System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 48 : Menebar teror


__ADS_3

"Erick, kita mau kemana?" tanya Ariel cukup penasaran, dia memerhatikan sepanjang jalan yang dilalui. Dirinya dan Erick bakal pergi ke tempat yang jarang dilewati.


"Pinggiran kota." balas Erick singkat.


Jalannya sudah semakin buruk. Lubang-lubang hampir selalu ada. Beruntung mobil milik Fian punya kualitas yang sangat bagus, jadi goncangannya tak terasa.


"Huh, aku di suruh mengantar ke mana, sih?" risau Fian dalam hati yang tak henti-hentinya menggigit-gigit lidah, sampai tak sengaja tergigit.


"Au!?" pekik wanita dengan rambut hitam panjang berombak itu. Mendadak mengerem akibat terkaget.


Erick dan Ariel yang duduk di belakang terjerembab ke depan, tapi sabuk pengaman sedikit menahan kontraksinya.


"Ada apa? Ada ayam lewat?" ucap Erick datar.


"B-bukan. H-hanya saja ... ah, maaf. Aku jamin kejadian ini tak akan terjadi lagi!" Pada akhirnya Fian malu untuk mengakui kecerobohannya.


"Hmmm ...!"


Ariel yang melihat pacarnya itu bersifat agak ketus berinisiatif memberitahu. "Jangan begitu, Erick! Fian pasti tertekan. Kamu terlalu mengintimidasinya." bisik Ariel tersenyum kecil.


"Perasaan dari tadi aku diam, deh?!" Erick menaikkan sebelah alisnya.


"Iya, cuma diem. Tapi, auramu sangat menekan! Apalagi ekspresimu yang sangat serius. Aku juga sebenarnya agak takut, lho."


Erick lantas melihat pantulan bayangannya di spion kaca spion. Di sana terlihat wajah si orang paling serius.


"Huh, aku semenyeramkan ini?" Erick menghembuskan nafas berat.


"Suasana hatimu sedang buruk?" tanya Ariel.


Erick menggeleng pelan. "Nggak juga. Hanya saja ... aku sekarang ini memang sulit tersenyum hangat!? Hmm ... kamu tau ... lagi mode jahat!" ucap Erick berusaha menghilangkan suasana tegang di mobil.


"Mode jahat itu yang gimana, ya?" gurau Ariel sedikit terkekeh.

__ADS_1


"Saat aku maupun orang-orang terdekatku diperlakukan buruk oleh orang lain. Begitulah ... intinya keinginan membalas!"


Tawa Ariel sontak sirna, dia hanya menjawab pendek, "Oh."


Suasananya kembali berubah ke arah lain. Terlebih si supir, dia mencengkeram kemudinya dengan kuat.


"Sikapku padanya dan keluarganya memang buruk. Wajar jika dia tak mau memaafkanku!" batin Fian.


Selanjutnya mereka sampai di tempat yang Erick maksud. Lingkungan perkampungan kumuh yang sangat padat. Tak ada jarak rumah satu dengan rumah lainnya. Untuk laluan mobil saja tak cukup. Mereka terpaksa meninggalkannya di ujung masuk gang.


"Kenapa kita ke sini?" bingung Ariel. Pastinya Erick bukan berniat mengajak kencan.


"Lokasi ini katanya akan dijadikan lokasi syuting sebuah film?!" ucap Fian tiba-tiba. "Film bagus katanya. Aktor dan aktris yang berperan sangat terkenal."


Erick mengangguk membenarkan ucapan Fian. "Ya. Kita akan menonton jalannya syuting film itu. Yah, kurasa?"


"Ayo, aku tau pasti lokasi syutingnya!" Fian menawarkan menjadi penunjuk arah.


Mereka bertiga langsung menuju lokasi spesifikasinya.


"Ah, sudah sampai. Ngomong-ngomong, Fian. Filmnya tentang apa, ya?" tanya Ariel. Pemilihan setting lokasinya membuat penasaran.


"Film-film pengkritik pemerintah." beritahu Fian.


Tempat itu ramai orang. Mulai dari kru syuting yang sedang menata lokasinya, para petugas keamanan yang sibuk menghalau para penggemar untuk masuk lebih dalam ke area syuting.


Akan tetapi, Erick lebih fokus pada tempat yang digunakan sebagai tata rias. Itu ada tenda tersendiri yang agak jauh dari lokasi syuting. Tempat itu tentu saja dijaga oleh beberapa penjaga.


"Di mana Rita?"


[Ia sedang menyamar menjadi penata rias, Master]


"Waw ... keren. Dia bisa melakukan itu? Seperti mata-mata saja!?"

__ADS_1


Kebetulan yang tak disangka-sangka, seseorang yang menentang tas kecil dan barang-barang yang memenuhi kedua tangannya, tengah berjalan dengan tergesa-gesa ke tenda penata rias. Itu adalah Faris, pria berusia 27 tahun depan rambut nyentrik disemir putih agak berwarna pink.


Faris tersandung sebuah batu hingga terjatuh, barang bawaannya pun tercecer. Fian hendak membantu, tapi dicegah oleh Erick.


"Tak usah! Itu salahnya sendiri!"


Meski dari tampilan depan nampak seperti orang yang pekerja keras, namun beda lagi di baliknya. Dia cukup malas bekerja, hanya mengharap hasil instan.


"Akhh ... dasar artis ABG sialan, bocah bau kencur! Kenapa aku disuruh membawa barang-barangnya? Sebanyak ini lagi? Aku ini manajer, bukan babu! Para asisten itu harus dipotong gaji. Seenaknya pulang kampung!" marah-marah Faris dalam hati. Dia terus merutuk, sedang di sisi lain mencoba tetap tersenyum di hadapan orang-orang.


Erick tentu bisa mendengar suara hati dari Faris. "Apakah sejak dulu dia sudah begini? Kenapa Anya bisa mendapatkan pegawai-pegawai seperti ini?"


"Si Boby juga ... menambah-nambah beban pikiran saja! Fandi hendak membalas dendam? Sampai menyewa orang? Hah, terdengar konyol!?


Meski keluar dari penjara, dia pasti jadi sampah. Orang-orang tak akan menerima mantan Napi. Lalu, dari mana Fandi mendapatkan uang? Mencuri, merampok? Orang miskin sok suci itu mana mungkin mau melakukannya?


Boby pasti overdosis obat!" batin Faris panjang lebar. Selesai memungut barang-barangnya yang tercecer, pria itu lantas masuk ke tenda.


Namun, keberadaan tiga orang yang dari tadi menontonnya memungut tak bisa diabaikan. Faris akhirnya menoleh ke arah Erick. Senyuman tipis lantas didapat Faris.


Barang bawaannya kembali berjatuhan. Kini karena tubuhnya yang menggigil. Dia ketakutan melihat Erick.


"Pria itu ... warna rambutnya, ciri-cirinya? D-dia yang dimaksud Boby?"


Puas melihat wajah ketakutan Faris, Erick lantas mengajak kedua wanita yang bersamanya kembali. Menuju ke lokasi lainnya. Niat Erick cuma menebar teror pada mereka, membuat tak tenang. Reaksi dari ketiga orang komplotannya Boby pun sama semua.


"Kalian lari ke ujung dunia pun percuma. Aku akan selalu bisa menemukan kalian!"


.


.


.

__ADS_1


Btw ... karya ini sudah terkontrak. Terima kasih para reader atas dukungan dan kontribusinya, mau itu view, like, komen(maaf, jika komennya di abaikan, ya?) di setiap chapter. Saya sangat berterimakasih sudah mau membaca karya ala kadarnya ini.


Dengan begini bisa semangat update, sih. Do'akan saja semoga kuat up konsisten, 2 chapter, atau bahkan 3. Kejar target kata.


__ADS_2