
"Apa-apaan ini, Bob? Bagaimana si Fandi bisa menyewa seseorang untuk memburu kita? Dapat uang dari mana dia?" tanya Faris dengan kesal. Dia menarik kerah pakaiannya Boby.
Faris begitu was-was dan gelisah setelah bertemu dengan Erick. Makanya dia meminta pertemuan untuk membahas hal tersebut.
"A-aku juga tak tau." balas pria berkepala pelontos itu lesu. Boby nampak pasrah pakaiannya ditarik-tarik hingga melar. Mentalnya Boby telah diguncang Erick terlalu keras.
Kini Boby dan Faris berada di suatu klub malam. Yah, cuma mereka berdua. Dua temannya lagi tak dapat dihubungi entah kenapa. Kekhwatiran jika mereka sudah dibereskan lantas mencuat.
Faris menelan minuman keras berupa anggur dalam sekali teguk, terus minta tambah pada bartender.
"Hei, apa kita perlu menyewa mereka lagi, Heaven Mafia?!" usul Boby. Ide itu terlintas begitu saja. Dia sudah tak tahu harus berbuat apa. Tapi, tetap tak mau pasrah.
Brakkk ...
Faris menggebrak meja dengan kuat, celetukan dari temannya itu seolah tak dipikir matang-matang. Padahal yang kini terpengaruh alkohol adalah Faris. Sedangkan Boby belum minum terlalu banyak.
Belum cukup menggebrak, Faris mengepalkan tangan dan menonjok muka Boby hingga tersungkur jatuh dari kursinya. Kericuhan itu tak sampai menarik perhatian pengunjung lain, kalah bising dengan musik DJ yang terus menggelegar, meramaikan.
"Kau ingin kita hidup dengan satu ginjal? Gunakan otakmu sedikit!" maki Faris. "Kita sebelumnya sudah ngos-ngosan membayar mereka. Malahan aku merasa rugi mengucurkan dana sebegitu besarnya dana cuma untuk menyingkirkan si Fandi!"
Boby bangkit dengan mengelap sudut bibirnya yang berdarah. Dia tak marah atas perlakuan Faris.
"Lalu, bagaimana? Kita kabur ke luar negeri?" Boby tak bosan membeberkan usul.
"Kau mau jadi gembel?!" Usulan itu ditolak. "Cih ... apa yang harus kita lakukan? Eh, tunggu sebentar! Apa si algojo punya orang-orang terdekat?" tanya Faris setelah membedah memorinya.
Sewaktu di lokasi syuting, dia memang melihat Erick bersama dua orang wanita. Mudah diasumsikan jika salah satunya adalah pacar.
"Dia punya adik perempuan kembar. Mungkin juga seorang pacar?!" jawab Boby.
"Selain kalian satu kampus. Apa kau mengetahui alamat kediamannya?"
"Sebaiknya urungkan niat itu! Jangan cari masalah padanya. Lagian menyentuh orang-orang terdekatnya pasti sulit." nasihat Boby. Urat-urat syaraf di pelipis Faris mencuat muncul.
"Jawab pertanyaannya!"
"Aku tak tau, tapi pihak kampus seharusnya tau. Namun, jangan suruh aku mencarinya!" Boby lebih dulu mewanti-wanti. Dia sungguh tak ingin lagi berjumpa dengan Erick.
__ADS_1
"Menurutku, urungkan saja niat itu! Jangan terfokus pada si algojo. Kenapa tidak Fandi saja? Kita bisa mencari keberadaannya!?" Boby memberikan usulan yang lebih aman.
"Heh?! Hanya mencari jarum di tumpukan jerami. Mustahil, bangsat!" seru Faris.
Bartender telah kembali dengan anggur tambahan yang diminta Faris. Pria itu langsung menghabiskan dalam sekali teguk. Membuat Boby dan si bartender melongo.
Faris meletakkan gelas dengan kasar. "Kita ganti strategi! Sewa saja orang-orang biasa. Itu lebih masuk akal. Kita pun memiliki perlindungan."
"Aku kurang yakin dengan menyewa kroco bisa memberikan rasa aman!?"
Sementara itu ....
Boby dan Faris tak sadar bahwa ada seseorang yang mengintai mereka sedari tadi. Yah, siapa lagi kalau bukan Rita yang menyamar.
Rita terus memberikan laporan pada Erick secara berkala. Jadi, pria yang menjadi incaran Boby dan Faris itu hanya goyang-goyang kaki di kamarnya. Dia sudah tahu kondisi terkini.
"Yap, bagus Rita. Terus awasi saja mereka!" titah Erick lewat sambungan telepon.
"Baik, Master."
Erick bangkit dari tempat tidur, duduk di tepian. Dia berpegang dagu, berpikir. "Kelompok Mafia itu? Aku malah jadi penasaran tentang mereka. Bisnis gelap apa saja yang dijalankan? Hmm ... mungkin pemerasan para penjahat kelas teri, penjualan organ manusia, penipuan ... pasti lebih banyak lagi?!"
Pembalik niat buruk pasti cuma jadi ayam-ayaman bagi mereka.
"Cih ... kelompok itu satu-satunya ancaman untuk saat ini!? Harus dimusnahkan?" desis Erick, memutuskan keluar kamar.
[Saya punya saran lain, Master]
"Apa itu?"
[Ambil alih organisasi tersebut! Jauh lebih menguntungkan]
"Aku nggak mengalami masalah kekurangan uang, sih. Tapi, menjadi serakah ... akan kupertimbangkan!?"
Erick keluar kamar, niatnya ingin menyegarkan kerongkongan yang kering.
Dia terkejut ruang tengah nampak sedikit terang dan bising. "Jam segini ada yang nonton TV? Mungkin Mina atau Mona." Erick memutuskan untuk mendekat.
__ADS_1
"Mona?" gumam Erick agak terkejut.
Gadis itu duduk di sofa, menyelimuti diri dengan selimut tebal, sedang matanya fokus memandangi TV. Tak ada tanda-tanda rasa kantuk, walau ini tengah malam.
Muncul niat jahil pada diri Erick. Dia pun berjalan mengendap-endap seperti seorang ninja.
"Hayo? Nonton apa itu?"
"Waaaaaa!" kaget Mona sampai berdiri dan menyibak selimutnya. Sentuhan pada bahu membuat kalang kabut. "K-kak Erick?" rengeknya sebal setelah mengetahui sosok yang hampir membuatnya jantungan.
"Maaf, maaf. Lagian nontonnya serius banget. Memangnya apa——" Erick langsung skeptis. Dia tak menyangka selera tontonan dari salah satu adiknya itu.
"B-bukan begitu! Dosen menyuruh untuk menontonnya!" kilah Mona bersembunyi dibalik selimut. Dia sangat malu ketahuan menonton.
"Kakak bukan wibu, sih! Tapi, ternyata kartun Jepang lebih parah dari kartun barat. Unsur pelanginya ditunjukkan secara gamblang!" komentar Erick setelah menengok acara yang dipantengi Mona. Anime genre Yaoi.
"I-ini tugas dari dosen! Serius, beneran?! Disuruh memerhatikan dialog tiap karakternya!"
"Mona memang mahasiswa sastra Jepang, sih. Tapi, alasannya sungguh konyol. Apa tak ada kartun lain?" pikir Erick.
"Emang ada estetikanya?" Erick ikut duduk dan menonton.
"Tentu saja. Saat melihat interaksi antar karakternya itu sangat——b-ukan. Maksudnya tiap karakter itu punya aksen yang berbeda-beda. Hehe ... begitu?!" Mona tersenyum masam. "Dosennya menyuruh meneliti itu!?"
"Umm ... kak, apakah malam ini kamar ibu dan ayah itu terlalu ...."
"Pengalihan isu." Erick sontak merangkul Mona, mengenyahkan selimut yang menutupi, terus mengacak-acak rambutnya dengan gemas.
"Tapi, kakak tak menyangka sih seleranya Mona itu agak ... yah, aneh. Apa jangan-jangan kamu nggak suka laki-laki."
"Mona cuma cinta kak Erick!" ucap Mona semangat, membekap Erick dengan kuat
"Itu mustahil, adikku. Tetap mustahil, walau kita tak memiliki hubungan darah. Salah satu dari kita mungkin harus memutus hubungan keluarga jika ingin ... yah, keinginan Mona terwujud." Erick dengan lembut mengelus rambut adiknya itu.
"Bukan, bukan. Mona menyayangi kak Erick sebagai keluarga. Kak Erick adalah laki-laki paling berharga dalam hidup Mona. Humm, bersanding dengan ayah."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Kak Erick adalah kakak yang baik, laki-laki yang baik. Jadi, wajar jika semua perempuan mudah jatuh cinta pada kakak. Termasuk juga adik-adik perempuanmu ini! Hahaha ... aku sangat iri dengan Ariel." celetuk Mona pelan. Erick bisa merasakan piamanya menjadi agak dingin. Mona merembeskan sejumlah air mata.
"Keluargaku ... orang-orang terdekatku ... memang cuma mereka yang bisa menerimaku apa adanya, selalu percaya padaku. Tak peduli bagaimana keadaannya. Tentu saja harus kulindungi, mau dunia sekalipun yang menjadi musuhnya."