
Boby yang baru mendengar teriakan seseorang dari salah satu ruangan seketika terkejut. Di sana sudah ada kenalan yang belum genap sebulan saling memberitahu nama.
Ya, Erick memojokkan seorang wanita ke atas meja, menahan kedua tangannya. Sedang si wanita dalam keadaan berantakan.
"Erick?" ucap Boby kaget.
Erick cuma menanggapinya dengan berdiri setelah cukup lama berjongkok. Dia kembali membungkam mulut si rambut agar tak nyerocos tak jelas.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Boby berusaha tetap tenang.
Secara tak terduga, Erick cuma terkekeh. Meremehkan pertanyaan dari Boby.
"Kau bodoh, ya? Apa aku perlu menjelaskannya secara rinci?" ucap Erick mengolok-olok, terbesit menantang. Seolah meminta memberikan tanggapan yang menarik.
"Apa dia memang seperti ini? Si Erick itu ... aku bahkan tak bisa menyangkanya!" batin Boby.
Erick secara mengejutkan melepaskan wanita yang dibekapnya. Langsung saja, wanita dengan rambut merah membara itu berlari ke sisi Boby guna mencari perlindungan.
"Bob, Boby. T-tolong aku! D-dia berniat melecehkanku. Dia ingin melecehkanku!" ucap si wanita tersedu mengucek mata, pura-pura lemah. Tangannya gemetaran menunjuk Erick.
"Benar seperti itu?" Pria botak itu dengan polosnya masih bertanya.
Erick geram sendiri, dia mengangguk.
"Hah ... ini sangat sulit. Dia pura-pura atau benar-benar bego, sih?" batin Erick.
"Aku akan melaporkanmu!" ancam Boby, dia kemudian melirik ke sudut-sudut atas ruangan. "Di sini ada CCTV. Itu sudah cukup sebagai bukti jika kau memang melakukan apa yang dituduhkan."
"Nah, benar Boby. Kita harus melaporkan yang pada pihak kampus agar di-DO. Serta polisi, biar dia mendekam di penjara. Atau bahkan hukum kebiri saja!" Wanita si rambut merah memanas-manasi.
"Huh, Erick. Kau mau menyerahkan diri atau ...."
"Aku bukan orang bodoh!" sela Erick tersenyum ramah.
"Baiklah. Kau ... panggil bantuan! Aku akan menahan agar Erick tak kabur kemana-mana!" perintah Boby pada si wanita.
__ADS_1
"Aku akan segera kembali!" Dia bergegas pergi dengan buru-buru.
"System. Apa Rita selesai meringkus yang satunya?" tanya Erick.
[Selesai, Master]
"Bagus. Segera tangkap dia sebelum membeberkan hal yang tidak-tidak!"
[Baik]
"Nah, Boby ... coba kau hentikan aku sebelum kabur?!" Erick memprovokasi.
"Aku tak akan membiarkanmu kabur!"
Erick lantas melancarkan aksinya, dia mulai melempar bangku-bangku maupun meja ke arah Boby. Si pria berkepala pelontos itu keteteran.
Brakk ... brakk ... brakk ...
"Hahaha ... teruslah begitu! Maka aku akan dengan mudah kabur!" Erick tertawa jahat, bertambah brutal melemparkan kursi ke arah Boby.
Beruntung meja yang digunakan kampus itu lumayan lebar, justru bisa membantu Boby. Digunakan sebagai tameng.
"Orang itu sudah gila!" batin Boby.
Erick sukses menyusup dengan cepat ke sekitar boby, berada di titik butanya. Sebetulnya boby fokus melihat ke arah pintu yang satunya di barisan depan. Yah, ruangan yang merupakan kelas itu memiliki dua pintu, belakang dan depan. Dia sendiri berada di pintu belakang.
Dari sudut pandang erick yang berada di pojokan belakang. Pintu paling dekat adalah pintu yang ada boby nya, sedang paling jauh adalah pintu dekat meja barusan depan. Erick perlu menyeberang cukup jauh untuk sampai ke sana.
"Di mana erick? Dia tak terlihat?!" batin boby terpotong ketika melirik daerah pintu dekat barisan meja depan.
Srett ... buagh ...
Dari sisi yang berlawanan, erick melakukan tendangan sapuan kepada boby. Pria botak itu seketika tumbang, hampir kepalanya yang jatuh duluan.
Erick memanfaatkan keadaan itu dengan menimpa boby dengan kaki bangku, mengarahkan tepat di atas leher.
__ADS_1
"Aku tak berniat untuk kabur dari awal. Hahaha ... sayang sekali!" ucap erick terbahak-bahak. Pria itu memang bisa menjadi seperti orang lain ketika marah.
"Apa tujuanmu, brengsek?" maki Boby yang berusaha berontak.
"Tujuanku? Yah, tentu saja membalas dendam!"
Mata Boby sontak melebar, bibirnya seketika bergetar. "A-apa maksudmu? K-kita kenal saja belum lama——"
"Ini bukan soal kita, tapi orang lain!" Erick tersenyum licik. "Aku di sini adalah sebagai algojo. Orang yang sudah kau jebak, meminta jasaku. Kurang lebih sama, kau juga menyewa orang untuk menjebaknya, 'kan?"
"Yah, aku hanya perlu berbicara seolah sudah tau semuanya. Sisanya tinggal melihat reaksi yang diberikan." ucapnya dalam hati girang. Erick sungguh senang dengan situasinya sekarang.
"Kau mengenal Fandi, 'kan? Kalian sama-sama bekerja pada artis bernama Anya."
"Hah? Apa maksudmu? Aku tak pernah mengenal orang bernama Fandi! Sudah jangan mengada-ada, lepaskan aku! Atau aku akan melapor polisi?!" Boby seketika gugup dan kelabakan. Dia semakin berjuang untuk keluar dari kekangan Erick.
"Kau menjebak dia, memfitnahnya. Kalian dulu teman, 'kan?"
"Sudah kubilang, aku tak mengenal Fandi! Kau mungkin salah orang!" Muka Boby seketika pucat pasi. Dia sungguh ketakutan. "Bantuan akan segera tiba! Kau habis sekarang. Kau sudah melakukan tindakan kriminal!"
"Sudah 80%. Huh, tinggal menyisakan sedikit tes lagi!" pikir Erick.
"Heh? Mari bertaruh. Saat polisi datang, siapa yang bakal ditangkap? Aku bukan orang bodoh yang asal melabrak tanpa bukti!" tantang Erick. Dia mengeluarkan handphone dari sakunya.
"System, manipulasi data! Tunjukkan bukti transaksi pria ini dengan kelompok mafia! Sertakan foto juga!" pinta Erick pada System.
[Baik, Master]
"Coba kau lihat ini?" Erick menunjuk bukti. Sebuah riwayat chating dan foto yang menunjukkan Boby yang ada di markas mafia.
"Hah?! Itu fitnah, bangsat! Aku tak pernah berhubungan dengan mereka. Lagipula, mana mungkin aku punya uang sebanyak itu! Sekali transaksi bisa menghabiskan gajiku selama 3 tahun!"
Erick tersenyum tipis. "Oh, begitu? Berarti patungan, ya? Kau dan 3 lainnya. Huh, skakmat!"
"Huh?"
__ADS_1
"Hahaha ... terimakasih informasinya. Sekarang, tidurlah dalam mimpi buruk sebentar!"
Erick mencekoki pil yang pernah diberikan kepada orang yang berniat memperkosa Mina-Mona.