui apa pun tentangnya. Berarti benar 'kan bahwa Tenka adalah Anya?"


[Saya tidak tahu]


Erick menarik nafas dalam. Dia sebetulnya sudah dalam puncak kemarahan. Hampir saja dia reflek menghancurkan rumah milik Tenka dan Hibiki.


Erick yang sudah lebih tenang lantas duduk di ruang tamu. Dia memikirkan keningnya, kepala terasa berputar-putar, pening.


Dia sedikit idiot, padahal Erick tahu sendiri bahwa Tenka harus pergi bekerja.


[Maafkan saya, Master]


"Ini bukan salahmu! Aku saja yang kekanak-kanakan."


Suasana menjadi hening, Erick bediam di sana dan merenungkan semuanya. Setelah beberapa menit dia bangkit kembali dan hendak bergegas pulang.


Erick meninggalkan sepucuk surat yang berisi tentang ... yah, sedikit curhatan. Dan dia juga telah memanggil seseorang agar segera datang memperbaiki pintunya.


Pria itu lantas angkat kaki dari keluarga Uzen.


.


.


.


Jam pulang kerja sudah tiba, ini adalah waktu dimana kereta-kereta pada penuh mengangkut para pekerja. Saking banyaknya, mereka sampai harus berdesak-desakan.


Karena hal itu, segelintir orang menggunakan moda transportasi lain, atau bahkan berjalan kaki jika dirasa jarak antara rumah dan tempat kerja tak terlalu jauh.


Seperti Tenka, dia pulang dengan cara berjalan kaki seraya membawa beberapa kantong belanjaan.


Dia sebelumnya sudah mampir di supermarket untuk membeli bahan makanan sebab sadar bahwa persediaan di rumah telah habis.


"Yah, sudah semakin gelap. Harus cepat-cepat pulang. Iki pasti sudah kelaparan." ucap Tenka yang mempercepat langkah kakinya.


Namun, baru beberapa saat berjalan cepat. Tenka berhenti. Handphone-nya berbunyi, itu adalah panggilan dari Hibiki.

__ADS_1


"Ya, tenang saja. Ne-san akan segera pulang." ucap Tenka tanpa basa-basi hendak menutup sambungan teleponnya.


"Bukan begitu, akh. Ada sedikit kabar buruk!? Kemungkinan rumah kita telah dirampok."


"Hah? Yang benar? Apa saja barang yang hilang?"


"Sampai sekarang, sih ... belum ditemukan sesuatu yang hilang. Tapi, juga sedikit aneh."


"Apa maksudmu?" tanya Tenka agak mendesak.


"Ya karena perampok itu menjebol pintu, tapi dia juga yang memanggil tukang reparasi untuk memperbaikinya. Oh, Ne-san ... ada sebuah surat juga."


"Oke, oke ... Ne-san akan segera pulang. Ingat, jangan buka surat itu! Biar aku yang membacanya."


"Hmm ... baiklah."


Sambungan telepon diputus. Tenka segera berjalan secepat yang ia bisa dan mencari-cari jalur tikus.


Lalu, kurang dari 20 menit Tenka berhasil sampai di rumahnya. Meski wajahnya agar banjir keringat dan nafas yang terengah-engah.


Sesampainya, Tenka melihat rumahnya dipenuhi oleh petugas kepolisian.


"Ne-san?" panggil Hibiki yang berada dekat dengan mobil polisi, sekalian juga dengan polisinya.


Tenka buru-buru mendekat. Namun, dia sadar akan menjadi sasaran introgasi. Beruntung semua pertanyaannya mampu dijawab dengan lancar. Jadi, cepat selesainya.


"Kami menemukan surat ini. Sepertinya ini untuk Anda." ucap pada polisi itu menyerahkan secarik kertas terlipat.


"Baik."


Tenka membuka kertas terlipat itu. Matanya seketika melebar saat membaca kata pertama.


Wanita itu langsung meremasnya tanpa ingin membaca kalimat selanjutnya.


"Anda mengenalnya?" tanya si polisi penuh selidik. Respon yang ditunjukkan Tenka memang agak mengejutkan.


"Saya tak mengenalnya. Mungkin dia hanya seorang penguntit yang tak waras." balas Tenka yang berupaya membuat ekspresi wajahnya terlihat biasa.


Polisi tersebut pergi meninggalkan Tenka dan Hibiki.


"Memangnya gimana isi suratnya, Ne-san?"


Wanita itu tak langsung menjawab, dia sedikit melamun.


"Ne-san?" ucap Hibiki sedikit mengguncang bahu Tenka agar dia tersadar pada lamunannya.


"Hah? Eh?" kejut Tenka yang lalu memijit keningnya dengan menyesal.


"Ne-san, ada apa? Gimana isi suratnya?"


"Hanya penuh dengan omong kosong! Seorang penguntit gila." jawab Tenka yang senyumnya gemetar.

__ADS_1


"Tapi, kenapa ekspresi Ne-san seperti ingin ...."


"Sudah? Ini, Ne-san sudah membeli bahan makanan. Kamu lapar, 'kan? Ayo masak!"


"Masih, ada polisi."


"Kita usir saja. Ini rumah kita!"


Setelah sedikit usaha, para polisi akhirnya pergi meninggalkan kediaman Uzen. Tenka yang meyakinkannya bahwa pelakunya hanya seorang teman yang iseng dan tak ingin memperpanjang masalah.


"Nih, bersihkan bahan makanannya! Ne-san istirahat sebentar, ya? Aku agak lelah!"


"Baik, Ne-san istirahat saja. Biar aku yang memasak"


Hibiki pergi ke dapur membawa bahan makanannya. Sedangkan, Tenka masuk ke kamarnya. Lalu, berbaring terlentang di tempat tidur dengan lengang menutupi wajah.


Dia tak berselang lama langsung tertawa cekikikan dengan sendirinya, namun setitik air mata turun dari pipinya.


"Jangan mempermainkanku! Jangan bicara omong kosong!"


Yah, surat itu berisi ...


Anya


Aku tak mau berbasa-basi, jadi langsung saja. Aku ke Jepang untuk mencarimu, untuk meminta maaf padamu, untuk memperbaiki kesalahan pahaman. Entah kamu mau menerima permintaan maafnya atau tidak.


Terpenting, aku sudah melegakan hatiku.


Yah, itu terserah kamu saja. Lagian, kita masing-masing sudah menjadi orang yang berbeda. Tak ada lagi Anya, atau Fandi. Tentunya telah memiliki kehidupan masing-masing.


Kamu pun pasti sudah melihat bagaimana kehidupanku sekarang. Bisa dibilang bahagia, namun tak sepenuhnya begitu.


Yah, dan aku harap hidupmu juga bahagia.


Nah, Anya ... aku hanya cuma bilang sesuatu yang tak pernah bisa kuucapkan dulu.


"Aku mencintaimu, Anya. Aku berharap bisa selalu berada di sisimu, bukan sebagai asisten atau seorang supir. Aku ingin selalu bersamamu sebagai orang yang kamu bisa andalkan."


Aku tau itu omong kosong. Kalimat tadi sudah tak konkret. Hahaha ... aku bahkan sudah memiliki pacar.


Namun, yang terpenting ... jika mengingatku adalah sebuah penderitaan. Lupakan saja ...!


Aku tak akan mengusikmu. Lagian aku sadar bahwa kamu adalah Anya.


Nah, begitu saja ... Non Anya.


Dari mantan supir pribadimu.


Setelah membaca surat yang lumayan panjang itu ... Tenka langsung membuang kertasnya ke sembarang arah.


Dia cuma berbaring dalam diam, tak bersuara. Wajahnya ditutupi. Akan tetapi, suara Isak yang sangat kecil masih terdengar.

__ADS_1


"F-fandi?"


__ADS_2