
"Rita, tolong kau urus ketiga orang ini! Sembunyikan atau apa terserah! Terpenting jangan sampai ada yang tau!" titah Erick pada Rita, mewanti-wantinya.
"Baik, Master." jawab Rita dengan patuh menunduk.
Rita merupakan perwujudan dari wanita dewasa yang cantik serta dapat diandalkan dalam berbagai urusan. Hampir sama seperti manusia ciptaan System yang Erick tugaskan untuk mengurus Meta, namun Rita adalah versi lemahnya. Mau bagaimana lagi ... Rita pada awalnya cuma dijadikan bodyguard biasa untuk Mina-Mona.
"System, apa spesifikasi semua wanita yang kau ciptakan begini?"
[Tentu, Master. Bahkan termasuk high spek]
"Huh, lama-lama bisa oleng, nih. Tapi, karena mengingat bahwa dia bukan manusia tulen ... itu mencegah timbulnya perasaan yang terlarang!"
Mereka berdua kini berada di toilet pria guna memutuskan cara mengurus orang-orang pingsan. Boby dan dua wanita itu perlu disembunyikan tanpa mencipta kehebohan bahwa ada orang yang hilang.
Tenang saja, Erick tak akan membunuh mereka. Terutama kedua wanita itu. Akan tetapi, teruntuk Boby. Yah, pria botak itu bisa saja milih mati daripada mendapat siksaan dari Erick.
Erick sekarang telah mengantongi identitas dari orang yang menjebaknya. Rupanya ada empat orang. Dia hanya bisa geleng-geleng kepala.
Sebegitu dengki dan tak sukanya mereka padanya, hingga melakukannya hal seperti itu.
"Aku mengandalkanmu, Rita!" ucap Erick tersenyum mengagungkan jempolnya.
"Saya sangat tersanjung, Master."
Mereka berdua akhirnya mengakhiri pertemuan itu. Erick masih perlu mengotak-atik CCTV seisi kampus. Pulangnya hari ini mungkin agak telat. Dia berusaha membuat kejahatan yang sempurna.
"Huh, Ariel pasti cemberut!? Hahaha, pasti lucu sekali." Hati Erick kembali berbunga-bunga setelah mengalami pemanasan yang hebat berkat Boby. Keberadaan Ariel sudah menjadi obat stres.
Erick telah berada di parkiran kampus, tempat janjiannya. Tapi, karena dia datang dua jam lebih dari jadwal. Ariel pindah ke kafetaria, apalagi bersama Mina-Mona. Perempuan-perempuan itu telah mengirimnya pesan.
"Mona? Semoga kita tak canggung lagi!"
Kejadian malam itu terlalu membekas bagi Erick.
__ADS_1
"Eh? Baru sadar ternyata. Minggu depan Ariel ulang tahun?!" ucap Erick sedikit terkejut melihat tanggal yang terpampang di handphone-nya. Dia tersenyum penuh arti.
"Harus memilih hadiah yang bagus."
Setelah berhasil bertemu dengan mereka bertiga, pulang tak perlu lagi ditunda-tunda. Langsung tancap gas pesan taksi online. Begitulah susahnya tak punya kendaraan sendiri. Berkat itu Erick mendapat sedikit pencerahan.
"Mobil aja kali, ya? Aku juga berminat beli mobil, sih. Hmm ... tapi, apakah tak terlalu biasa? Harus lebih menakjubkan! Harus yang paling diinginkan Ariel." batin Erick berpikir keras menentukan hadiah yang tepat.
Dia sampai mengaktifkan pembaca suara hati dan pikirannya. Tapi, tak begitu membantu guna memberi petunjuk.
"Ada apa, kak Erick? Kayak kelihatan bingung!?" celoteh Mina yang duduk di sebelah kanannya. Sedang, saudari kembarnya malah memilih duduk di samping driver.
"Bingung kenapa? Sulit menentukan wanita yg ingin dikencani?" ucap Ariel sarkas. Dia duduk di samping kirinya Erick.
Wanita itu masih ngambek disuruh menunggu lama di parkiran.
"Sudah kubilang, ada sesuatu yang sangat penting. Aku tak bisa memberitahumu!" Erick berkelit.
"Aku sih, percaya. Ya, percaya. Tapi, susah ... kamu diincar banyak mahasiswi!" ucap Ariel membuang muka ke arah jendela.
"Y-ya, jika tak kuat mundur saja!" Mona pun ikut bicara.
Erick langsung lega mengetahui Mona mau bicara.
"Tentu saja, aku kuat ... calon adik kembarku" Ariel membalas Mina-Mona.
"Aku tak mau menjadi adikmu. Kami tak punya kakak perempuan!" balas Mina ketus, mengirimkan aura permusuhan.
Erick yang berada di tengah-tengah mereka hanya dapat menghela nafas.
"Kalian ... jangan begitulah! Tak kasihan pada pak supir? Jadi terganggu. Lebih baik seperti Mona yang diam!" ucap Erick. Entah kenapa kursi depan——yang diduduki Mona bergetar.
"Huh, syukur. Dia masih Mona yang biasanya. Tapi, sekarang lebih canggung!" batin Erick setelah mendengar suara hati adik paling bungsunya itu.
__ADS_1
"Hmph!" Mina dan Mona sama-sama buang muka dengan kesal.
Akhirnya mereka sampai di apartemen. Mina dan Mona kembali lebih dulu. Erick dan Ariel kembalinya belakangan.
Ariel mengajak Erick untuk berada di taman bermain anak-anak.
"Aku selalu was-was." ucap Ariel mengayunkan diri di wahana ayunan.
Erick sekarang bersikap pasif dan cuma jadi pendengar.
"Aku tak bisa tenang, Erick. Status kita yang baru pacaran itu ...." Ariel mengatupkan mulutnya kuat-kuat.
"Sebelum janur kuning melengkung .... Semuanya bebas menikung, 'kan?" gusar Ariel. Dia kemudian menghentikan laju ayunannya, menoleh kepada Erick, menatap tajam.
"Kamu tak akan berpaling dariku, 'kan?"
"Tentu tidak!" balas Erick, membelai lembut puncak kepala Ariel. Di sana terselip daun yang kebetulan mendarat di sana, Erick sontak mengenyahkannya.
Momen romantis.
"Siapa yang berani mengancammu, Ariel?"
Ariel seketika melebarkan matanya.
"I-itu ...."
"Huh, hubungan kita memang belum aman sih. Rawan terombang-ambing!? Tapi, kamu tak perlu mendengarkan omongan mereka! Tak ada yang bisa menggodaku agar berpaling darimu! Cuma Ariel seorang!" ucap Erick dengan menatap Ariel intens, mengirimkan kesungguhannya. Dia tak main-main.
Tanpa sadar Ariel menitihkan air mata, dia serta-merta memeluk Erick erat. Tak peduli banyak anak kecil dengan orang tuanya di situ.
"Kalau gitu, Erick. Ayo temui orang tuaku! Lalu——"
"Setidaknya kamu harus lulus kuliah dulu. Harap bersabar." potong Erick serta-merta.
__ADS_1
Tentu saja Ariel langsung ngambek lagi.