System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 33 : Makan malam bersama


__ADS_3

Erick dan Mona-Mina habis menyelesaikan jadwal kuliah siang mereka. Sepasang saudari kembar itu langsung bergegas pergi menuju unit apartemennya begitu pintu lift terbuka. Erick ditinggalkan begitu saja, bersama Ariel. Pokok kekesalan Mina-Mona adalah karena perempuan pemilik gaya rambut berkucir kuda itu. Jadwal kuliah Ariel kebetulan bertabrakan dengan tiga saudara itu.


"Ah, itu pasti salahku. Mereka benar-benar marah!" ucap Ariel enteng. Sikap kedua adiknya Erick tak terlalu diambil pusing. "Mereka benar-benar mogok bicara padamu?" Ariel menggenggam tangan Erick, terus memeluk lengannya sambil berjalan menyusuri koridor. Nah, sudah seperti sepasang kekasih.


"Paling nggak sampai 2 hari. Mereka langsung menyerah." duga Erick. "Nantikan saja. Nggak bakal lama!"


Ketika Erick berpapasan ataupun mendapati kehadiran seseorang di dekatnya. Maka dia akan langsung melepaskan genggaman Ariel, terus mencoba bersikap normal bahwa tak memiliki hubungan yang serius dengan perempuan itu.


"Erick!"


Ketakutan Erick rupanya terjadi, ada orang lain yang tiba-tiba muncul dari arah tangga. Erick dan Ariel pun kelabakan. Langsung ambil jarak, tapi sepertinya percuma. Orang itu telah melihatnya. Namun, Erick bisa mengendurkan ketegangan di bahu dengan segera, orang itu merupakan kenalannya. Bahkan keluarga, yah dia adalah Anto yang habis pulang dari kerja.


"Oh, ada Non Ariel?" panggil Anto agak kaget melihat Ariel.


Erick menelisik tubuh ayahnya. "Ayah naik tangga? Udah biasa berjalan? Nggak capek?" ucap Erick berusaha mengalihkan topik obrolan.


"Tentu saja. Buktinya kuat naik tangga dari lantai dasar?!" Anto berpose seperti binaragawan dengan girang, memamerkan ototnya. Tapi, hanya kulit yang sudah mengkerut yang dilihat Erick.


"Pekerjaan ayah itu apa, ya? Eh? Ijazahnya hanya sekolah dasar! Aduh ... pastinya pekerjaan kasar. Kenapa dengan bodohnya kuizinkan?" sesal Erick telah mengizinkan Anto bekerja.


"Ayah tak perlu lah bekerja! Ayah hanya cukup santai-santai di rumah. Ada aku yang bisa bekerja memenuhi kebutuhan kalian!" ucap Erick prihatin dan tak tega melihat ayahnya itu.


"Gimana, ya? Ayah merasa aneh jika terus-terusan di apartemen, tak melakukan apapun. Sementara itu, ayah masih sangat sanggup bekerja!?" kekeh Anto, canggung menggaruk bagian belakang kepalanya.


"Huh ... ayah itu memang pekerja keras. Insting sebagai kepala keluarga. Tapi, kasihan juga harus melakukan kerja kasar."


[Master bisa memberikan pekerjaan untuknya]


"Maksudnya? Oh ... baiklah. Apa-apa memang perlu orang dalam. Selagi aku bos-nya, ayah bisa terhindar dari pekerjaan-pekerjaan yang berat."


[Saya bisa merekomendasikan beberapa perusahaan yang bermasalah. Master bisa membelinya dengan harga murah]


"Baiklah. Aku akan melihat rekomendasi itu nanti. Hmm, tapi aku sudah memiliki sebuah perusahaan elit. Tidak, membangun dari bawah itu lebih menyenangkan. Meta bisa kukeruk dividen-nya saja!"


[Misi dikonfirmasi]


[Selamatkan perusahaan yang kolaps]


[Tingkat kesulitan : C]


[Hadiah : 100 ribu poin]


[Batas waktu : Satu bulan]

__ADS_1


[Pinalti : Perusahaan akan bangkrut]


"Non Ariel mau makan malam bersama kami? Daripada makan sendirian terus. Lilis katanya sedang masak banyak." ucap Anto tiba-tiba. Dia tadi mengecek handphone-nya. Lilis pasti mengirimkan pesan.


Ariel bingung ingin menjawab apa, dia melirik Erick, meminta bantuan. Pacarnya itu cuma mengangguk, berarti setujui saja.


"Dasar, ibu!" keluh Erick dalam hati.


"Sebenarnya yang mengundang kamu itu Lilis, istri saya. Dia pasti kecewa karena sudah masak banyak. Tapi, berakhir sia-sia." bujuk Anto lebih meyakinkan dan agak terdengar mendesak.


Ariel dengan berat mengangguk pelan. "Iya, saya akan datang." Ariel tersenyum canggung. Baru hari pertama pacaran, tapi sudah diundang makan malam bersama keluarga si pacar. Tentunya Ariel merasa bahagia.


"Bagus. Nah, Erick. Ayah kembali dulu. Jika kamu masih ingin ngobrol-ngobrol sama Non Ariel ... silahkan. Tapi, jangan pulang telat!" Anto berlalu pergi meninggalkan Erick dan Ariel.


Jtakk ...


"Awww ... apa sih? Tiba-tiba jitak kepala orang." ucap Ariel cemberut, pipinya digemukkan dengan kesal.


"Jangan mesam-mesem gitu! Ketahuan jika sedang bahagia!" balas Erick sedikit memalingkan muka.


"Bahagia nggak boleh. Kamu ingin aku sedih saja?"


"Ya, nggak sampai——eh? Kamu? Hahaha ... sepertinya aku-kamu atau malah panggilan sayang, hmm ... memang bagus!"


"Jangan mesam-mesem kayak orang gila. Ketahuan lho, kalo kamu sedang bahagia." Ariel membalas perbuatan Erick. Dia terkekeh menutupi mulutnya dengan telapak tangan.


Erick lantas ikutan cemberut, membuang mukanya.


"Tapi, sayang ... panggilan khusus seperti darling atau apalah itu. Menurutku sedikit alay bagi kita. Kamu juga merasa begitu, 'kan?" Ariel berusaha menarik perhatiannya Erick


"Apaan? Kamu sendiri pakai kata 'Sayang'!?" ucap Erick bergurau, menertawai Ariel.


"Itu masih normal!" omel Ariel memukul-mukul Erick dengan kesal.


Pasangan baru netas itu selalu berbincang dengan hebohnya sepanjang koridor, mengabaikan penghuni apartemen yang lalu-lalang. Omongan orang tak perlu dipikirkan.


Ariel tak langsung menuju ke apartemen Erick, dia perlu bersiap-siap. Seperti mandi dan *****-bengeknya. Di hadapan calon mertua harus tampil sempurna.


Sementara itu, Erick membantu ibunya bersiap-siap. Dia tak sendiri, kedua adiknya juga ikut membantu. Yah, walau dirasa tak ikhlas.


Di sela-sela Erick mempersiapkan makan malam, dia menerima pesan day Ariel.


Ariel

__ADS_1


"Aku udah siap!"


"Aku cantik banget, lho."😘


Erick pun cuma tersenyum, terlebih melihat emoticon yang Ariel kirim. Dia segera membalasnya.


Mina dan Mona yang melihat kakaknya senyum-senyum sendiri merasa kesal.


"Mina, aku tadi malam lihat film yang bagus, lho?!"


"Film apa?"


"Film tentang kakak durhaka yang mendapat karma karena sudah menelantarkan ... adiknya?" ucap Mona menyindir, kata terakhirnya diberi penekanan yang kuat


"Hoh? Gimana nasib kakak durhaka itu?" tanya Mina pura-pura penasaran. Sebetulnya dia cukup malas meladeni adik kembarnya itu.


"Oh, tentu saj——"


"Mina-Mona bisa pergi ke minimarket?" potong Lilis yang ditanggapi cemberut oleh Mina dan Mona..


Erick diam-diam memberikan jempol pada ibunya. "Sip!"


Pesan dari Ariel datang lagi


Ariel


"Erick, gimana kalau ngundang Fian juga?"


^^^Anda^^^


^^^"Fian? Kenapa?"^^^


Ariel


"Untuk memperbanyak semuanya. Fian harus bertanggungjawab atas semua kesalahannya pada orang tuamu. Harus minta maaf secara langsung."


^^^Anda^^^


^^^"Benar juga."^^^


Ariel


"Aku yang akan mengundangnya."

__ADS_1


__ADS_2