
Kelamaan nunggu hari Sabtu ... Nih, langsung update.
.
.
.
.
Erick, keluarga, dan calon keluarganya telah berada di bandara. Bersiap pergi ke luar negeri dan entah kapan kembalinya. Rencananya mereka menetap di sana. Negara yang terpilih adalah Jepang. Bukan karena mereka suka, tapi hanya malas berdebat.
"Yeay, akhirnya pergi ke Jepang!?" Mona bersorak dengan bahagia. Para calon penumpang bandara mendelik tajam ke arah rombongan Erick.
Berkat bantuan System, Erick dan rombongannya tak ada yang mengenali. Hanya orang biasa.
"Kamu buat malu, diam. Dasar kekanak-kanakan!" cibir Mina mengingatkan.
"Heleuh ... ganggu kesenangan orang doang!"
Erick dan yang lainnya menghiraukan saudari kembar yang berseteru itu. Yah sudah jadi kebiasaan jika mereka berselisih paham.
Akhirnya pesawat yang akan mereka tumpangi sebentar lagi lepas landas. Mereka pun cepat-cepat masuk ke dalam pesawat.
"Hmm ... ada yang ingin mengucapkan selamat tinggal? Kita mungkin akan tak akan kembali." ucap Erick pada semua rombongannya.
Hari itu mungkin terakhir kali untuk menjejakkan kaki di negara kelahirannya.
"Huh ... yah, kita di sini mungkin akan rindu kampung halaman. Tapi, situasinya sudah banyak berubah." ucap Ariel yang agak lesu.
"Kita tak bisa hidup tenang dan damai." timpal Fian.
"Kita di sana akan memulai hidup baru. Dari awal." Erick melirik Rita, sang asisten yang berdiri terpisah agak jauh. Dia memberikan kode mata untuk memintanya mendekat.
"Hmm ... ini adalah berkas-berkas yang kalian butuhkan. Ini ada paspor dan ***** bengeknya. Semua itu dibutuhkan untuk tinggal di Jepang." Erick menjelaskan. Semuanya mengangguk.
Rita kemudian membagikan berkas-berkasnya.
"Umm ... Erick. Ada satu hal yang mengganjal bagi ibu." Lilis mengangkat tangannya dan bertanya dengan ragu.
"Soal kemampuan berbahasa. Ibu nggak pede. Bahasa Inggris pun ibu juga nggak bisa, apalagi Jepang!" ujar Lilis.
"Rita pandai segala bahasa. Dia bisa menjadi penerjemah. Aku juga akan menyewa penerjemah tambahan. Lagipula, kita semua akan les private bahasa Jepang selama sebulan. Semuanya sudah kurencanakan!" beritahu Erick.
Lilis menjadi agak lega setelah mendengar penjelasan dari anaknya itu. Dia sudah tak khawatir masalah komunikasi.
"Mohon, bantuannya ya, Rita."
"Saya akan menjadi mesin penerjemah yang bagus bagi Mamanya Master." Rita menundukkan kepalanya dengan sopan.
"Baiklah, kita berangkat." ucap Erick.
"Akihabara ... i'm coming." teriak Mona yang sangat semangat. Tujuannya ke Jepang cuma ingin mengunjungi surganya para otaku itu.
Mereka semua menghabiskan waktu di dalam pesawat selama seharian. Tiba di kota Tokyo saat hari sudah gelap.
Duo kembar mengalami masalah saat penerbangan. Mereka kini pun teler, tak bisa berjalan. Erick dan Anto pun terpaksa menggendong.
"Yah, pengalaman pertama naik pesawat." gumam Erick.
"Jadi, bagaimana? Kita mau tinggal di mana? Menyewa apartemen?" tanya Ariel yang berada di sebelah Erick.
__ADS_1
"Menginap di hotel saja dulu. Besok Rita akan mengurus semuanya."
"Oke."
"Rita, tolong, ya. Carikan tempat menginap yang bagus."
"Baik, Master."
Rita lantas pergi sesegera mungkin. Yah, dari bandara berjalan kaki. Erick tak mau pusing bagaimana caranya wanita itu sampai di tempat tujuan.
Erick kemudian memesan beberapa taksi online.
"Kota Tokyo adalah kota yang tak pernah tidur. Apa tak mau berkeliling saja? Daripada langsung tidur. Pemandangan kota pada malam hari pasti menakjubkan." celetuk Fian tiba-tiba. Dia mencoba memberikan usul. Ini bukan kali pertama bagi Fian berada di Jepang.
"Jalan-jalan. Tapi, si kembar itu——"
"Uhn ... k-kak Erick sudah sampai? Uhuk ... ini sudah di Jepang?" Mona menggeliat bangun di gendongan Erick. Baru sadar langsung mengucek mata, melihat sekitar.
"Kita sudah sampai Putri tidur, ini adalah Jepang. Kau tak bisa merasakan baunya? Bukan bau bawang, lho?" ucap Erick bergurau, disambut gelak tawa. Mina sudah bangun duluan.
"Huh? Huh? Beneran kita sudah sampai? Kalo gitu, ayo kita ke Akihabara!"
"Oke, oke ... untuk malam ini kita akan jalan-jalan sepuasnya!"
.
.
.
"System, tampilkan status!"
...Nama : Erick...
...Energi spiritual : 100.000...
...Poin : 1 M...
...Keterampilan :...
...•Segala kemampuan Esper...
...•Peretas...
...•Memasak...
...•Ilmu hitam, mengendalikan roh/makhluk ghaib...
...•Semua ilmu bela diri...
...Penyimpanan System :...
...•Katana(Unknown)...
...•Uang...
...Aset :...
...•55% saham Meta...
...•Perusahaan REKAN(Merger dengan perusahaan keluarga Ariel)...
__ADS_1
...•Sebuah pulau pribadi di samudera Pasifik...
...•Uang cash 1 miliar...
...Asisten :...
...•Rita...
...•Mita(Pengurus Meta)...
"Yah, sepertinya data statistik seperti kecepatan dan kekuatan tak diperlukan lagi. Sepertinya tolak ukurnya adalah energi spiritual, apakah semakin besar, maka semakin kuat juga diriku? Tapi, yah, lebih simpel ... sepertinya versi ketiga dirimu fokus pada kekuatan!"
[Untuk System versi ketiga dan seterusnya akan fokus pada kekuatan]
"Lalu, apa maksud kata Unknown pada katana itu?"
[Bukan item yang berasal dari System, Master]
"Hoh? begitu?"
Erick kini berada di taksi bersama dengan Ariel dan Karamel. Rombongan dibagi menjadi empat dengan cara diundi.
Kini setiap orang berpencar ke penjuru Tokyo. Mereka punya tempat yang ingin dituju sendiri-sendiri. Memang berbahaya, tapi semua dalam pengawasan Erick.
Salah satu kemampuan Esper, penerawangan atau Clairvoyance. Erick bisa dengan mudah mengetahui keadaan mereka dan lokasi pastinya.
"Erick, kita mau kemana?" tanya Ariel sedikit jengah. Dia melihat kerlap-kerlip bangunan yang terang dari kaca mobil. "Kita dari tadi berputar-putar tak jelas."
"Aku sudah bilang, kamu mau kemana? Kamu cuma bilang 'Aku menurut saja' ya, udah sih ... kita berkeliling Tokyo dengan taksi."
"Ya nggak gitu lah. Apakah kamu tak punya tempat yang ingin dikunjungi? Ini Jepang, lho. Atau Erick sudah sering ke Jepang?" tanya Ariel. Dia juga bertanya pada Karamel.
"Baru pertama kali. Dan yah, aku tak tertarik sama sekali." balas Erick agak acuh.
"Kalo aku sudah pernah. Itupun diajak keluarga Reka. Tapi, bukan di Tokyo." jawab Karamel.
"Tujuan ke Jepang adalah menemukan Anya. Dia ternyata pindah ke sini." batin Erick.
Salah satu fitur System ada juga yang meningkat. Fitur pencarian GPS yang bisa mencari apapun, kecuali yang berhubungan dengan misi dari System.
Pencarian itu menunjukkan bahwa Anya berada di Jepang. Tapi, untuk lokasi spesifiknya tak diketahui entah daerah mana. Jadi, Erick bisa saja akan keliling ke seluruh Jepang.
Erick sangat berharap jika Anya belum menikah atau berkeluarga.
Taksi yang ditumpangi Erick mendadak mengerem. Ariel dan Karamel hampir terantuk menghantam sekat pembatas dengan driver, beruntung Erick menahan tubuh keduanya.
"A-aduh. Ada apa, sih?" Ariel nampak syok. Dia mengintip keadaan lalu lintas di depan.
"Apa ada sesuatu?" ucap Erick dalam bahasa Jepang. Salah satu kemampuan pasif dari System v.3. Menguasai seluruh bahasa yang pernah tercipta, termasuk bahasa hewan.
"Maaf, di depan ada sebuah keributan kecil!" jawab si driver dengan menyesal menundukkan kepala.
"Keributan seperti apa?" Ariel penasaran. Erick langsung menerjemahkan kalimat itu.
"Umm ... saya pun tak tau pasti. Tapi, kita tak bisa melanjutkan perjalanannya. Saya minta maaf."
"Tak apa-apa. Terima kasih sudah mengantar kami." Erick menyerahkan uang yang sesuai tarif.
Mereka bertiga akhirnya terlantar di tengah-tengah kemacetan yang mendadak ada. Jauh di depan terjadi semacam keributan. Banyak gerombolan masa.
"Huh, aku tak mau jadi jagoan dulu. Aku baru sampai di sini. Lebih baik menghindar!"
__ADS_1
Namun, takdir berkata lagi lain.