System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 46 : Heaven Mafia


__ADS_3

Ariel langsung memeluk Erick dengan erat begitu sang pujaan hati menghadap ke arahnya.


"Kamu tak apa-apa?" ucap Ariel yang suaranya teredam karena ditenggelamkan pada dada bidang milik Erick.


"Cup, cup ... maaf, sudah membuatmu cemas. Tapi, sekarang aku baik-baik saja. Tadi cuma pura-pura!?" jelas Erick yang dengan lembut membelai puncak kepala Ariel. "Sekali lagi maaf. Aku tak bermaksud membuatmu sedih atau apa."


Untuk sementara waktu, Ariel tak ingin melepaskan bekapannya. Lalu, setelah Ariel sedikit lebih tenang. Erick lantas menjelaskan semuanya pasal Ardhi.


Namun, Erick mendapat batunya, Ariel tiba-tiba menonjok perutnya. "Kenapa tak bilang dari awal? Kamu bisa cerita padaku, 'kan?" sebal Ariel.


"Yah, karena beresiko. Pria ini dukun tau! Dia bisa melakukan sesuatu yang diluar nalar. Menaruh paku di perutmu adalah urusan mudah. Aku tak ingin membahayakan orang lain, terlebih kamu!"


"Terus, kenapa kamu mendadak mengajakku hari ini?"


"Ya. Karena aku yakin bisa melindungimu. Aku sudah menyiapkan perlindungan untuk kita." Erick mengangkat tangannya yang masih tetap tertaut dengan milik Ariel. "Sudah mengerti?"


Ariel mengangguk lemah dengan sedikit memalingkan muka.


"Huh ... sebaiknya lupakan saja kejadian tadi! Kita urus dukun ini. Masih ada hal yang ingin kulakukan padanya!"


Erick memutuskan untuk mengikat Ardhi di sebuah kursi, terus ditelanjangi sebagian. Perut bongsor pria itu lantas kelihatan. Sisanya menunggu dengan sabar hingga sadar. Pastinya pingsannya Ardhi diisi oleh mimpi buruk.


"M-m-mafkan saya! Hah ... hah ... apa-apaan ini?" Ardhi bangun-bangun sudah berontak dengan wajah yang banjir keringat. "Kenapa aku bisa diikat?"


"Oh, Pak Ardhi sudah sadar. Gimana tidurnya, mimpi indah?" seloroh Erick yang nampak berjalan dari arah dapur bersama Ariel. Mereka membawa bingkisan snack.


Yah, pastinya bosan menunggu Ardhi siuman. Jadi, dia menggeledah seisi apartemennya si dukun. Dia menemukan beberapa cemilan di dapur, beruntung tak diisi dengan sesuatu.

__ADS_1


"Kenapa kau masih baik-baik saja? Seharusnya perutmu sudah bolong karena kelabang?!" berang Ardhi, urat-urat di wajahnya bermunculan.


"Hiiiii ... ternyata mengerikan!?" Erick bergidik ngeri. "Dari mana dia belajar hal semacam itu? Dan bagaimana bagaimana mempelajarinya?"


"Tapi, kenyataannya aku baik-baik saja. Kau gagal menembus pagar pelindung yang kupasang. Kau ternyata payah, terlalu pede dengan kemampuan sendiri!" Erick memanas-manasi.


"Tentu saja. Memangnya kau pikir, tumbal apa yang perlu kusiapkan untuk——" Ardhi seketika bungkam. Dia hampir mengatakan sebuah rahasia. Namun, Erick terlanjur mengerti maksudnya.


"Hampir keceplosan!" batin Ardhi panik.


"Oh. Menumbalkan keluarga sendiri. Biadab juga ternyata kau, ya ... Pak Ardhi! Pantas masuk penjara."


"K-ketebak?!" Ardhi semakin panik setelah mendengar Erick mampu memperkirakan. Lagipula, sudah rahasia umum bahwa mempelajari ilmu hitam itu berkaitan dengan tumbal.


Untuk mewujudkan rencana untuk memasukkan Ardhi ke dalam penjara. Erick butuh bukti, maka dari itu Ariel sedari tadi telah diam-diam merekam pembicaraan Erick dan Ardhi.


"Berarti benar, ya? Huh, kau rela kehilangan keluargamu hanya untuk menguasai hal-hal itu. Aku yakin meski kau merasa sangat hebat bisa membunuh orang lain tanpa menyentuh. Tapi, hidupmu pasti terasa tak tenang. Kau tak mungkin bisa merasakan kedamaian di hidupmu!" ucap Erick panjang lebar, dia pura-pura merasa iba.


"Kesusahan yang aku alami. Makan sehari-hari saja susah, terlebih menafkahi seorang istri dan dua anak. Kami golongan paling bawah, sialan! Paling bawah! Kami tak dianggap berharga, dijual sana-sini! Jadi, jika ada harapan ... kenapa tak mengambilnya?!" Ardhi puas berteriak jerih. Unek-uneknya sudah dikeluarkan.


"Jangan pikir aku tega membunuh keluargaku sendiri? Aku sangat menyesal, sangat menyesal. Karena itulah ... aku sedang berusaha memperbaikinya!"


"Memperbaiki? Apa yang bisa diperbaiki? Pak Ardhi tak bisa membangkitkan orang mati!" timpal Ariel. Dia juga jadi geregetan.


"Bisa. Itu sangat mungkin!? Aku cuma perlu mengumpulkan biayanya. Lalu ... istri dan anak-anakku akan hidup lagi!"


"Orang ini pasti sudah gila!?" batin Erick merasa prihatin. "Dia sudah tak tertolong lagi."

__ADS_1


"Pak Ardhi bukan Tuhan! Tak mungkin bisa membangkitkan orang yang sudah meninggal!" sangkal Ariel.


"Saya memang bukan Tuhan, Ariel. Tak ada yang mengatakan bahwa saya bisa membangkitkan orang mati!"


"Biaya? Itu berarti kau percaya ada orang lain yang bisa memenuhi permintaanmu itu?!" Erick baru menyadari maksud dari perkataan Ardhi.


"Pak Ardhi percaya ada orang yang bisa membangkitkan——"


"Saya pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Orang itu bisa membangkitkan orang mati!" sela Ardhi memotong perkataan Ariel.


[Tak ada yang seperti itu, Master]


[Manusia tak ada yang sanggup melakukannya. Hanya ada satu Kemungkinan, Ardhi ditipu]


"Ya. Aku juga yakin. Hal itu terlalu mustahil untuk manusia!"


"Memangnya siapa yang bisa melakukan itu?" tanya Ariel mendesak. Semua hal yang dikatakan Ardhi sungguh di luar nalar dan membuat orang penasaran.


Memangnya siapa yang sanggup membangkitkan orang mati? Jika memang ada, dia sudah mencipta sejarah.


"Mereka menyebut diri mereka dengan Heaven Mafia." beritahu Ardhi.


Erick terbungkam untuk sementara. Dia sedang menyusun ingatan-ingatan di kepalanya.


"Heaven Mafia? Apa itu nama dari mafia yang disewa Boby dan lainnya. Mafia itu?" batin Erick.


"Hipnotis? Hah, ternyata kemampuan mereka lebih dari itu!? Berurusan dengan mereka tidak, ya? System ... apa bagus menambah musuh? Sedangkan mereka tak menggangguku?"

__ADS_1


[Jika mereka memang tak mengusik Master dan semua orang terdekat Anda. Maka biarlah. Kurang bijaksana menambah musuh]


"Nasihat yang bagus. Baiklah ... abaikan saja mereka dulu jika tak mengusik kehidupanku!"


__ADS_2