
Di kediaman keluarga Uzen.
Pagi hari seperti biasa, Hibiki dan kakaknya, yaitu Tenka sedang sarapan berdua. Mereka memang cuma tinggal berdua, orang tuanya sudah meninggal sejak lama.
"Nah, makan makananmu!" suruh Tenka, dia melihat adiknya dari tadi cuma melihat omelette yang dia buat. "Kamu tak ingin terlambat sekolah, 'kan?"
"Ya, ya ... ini juga mau di makan." Hibiki dengan paksa menjejali mulutnya dengan makanan.
"Umm ...N-ne ...uhuk ... uhuk."
"Minum dulu, tersedak, 'kan?"
Hibiki langsung menyambar segelas air yang ditawarkan oleh wanita berambut pendek sebahu itu.
"Huh ... makasih."
"Makannya hati-hati."
Hibiki mengangguk-angguk terus menunduk ke bawah. Dia mempunyai sesuatu hal yang ingin dibicarakan dengan kakaknya.
"Umm ... Ne-san?"
"Ya. Jika ada yang mau diceritakan. Katakan saja! Mungkin aku bisa membantu Iki?!"
"Yah, begini ..." Hibiki tersenyum kecut. "Aku mau berhenti sekolah saja."
Tenka yang hendak meneguk air mendadak berhenti, gelas yang dia pegang hampir terlucut. Ekspresi santainya pun berubah serius.
"Apa yang kamu katakan?"
"Yah, b-berhenti. Aku lebih baik bekerja saja ..."
Brakk ...
"Kamu bercanda?" Tenka menggebrak meja. "Ayah dan ibu menitipkan kamu padaku. Mereka berpesan agar aku merawatmu dengan baik. Tentu saja termasuk dengan pendidikan yang layak. Ne-san masih mampu, Iki. Apa alasanmu ingin berhenti sekolah?"
"B-bukan apa-apa ...."
"Oh, masalah pembully itu. Dengar kamu harus melawan, bukannya kabur. Meski kamu menghindar dengan berhenti sekolah ... itu bukan solusi ...."
Brakk ....
Hibiki memundurkan kursi depan kasar, dia berdiri. "Ne-san tak tahu saja apa yang aku rasakan."
Setelah mengatakan itu, Hibiki pun pergi dan tak menghabiskan makanannya.
Tenka memegang kepalanya, dia sudah terlanjur pusing dengan masalah adiknya. Urusannya tak sepele masalah pembullyan di antara siswa, lebih dari itu.
"Bagaimana ini? Erick, 'kah?" Tidak ... kami baru kenal. Tak enak jika minta ini-itu." Tanpa disadari Tenka membutuhkan air mata.
"Aku cuma ingin hidup tenang tanpa masalah. Apa itu sangat sulit?"
.
__ADS_1
.
.
Erick memutus untuk memesan apartemen yang jaraknya tak terlalu jauh dengan milik Rinka. Yah, apartemennya pun terbilang sederhana, standar, tak terlalu mewah. Bagi Erick terpenting nyaman untuk ditinggali.
Keberadaan para tetangga pun berpengaruh jadi dia memilih yang tak banyak penghuninya.
Erick sedang sibuk dengan layar holografi dari System. Dia sedang melakukan peretasan terhadap database penduduk milik pemerintah Jepang. Lebih dari setengah jam Erick sibuk menatap panel melayang itu.
Itu dilakukan sembari menunggu Ariel dan Mina yang tak kunjung selesai mandi, sudah hampir satu jam.
"Cih, kegiatan sia-sia. Anya pasti mengganti seluruh identitasnya. Tapi, soal penampilannya ... kenapa aku tak bisa menemukan seorang wanita berumur 20-an tahun yang mirip dengannya." Erick frustasi mengacak-acak rambutnya.
"System, benar, 'kan? Anya di Jepang? Awas jika pemindaianmu salah!"
[Memang sudah dipastikan d Jepang, Master. System tak mungkin salah]
"Terus? Kenapa tak ada?" ucap Erick mendecih. Dia sangat kesal.
Ariel dan Mina keluar dari kamar mandi. Tubuh mereka cuma terlilit handuk, bau wangi pun mampu ditangkap oleh hidung.
"Erick, kenapa mukamu kusut begitu? Ada sesuatu yang bikin jengkel?" tanya Ariel. "Eh? Apa kamu mau BAB, sedangkan kami terlalu lama di kamar mandi ..."
Ting-tong ...
Perkataan Ariel terpotong oleh suara bel pintu.
Erick berjalan ke arah pintu depan. Tak sulit untuk mengetahui identitas dari si tamu, kemampuan Esper sangat membantu.
Tamu yang datang pagi-pagi begini adalah Tenka.
Erick membuka pintu.
"Umm ... A-no, maaf menganggu. Apa Iki datang ke sini? Dia kabur dari rumah!" beritahu Tenka langsung to the point.
"Huh, System, di mana keberadaan Hibiki? Cepat cari dia!"
Dalam sekejap System dapat menemukannya.
"Dia tak berkunjung ke sini. Tapi, aku tau dia ada di mana." ucap Erick yang membuat Tenka menghembuskan nafas lega.
"Benarkah?"
"Ya. Tunggu sebentar, aku bersiap-siap sebentar. Kita pergi ke sana." Erick masuk ke dalam lagi untuk mengenakkan jaket.
Erick masuk ke kamar ketika Ariel dan Mina ganti baju. Tentu dia melihat tubuh kedua perempuan itu secara jelas.
"Erick!"
Pagi hari sudah terdengar teriakan.
"Untuk apa malu? Aku sudah pernah melihat badan telanjangmu .... oh, Mina. Maaf, kakak tak sengaja. Anggap saja hal ini tak pernah terjadi."
__ADS_1
"Mana bisa begitu!" Mina melemparkan isi kopernya pada Erick.
Erick langsung keluar kamar, beruntung dia sudah mengambil jaketnya.
"Sudah, mari berangkat." Ajak Erick. Tenka mengangguk dan berjalan mengikutinya.
"System, tunjukkan lokasi dari Hibiki!"
Panel yang cuma bisa dilihat oleh Erick pun muncul. Dari peta itu menunjukkan bahwa Hibiki sedang di puncak gedung yang sudah lama terbengkalai.
"Tenka, apa Hibiki sering pergi ke tempat itu?"
"Aku bahkan tak tau jika dia sering ke sana."
"Begitu, ya? Huh, mari kita harus ke sana. Dia mungkin dalam bahaya?!"
"Bahaya?" kaget Tenka.
Erick menarik tangan Tenka secara paksa, tak mempedulikan dia bisa mengikuti atau tidak.
"Huh, Yakuza-yakuza itu. Dari kemarin dia sudah mengintai Hibiki dan mencari saat yang tepat saat Hibiki sendirian. Haha ... bocah kemarin memang pencepu handal pada kakaknya.
"Erick, memang ada bahaya apa? Iki kenapa?" Tenka panik.
"Dia sedang dikeroyok oleh Yakuza."
"Hah? Kenapa Iki bisa berurusan dengan para Yakuza. Apa yang sudah dia lakukan?"
"Ceritanya sedikit panjang. Lebih baik kita bergegas ke atas!"
Erick dan Tenka bergegas menaiki anak tangga dari gedung itu. Hibiki berada di atap.
Sementara itu, Hibiki yang menyendiri dan menikmati pemandangan kota Tokyo dalam kesunyian mendadak terganggu oleh keberadaan beberapa orang berwajah sangar.
"Oh, bocah kecil ini yang sudah menghajar adikku. Berani-beraninya!" Pria dengan tato ular di wajahnya memukulkan balok kayu ke telapak tangan.
"Y-akuza?" batin Hibiki yang berusaha tetap tenang. Tapi, badannya yang gemetar tak bisa berbohong.
"Apa maksudnya? Aku tak mengerti!" Hibiki berusaha mengelak dari tuduhan sepihak.
"Jangan pura-pura bodoh, bocah! Kalian ... bereskan dia!"
"Hahaha ... apa-apaan ini? Kalian mau mengeroyok bocah? Tak malu? Pilihlah lawan yang sepadan!" Erick muncul dengan kuda-kuda siap bertarung.
"Erick-san, Ne-san?" Hibiki langsung berlari ke arah kakaknya.
"Hmm ... mau sok jagoan. Hanya datang sendiri dengan seorang wanita! Hahaha ... lelucon macam apa ini?" Yakuza itu tertawa terbahak-bahak.
"Kalian turun ke bawah dulu! Akan kuladeni orang-orang pengecut ini!" perintah Erick. Tenka mengangguk dan langsung membawa Hibiki turun.
"Kau pikir kami akan membiarkannya?!" Yakuza itu melemparkan balok kayunya ke arah Tenka. Namun, Erick dengan sigap menangkapnya.
"Huh, lawan kalian itu aku! Dasar pecundang! Akan kubuat kalian memotong jarimu sendiri!"
__ADS_1