System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 76 : Berburu hantu


__ADS_3

Alasan kenapa nggak update selama beberapa hari? Nggak punya kuota?


Udah, gitu aja sih.


.


.


.


Pemilik apartemen itu akhirnya datang setelah dihubungi oleh Hibiki.


Kakak perempuan Hibiki yang bernama Uzen Tenka. Yah, untuk Hibiki pun Uzen Hibiki. mereka bersaudara, tapi entah mengapa tak mirip menurut pandangan Erick.


Rombongan dari Erick sendiri pun sudah datang. Mereka agak terkejut, kenapa memilih tempat tinggal yang seperti itu ... dilihat pun sudah bisa dirasakan keanehannya.


Tapi, tak ada yang protes sebab pemilihan tempat tinggal itu. Erick pasti punya alasan tersendiri.


Pemilik apartemen itu ternyata masih muda, sebaya dengan Hibiki. Erick pun sedikit terkejut. Pengurusnya masih seorang pelajar.


"Rinka, ada calon penyewa!" beritahu Hibiki pada temannya yang bernama Kogami Rinka.


Rinka adalah seorang gadis kalem dan pemalu, dia selalu menundukkan pandangan di hadapan orang lain. Poni rata yang dimilikinya hampir menutupi seluruh mata.


"P-penyewa? S-serius? T-tapi, tempat ini——"


"Tak apa-apa. Erick-san sudah setuju." sela Hibiki yang melirik Erick.


Merasa tak enak, Erick langsung menggangguk. Tapi, Ariel merasa kurang srek dengan calon tempat tinggalnya. Bukan Ariel saja, tapi semuanya. Terlebih Mina-Mona, mereka sebetulnya cukup penakut.


Saudari kembar itu pun sadar bahwa apartemen milik Rinka ada yang tak beres


"Berapa biaya perbulan?" tanya Erick spontan dengan bahasa Jepang. Dia tahu Rinka tak mengerti bahasa Indonesia. Mina-Mona langsung protes.


"Kak Erick——" Mulut keduanya langsung disumbat.


"Hanya 10 ribu Yen per bulan." Bukan Rinka yang menjawab, tapi Hibiki. "Untuk Erick-san diskon 50%."


"Wah, terima kasih, lho. Tapi, apakah tak membuat Rinka-san rugi?"


"Tenang saja, Erick-san."


"Erick, kamu serius? Lihatlah, ada yang tak beres. Rata-rata di Jepang sewa apartemen itu di atas 30 ribu Yen. Pasti ada yang tak beres dengan apartemennya." Ariel berbisik-bisik. Tapi, diabaikan sebentar, dia kemudian melirik rombongannya. Terutama Lilis dan Anto.


Mereka semua mengangguk dengan ragu-ragu. Erick lantas tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah, Rinka-san. Kami menyewa tiga unit apartemen." Erick meminta jabat tangan. Rinka hendak tak ingin melakukannya, tapi Hibiki menggerakkan tangannya.


"Kami akan langsung menyewa untuk setahun. Tolong berikan nomor rekeningnya, akan saya transfer."


Transaksi itu pun berhasil. Walaupun sang pemilik terlihat tak srek.


Tenka yang sedari tadi cuma menonton dan diam tiba-tiba bersuara.


"Sebagai rasa terima kasih. Saya bersedia menjadi penerjemah untuk kalian dalam beraktivitas. Saya pun akan memasukkan ke tempat kursus bahasa Jepang saya secara gratis.


Itupun bila Erick-san ingin menggunakan jasa ini. Saya tak tahu harus memberi apa, cuma ini yang bisa saya berikan." ucap Tenka menunduk dalam, ikut meminta Hibiki untuk melakukannya juga.


"Seharusnya tak perlu sebegitunya. Saya tak mengharapkan balasan ini."


"Tak bisa. Saya tahu ... pasti Erick-san sudah membahayakan keselamatan diri Anda!" Tenka sedikit memaksa.


Erick akhirnya memilih mengiyakan. Erick sedang malas melakukan perang kata.


.


.


.


Erick dan yang lainnya pun mengurus kepindahan mereka. Membawa masuk barang bawaan.


Erick tinggal dengan Ariel dan Mina. Yah, itu hasil undian.


"Aku rasa si Hibiki itu bocah yang pemaksa. Apa-apaan dengan apartemen ini. Sepi! Hawanya juga menyeramkan. Sebegitunya ingin membantu temannya." Ariel terus ngedumel.


Yah, dia ada benarnya. Apartemen milik Rinka tak bisa dikatakan bagus, malah sedikit di bawah rata-rata walaupun terawat. Minusnya adalah hawa yang menyeramkan.


Semuanya hampir setuju dengan pendapat Ariel.


"Di sini tak ada perabot, kecuali lemari baju. Kamar pun cuma satu. Erick kita harus membeli perabot rumah tangga yang lain!?" ucap Ariel yang selesai memasukkan semua baju ke dalam lemari.


"Memang harus beli, sih." balas Erick.


"Bikin repot. Kita harusnya bisa dapat yang lebih bagus dari ini!"


"Kamu tak ingin di sini?"


Perkataan Erick itu sukses membuat Ariel kelabakan. Wanita itu berpikir bahwa apa yang dikatakannya tadi kurang baik.


"B-bukan begitu. Aku tak bermaksud ingin pindah. A-aku cuma kesal." Ariel menunduk ke bawah. "Walaupun tinggal di gubuk sekalipun tak masalah jika itu bersamamu."

__ADS_1


"Jadi, kamu sama saja dengan Hibiki. Kalian rela melakukan apapun demi orang yang dicintainya."


"Huh, dicintai? Si Hibiki suka sama Rinka?"


"Begitulah?" balas Erick santai, dia membuka jendela balkon untuk membiarkan cahaya matahari masuk.


Erick dengan matanya melihat sesuatu. "Wah, ada kadal raksasa, ya?" Erick bergumam cukup pelan hingga Ariel tak bisa mendengarnya.


"Umm ... Hibiki cuma ingin membantu Rinka. Gadis itu memiliki kehidupan yang sulit, dia yatim-piatu. Hal yang dimilikinya cuma apartemen warisan dari keluarganya. Jika kamu jadi Hibiki ... apa yang kamu lakukan?"


"T-tentu saja melakukan hal yang sama. Melihat orang yang dicintai hidup susah pasti sangat pedih di hati. Ingin melakukan sesuatu yang untuk membantunya." Ariel tersenyum. Dia baru menyadari bahwa tindakan dari Hibiki itu normal.


"Tak apa-apa. Aku tak menganggapmu buruk. Normal untuk memilih yang lebih baik." Erick mengacak-acak rambut Ariel untuk sedikit menguburnya yang berubah murung.


"Jika kamu begini, tentu saja aku sangat mencintaimu. Tak heran banyak wanita yang menyukaimu." Ariel tersenyum. Dia memangkas jarak wajahnya dengan Erick, lalu memberikan kecupan.


"Yah, terima kasih atas pujian dan hadiahnya."


"Kak Erick!"


Teriakan Mina datang dari dapur, Erick dan Ariel sontak keluar dari kamar dan segera mengecek keadaan Mina.


"Mina, ada apa?" tanya Erick.


Melihat kedatangan kakaknya, Mina langsung berlari menuju ke arahnya. Dia bersembunyi dibalik Erick dan menunjuk-nunjuk suatu arah depan takut.


"Tadi aku lagi beres-beres dapur, lalu ada hal aneh." beritahu Mina.


"Hal aneh?" Ariel menaikkan sebelah alisnya dengan bingung.


"Hmm ... cemilan yang aku beli tadi terlempar dengan sendirinya."


"Terlempar? Mana mungkin!"


"Huh ... penghuni tempat ini mulai iseng. Pantas saja para penghuni tak ada yang betah." batin Erick.


"Kak Erick! Tempat ini pasti berhantu. Mending kita pindah aja!" bujuk Mina yang memeluk kakaknya dengan kuat.


"Huh, tak perlu pindah. Kenapa harus takut dengan hantu. Ayo kita lakukan perburuan hantu. Huh, Mona pasti bersemangat."


"Berburu hantu? Kita bukan indigo, orang pintar, dukun. Bagaimana caranya, kak?"


"Iya. Bagaimana caranya?"


"Tenang saja. Tentu aku punya cara."

__ADS_1


"System, siapkan alat-alatnya!"


[Baik, Master]


__ADS_2