
Slash ...
Tak peduli waktu tengah malam, Erick masih belum tidur karena selalu direcoki. Katananya dari tadi berlumuran cairan yang bisa disebut darah atau tidak. Itu hanya cairan kental berwarna merah yang seketika berubah meja asap begitu menyembur dari tubuh.
"Seperti menghadapi pasukan zombie saja. Tak ada habisnya!?" ucap Erick yang sedikit mengeluh. Namun, terlalu cepat untuk melakukan itu karena dia belum bertemu dengan makhluk setipe dengan Rita, Lita, maupun Mita.
Slash ...
Erick melakukan tebasan harizontal sambil memutar tubuh dan mengayunkannya 360 derajat. Itu cukup untuk membelah tiap makhluk yang memiliki rupa seperti manusia.
Lalu, gelombang serangan datang lagi seperti tsunami. Sungguh tak membiarkan Erick untuk Istirahat. Dia bisa-bisa semalaman suntuk kerjaannya cuma mencincang daging. Entah itu daging atau bukan.
Yah, meski sudah dibantu Hebi dan para makhluk ghaib, maupun siluman lainnya, tak terlalu memberi perubahan yang signifikan.
Mereka tetap kalah jumlah, kemungkinan 3 banding 5.
Sementara itu, pihak militer tetap memantau gerak-gerik musuh ataupun Erick melalui drone. Mereka cukup tercengang dengan aksi yang ditunjukkan oleh Erick, maupun pasukan musuh yang seperti bukan manusia.
"Yang kita hadapi itu sebenarnya apa? Lalu, siapa pria bernama Gure Erick itu?" ucap salah satu unit pengintai, melalui drone sebagai perpanjangan matanya. Dia pun menggunakan seperangkat alat VR.
"Dia bukan seperti manusia!" timpal anggota unit lainnya, yang juga mengawasi keadaan.
"Apakah informasi tentang pria itu sudah didapatkan?"
"Ya, dia adalah seorang WNA yang memilih untuk menjadi warga negara Jepang. Dia dulunya adalah orang Indonesia."
"Hah? Indonesia? Kenapa?" Tentunya mereka cuma bisa gigit jari dan menjadi penonton. Hal yang mereka hadapi lebih berbahaya dari dugaan.
Bangsa dunia lain yang ratusan kali lebih maju dari bumi. Jika mau mereka sudah melakukan penjajahan dunia. Namun, seperti di bumi ... ada juga organisasi seperti PBB yang melarang tindakan itu.
"Rasakan ini! Sial, benar-benar tak ada habisnya!"
Tak terhitung jumlah tebasan yang telah dilakukan Erick, tak terhitung gedung-gedung yang terkena dampaknya. Kroco-kroco musuh masih tetap berdatangan.
[Stamina Master, ada batasnya. Jika terus begini ... Anda akan kewalahan jika menghadapi last boss]
"Ya. Mereka pun juga tak membiarkanku kabur, aku sungguh dipaksa untuk bertarung."
Tiba-tiba katana yang dipegangnya bergerak sendiri, memaksakan tangan Erick untuk terangkat dan berupaya menusukkan katananya ke bawah.
Jleb ...
__ADS_1
Erick merasakan tubuhnya terasa aneh.
Deg ...
Belasan ribu pasukan mirip manusia mendadak melambat dan tak berselang lama bertransformasi menjadi lumpur.
"Hah?" teriak Erick sedikit terkejut. Perutnya kemudian terasa bermasalah.
"Huek, huek." Erick memuntahkan isi lambungnya. Dengan cepat mulutnya terasa asam-asam sepat.
"Ugh, sialan. Kenapa harus muntah?" ucap Erick yang menyeka cairan kental cokelat di sudut mulutnya.
[Katana tersebut menyerap seluruh energi yang ada di sekitar dan memasukkannya ke tubuh Master]
[Lonjakan Energi Spiritual yang tiba-tiba dan di luar kapasitas penyimpanan Anda. Membuat tubuh kaget dan memberikan respon]
"Responnya muntah? Ugh, tapi ... yah, bolehlah. Katana ini menyerap habis energi kehidupan mereka dan membuatnya kembali menjadi lumpur."
Sementara itu, beberapa kilometer dari tempat Erick berada.
Sang dalang yang dipaksa membuat keributan oleh Tuannya, pria dengan gaya rambut belah tengah, Uzen, sebangsa manusia buatan hasil dari System. Dia merasakan energi di sekitarnya maupun di dalam dirinya sendiri terserap, ke arah yang merupakan tempat Erick berada.
Barrier atau penghalang yang tadinya hanya bisa memblokade serangan fisik diubah menjadi penghalang mutlak yang bisa menangkal segala jenis efek negatif dari luar.
Si Uzen itu ... dia menerawang keberadaan Erick. Dia langsung terkejut, matanya melebar.
"Katana itu? Harusnya bukan lagi item yang ada di shop System. Sudah dihapus sejak subjek nomor 342. Lagian, kenapa bisa terdampar di dunia ini?" Dia berpegang dagu, berpikir.
"Absorbent Katana? Pedang gila yang potensinya bisa seperti black hole. Item yang terlalu kuat. Nona Satelia, hal ini harus dilaporkan ...."
[Tak perlu melapor, aku sudah melihatnya]
Panel biru transparan muncul menampilkan rekaman real time dari wanita berambut hitam-keunguan tersebut.
[Yah, hal-hal tak terduga selalu terjadi. Tapi, alangkah hebatnya. Para penonton bersorak, item yang rumornya telah dihapus malah muncul kembali. Ini jelas sebuah kejutan]
"Tapi, jika begitu ... kita akan kalah dengan mudah. Barrier-nya hanya menunggu untuk dihancurkan, begitu dia mengetahui potensi asli dari pedang terkutuk itu."
[Baiklah, dari sini aku yang ambil alih. Kau kembali dan siapkan makan malam]
"Huh, baiklah, Nona Satelia!"
__ADS_1
Karakteristik tubuh Uzen sedikit berubah, rambutnya sedikit menjadi keunggulan dan mata merah seperti vampire.
"Yap, ini akan seru! Begini-begini aku mantan pengguna System. Kemampuan istimewaku adalah Tamer dan Monster boss, hehehe."
Di kubu Erick ....
Bulu kuduknya sedikit menegak tiba-tiba. Hawa aneh, dia merasakannya.
"Kabut?" ucap Erick reflek menutup mulut dan hidungnya, cemas jika beracun.
[Hanya kabut biasa, Master]
"Benarkah? Tapi, di dalam sini terasa sangat gerah? Seperti di gurun saja!?"
Penglihatan terhalang, kota Tokyo sepenuhnya terselimuti kabut. Drone-drone milik militer Jepang pun rusak karena kabut tersebut. Tak ada yang bisa mengintai lagi.
Tap ... tap ... tap ...
Derap langkah terdengar mendekati ke arah Erick. Apapun itu adalah sesuatu yang besar dan dalam jumlah yang banyak. Tanah sedikit bergetar karenanya.
Erick menggenggam katananya lebih erat. "Apa itu?
Erick menerawang melewati menembus kabut. "Makhluk apa itu? Seperti gorila, memiliki 6 tanduk, kulit seperti badak."
Bam!
Erick terseruduk karena sedikit lengah. Dia terhempas sampai menghantam gedung dan jebol ke dalamnya.
"Ugh ... tenaga makhluk itu sangat kuat, aku pun kalah!?" erang Erick memegangi kepalanya.
[Master ... itu namanya adalah Aontler!]
"Hah? Kau mengetahuinya?"
[Ada di database saya]
Erick pun kebingungan dengan perkembangan itu.
Sedangkan di sisi lainnya,
Satelia cuma menyeringai. "Ayo peliharaanku! Buat ini jadi lebih menarik!"
__ADS_1