
Waktu fajar diwarnai dengan suara tembakan peluru, terjadi tembak-tembakan antara kelompoknya Ru dan anggota Heaven Mafia. Kedua kubu saling berusaha memukul mundur, Ru yang ingin menerobos masuk dan Heaven Mafia yang berusaha menghabisi penyerang.
Metode yang digunakan memang terlalu frontal. Tapi, tujuan akhirnya adalah kemenangan, tak peduli bagaimana prosesnya. Erick juga setuju dengan pemikiran semacam itu.
Cara pasukannya Ru mendapat pasokan senjata api karena Erick tempo hari telah menjarah senjata-senjata ilegal itu. Sewaktu beberapa anggota Heaven Mafia sedang bertransaksi di pasar gelap.
"Yah, mereka menggunakannya dengan baik." batin Erick mengawasi, dia bersembunyi dengan baik berkat jubah kamuflase.
Korban pun tak bisa dihindarkan. Dari kedua belah pihak sama-sama memiliki korban, bedanya pasukan Ru lebih sedikit, cuma beberapa. Itupun adalah orang-orang yang bebal diberitahu serta membangkang perintahnya
Tak jarang Erick membantu untuk menghabisi pihak musuh. Caranya melemparkan jarum kematian miliknya. Sekali terkena maka tak akan bisa berkutik, kematian sudah mutlak. Yah, jika memang ada penawar racun yang lebih kuat, mungkin bisa sedikit menolong. Tapi, tetap hasil akhir adalah kematian. Tak cukup dengan melemparkan jarum beracun, Erick juga melemparkan beberapa bom asap untuk menganggu penglihatan musuh.
Itu sangat efektif, para anggota Heaven Mafia kelabakan. Pasukan Ru jadi lebih brutal memberondong peluru. Dalam sekejap puluhan orang tewas.
"Sayang sekali, stok racunnya sudah habis. Jika masih sisa, mereka sudah habis semuanya." batin Erick.
Namun, kelompok mafia itu sepertinya cuma menjadikan ratusan orang di halaman depan sebagai tumbal. Masih banyak orang di dalam gedung.
Erick pun memerhatikan ada beberapa seorang sniper di daun-daun jendela, siap membuat bolong kepalanya pasukan Ru.
"Gawat, aku harus memperingatkan mereka."
Itu sudah terlambat, dari pihak Ru, seseorang mendadak tergeletak dengan kepala yang bersimbah darah. Pria berambut gondrong itu terkejut, namun dia dalam sekejap menemukan sumber masalahnya.
Erick tiba-tiba langsung merinding, aura yang dikeluarkan Ru sangat menekan.
Ru memungut sebuah batu terus melemparkannya dengan kekuatan yang besar, hingga batu itu melesat sangat cepat. Menghantam keras sniper itu.
"Itu gila. Lemparannya mengerikan, secara lesatan peluru." kagum Erick dalam hati.
Masalahnya cuma bukan satu orang penembak jitu saja, namun ada beberapa. Mengetahui Ru sangat berbahaya. Kesemuanya langsung menarget Ru.
__ADS_1
Splash ...
Semua timah panas itu tak ada yang mampu menyentuh Ru, semuanya termental seolah ada tameng tak terlihat yang melindunginya.
"Pantas saja dia menyebut dirinya sebagai pion super. Harusnya dia sendiri bisa meluluh lantakkan bangunan ini!" Erick bergidik ngeri.
Merasa cuma buang-buanh waktu, Erick langsung mencoba menyusup ke dalam gedung dengan memanfaatkan keributan itu. Tapi, sesuatu tak terduga terjadi.
Di lantai dasar sudah ada ratusan orang bersiap menghadang. Kamuflasenya langsung ketahuan begitu masuk ke dalam gedung. Baru juga lantai dasar dan sudah ada beberapa orang yang menghadang lajunya. Erick dengan cepat mengeluarkan dua belatinya, memang sangat disayangkan persediaan racunnya habis.
"Laporkan ke semua anggota, terlebih Master. Target ada di lantai dasar!" ucap seorang anggota Heaven Mafia melaporkan situasi lewat sebuah alat komunikasi di telinganya.
Jleb ...
Erick sontak melemparkan salah satu belati, menghujam tepat di leher, langsung tak bernyawa.
"Wah, bagaimana caranya mereka bisa tahu lokasiku?" batin Erick bingung.
Erick memutuskan berlindung dibalik meja besar yang ada di lantai itu.
Drttt ....
Hujan peluru tiada akhir, menghujam telak meja itu. Beruntung bahan yang digunakan bukan sebatas kayu, meja itu masih sedikit bisa bertahan.
Tahu jika terus bersembunyi seperti itu tak akan membantu. Peluru yang disimpan Erick pun sudah terlanjur habis. Dia kemudian mengeluarkan beberapa granat. Yah, itu adalah granat terakhir.
5 granat sekaligus ditarik pemicunya mengunakan mulut, terus dilemparkan ke arah ratusan orang yang tengah menghujaninya dengan tembakan.
"Semuanya berlindung! Ada granat——"
Mereka terlambat menyadari.
__ADS_1
Boam ... boam ... boam ...
Rentetan ledakan yang memekakkan telinga hadir, meluluh lantakkan lantai itu. Setelah bising keramaian itu, yang tersisa cuma keheningan. Lantai dasar menjadi penuh asap yang bercampur debu.
"Rasakan senjata kalian sendiri ... uhuk ... uhuk. Cepat habisi ketuanya. Jika tidak mereka pasti memanggil bala bantuan dari markas-markas cabang."
Erick langsung menuju tangga, menggunakan lift sama saja dengan blunder. Pasti ada jebakan tersendiri.
.
.
.
Sang bos masih adem ayem, dengan santai menaikkan kedua kaki di atas meja. Dia dengan malas menatap rekaman siaran langsung CCTV dan drone, menunjukkan bahwa gedung sedang tidak baik-baik saja. Dari tadi suara ledakan dan jerit teriakan memenuhi seisi gedung, juga getaran-getaran yang seolah gedungnya akan roboh.
"Master, beberapa helikopter terlihat berputar-putar di area sekitar gedung. Sepertinya dari pihak stasiun TV. Juga keberadaan polisi dan tentara yang mulai ikut campur. Bagaimana tindakan yang akan kita ambil, Master?" terang salah seorang petinggi Heaven Mafia, dia berdiri di sebelah bosnya, mengoperasikan sebuah tablet.
"Humm? Biarkan saja mereka berbuat seenaknya!" ucap sang bos dengan nada malas. Dia menepuk-nepuk mulutnya yang menguap. "Wo-ah. Di mana si target? Apa sudah hampir sampai di lantai ini?"
Pria dengan kaos oblong bertanya pada seseorang yang tadi sibuk mengoperasikan laptopnya, sibuk memberi instruksi lewat alat komunikasi. Dia menengok bosnya itu.
"Sebentar, Master ..." dia memejamkan mata. "Target sedang berada di lantai 6, sedang bersembunyi. Dia kewalahan menghadapi bawahan-bawahan kita."
Pria yang memakai kacamata itu membuka lagi mata dan memberitahukan apa yang baru dilihatnya sewaktu memejamkan mata. Yah, kemampuan penerawangan.
"Hmm?" si bos cuma berdehem.
"Master, tapi apakah kita sebaiknya lebih waspada pada orang berambut gondrong itu! Peluru bahkan tak mempan padanya! Dia kini sedang menyusul target dengan pasukannya yang cuma berkurang seperempat orang." terang pria berkacamata.
"Tidak, cuma insting. Si target potensinya lebih besar, bisa terus berkembang."
__ADS_1