
"Sekarang ... bagaimana akhirnya? Erick?" tanya Fian yang fokus menyetir mobil. Penumpangnya kini bukan cuma Erick, ada tambahan si Karamel. Wanita bersurai cokelat itu senantiasa diam. Masih segan terhadap Erick maupun Fian.
"Tentu saja mempersiapkan semuanya," balas Erick acuh, memilih memandangi jalanan.
"Kau menganggap seolah ini sangat enteng. Kau tak merasa khawatir?" Fian sesekali melirik ke belakang melalui kaca spion.
"Tidak! Aku sudah memikirkan bagaimana caranya kita melewati bencana ini!" Erick mengangguk. "Pernah menonton film zombie?"
"Y-ya ... tentu. Film genre seperti itu sangat menegangkan. Bagaimana caranya para manusia bertahan hidup!?" ucap Fian antusias. Dia itu pecinta film, apalagi film-film action.
"Yap, kita akan mengadopsi cara yang sering digunakan para tokoh di film-film zombie." ujar Erick tersenyum licik.
Fian menaikkan sebelah alisnya. "Aku tak terlalu paham. Tapi, sepertinya itu sangat menarik!?"
"Pastinya!"
"Maaf, puncanya karena diriku." Karamel tiba-tiba hadir di antara obrolan Erick dan Fian. "Kalian jadi susah."
"Aku sudah mendengar itu triliunan kali. Huh ... jangan katakan itu lagi, maka aku tak akan mau menyelamatkan ibumu!" ucap Erick pura-pura mengancam. Karamel seketika kelabakan. Lagipula, Erick adalah satu-satunya harapan yang dimiliki ... bagi Karamel.
"Padahal aku sudah susah payah agar Reka tak lagi tertarik padamu, sehingga kondisi ibumu tak lagi terancam. Reka tak lagi punya alasan untuk menahannya. Kini ibaratnya adalah barang tak berguna yang perlu ...." Erick terbungkam setelah bicara ceplas-ceplos. Mukanya berubah sedikit pucat.
Plak ...
"Tol0l!" Erick menepuk jidatnya sendiri. Fian sedikit kaget hingga mobilnya agak oleng.
"Ada apa, Erick?" Fian jadi ikutan panik. Karena berbahaya, Fian sementara menghentikan laju mobil.
"A-ku harus segera menyelamatkan ibunya Karamel. Pokoknya sesegera mungkin!" gumam Erick.
"Gimana?"
Di sela-sela kebisingannya Erick dan Fian. Tiba-tiba timbul suara dari nada dering panggilan telepon. Semuanya mencari sumber bunyi.
"Oh. Itu punyaku!" Fian merogoh tas kecilnya. "Nomor tak dikenal." beritahu Fian.
"Angkat saja. Mode speaker!"
"Oke." Fian menggulirkan icon telepon berwarna hijau ke atas pada layar handphone-nya.
"Halo, Master——"
Erick buru-buru menyambar Handphone milik Fian, begitu suara pihak seberang mulai terdengar. Sangat jelas dari cara bicara dan nada yang digunakan. Erick langsung bisa menebak bahwa itu adalah Rita.
Erick kehilangan handphone-nya ketika di kampus, wajar Rita menghubungi Fian. Wanita itu selalu mengawasi Tuanya. Dia pun bisa tahu Erick sedang bersama siapa. Jadi, tak salah sambung ke Ariel atau Mina-Mona.
"Siapa?" tanya Fian penasaran.
"Asisten pribadi! Tolong, diam sebentar!" ucap Erick mengangkat jari telunjuknya sebagai pertanda untuk senyap.
"Ya. Rita. Namun, bagaimana kau bisa tetap kerja saat System sedang upgrade." Erick berupaya berbicara senormal mungkin dan tak menyinggung hal yang malah membuat Karamel dan Fian bingung.
"Karena System sebelumnya telah ditingkatkan, Master. Saya masih tetap bisa berfu——bekerja."
__ADS_1
"Ah, begitu, kah?"
"Apa ada hal yang harus saya lakukan?" tawar Rita. Yah, kebetulan yang sangat bagus. Solusi dari kepanikan Erick.
"Bawa kabur ibunya Karamel!" ucap Erick memberikan perintah.
"Siap laksanakan, Master. Anda tunggu lah di apartemen."
"Ya. Aku tunggu kabar darimu." Erick memutus sambungannya. Handphone itu kembali diserahkan kepada Fian.
"Fian, kita mampir ke ATM sebentar. Aku perlu menarik uang!" titah Erick yang langsung sanggupi oleh Fian.
Mereka pun pergi ke ATM terdekat guna menukarkan uang. Dia bakal belanja besar-besaran.
.
.
.
Mina dan Mona sibuk di kamar seharian. Mereka memegang laptop masing-masing. Mona marathon anime kesukaannya, sedangkan Mina cuma menonton clip-clip video lucu.
Mereka berdua sibuk dan terlalu fokus pada monitor masing-masing, sampai dering handphone di nakas, tak digubris sama sekali.
Tetapi, Mina menyadarinya ketika dia melepaskan headset yang melekat di kepala. Mina mendadak ingin buang air kecil.
"Mona, handphone-mu bunyi!" beritahu Mina pada adiknya, sudah sedikit berteriak. Namun, tetap diacuhkan.
Sang kakak pun gregetan, Mina mencopot headset yang melekat kuat di kepala adiknya itu.
"Apa-apaan sih, Mina. Jika bunyi ... angkatlah! Apa susahnya menolong adik? Aku jadi keganggu, nih! Padahal lagi bagian paling seru." Mona nyerocos tak jelas.
Mina menghela nafas dengan kasar. "Okay, fine. Awas jika yang menelepon ini adalah kak Erick ... kau tak boleh bicara."
"Ya, ya. Terserah!"
Mina pada akhirnya mengecek siapa yang menelepon. Rupanya nomor tak dikenal. Mina dengan jengah menerima panggilan itu.
"Halo, siapa, ya?"
"Mona, eh? Mina, ya?"
Mona yang sebelumnya sibuk menonton anime, mendadak terkesiap. Tapi, terlambat. Mina keburu keluar dari kamar.
"Iya, kak Erick. Ada apa? Kenapa mengubungi dengan nomor lain?"
"Ahh ... itu?! Tak perlu dipikirkan! Terpenting, dengar perintah kakak ...."
"Woi, Mina. Siniin handphone-nya! Itu milikku!" Mona tiba-tiba datang dan berusaha merebut handphone yang dipegang oleh kakaknya itu.
"Sesuai perjanjian. Kau tak boleh bicara jika yang menelepon itu kak Erick."
"Ah, tak bisa begitu."
__ADS_1
"Kalian berdua ... dengarkan!" Erick dari sambungan telepon agak berteriak. Seketika menghentikan pertengkaran konyol adik-adiknya.
"Huh, bagus. Sekarang ... pergi ke minimarket untuk beli bahan makanan sebanyak-banyaknya! Timbun sebanyak mungkin!"
"Untuk apa? Seperti menghadapi bencana?" celetuk Mona.
"Kalian akan tau saat kakak sudah pulang. Pokoknya, cepat pergi belanja. Ajak ibu sekalian. Oh, ya ... ayah tolong hubungi untuk segera pulang. Keadaannya genting!"
Mina-Mona segera menyanggupi arahan Erick. Mereka buru-buru pergi ke minimarket untuk membeli kebutuhan-kebutuhan, Lilis juga ikut membantu.
"Memang seperti menghadapi bencana. Yah, kita akan tau saat Erick sudah kembali!" celetuk Lilis memilah-milah apa yang dia beli, sebelum dimasukkan ke keranjang.
"Kenapa mereka? Belanjaannya banyak banget?!" komentar pembeli lain.
"Tak tau. Tapi, terserah mereka lah, ya?" timpal lainnya.
Mina-Mona dan Lilis telah selesai berbelanja. Mereka menenteng beberapa kresek. Yah, itupun yang sanggup dibawa. Untuk belanjaan lain akan diantarkan oleh pihak minimarket.
Lilis membuka pintu, namun dia terkejut. Ternyata sudah ada keberadaan orang lain. Bahkan sedikit ramai. Ada 3 orang tak dikenalnya, mereka sama-sama perempuan. Dua di antaranya seperti ibu dan anak. Sisanya nampak seperti perempuan single.
"Erick? Bisa jelaskan semuanya pada ibu!"
"Ya ... tentu saja. Begini ...."
Erick pun menjelaskan semua kejadiannya secara runtut. Barulah Lilis, Mona-Mina, menjadi tahu akan alasan disuruh belanja. Lagipula, Erick kembali dengan barang belanjaan juga.
"Begitulah, Bu. Kita perlu sembunyi. Keluarga itu tak akan membiarkan kita hidup tenang setelah kupermalukan anak tunggal kesayangannya. Mereka pasti akan menjatuhkan kita dengan berbagai cara. Memfitnah, mengacaukan pekerjaan, bahkan menyewa preman untuk menyakiti!"
Tak berselang lama, bel pintu terdengar. Itu adalah Anto, dia sudah kembali. Semuanya kini lengkap. Erick bisa menjelaskan detail-detail lainnya.
"Kita akan pergi dari sini. Berlibur ke luar negeri." beritahu Erick, semuanya nampak syok.
"Tapi, kak ... di kemanain belanjaan ini, jika kita pergi?" tanya Mona.
"Eh? Siapa bilang kita benar-benar pergi berlibur? Itu hanya dalih, kedok. Kita akan memanipulasi data, seolah-olah kita sudah pergi dari apartemen ini."
"Kalian sudah mengerti maksudku, 'kan?"
"Ah, aku sih udah mengerti. Tapi, apa kita akan bersembunyi terus? Tak mungkin, 'kan?" ucap Ariel berada di sebelah Erick. Dia memakai pakaian tebal sebab masih kurang enak badan.
"Tidak." Erick menggeleng. "Hanya seminggu."
Erick melirik sosok asisten serba bisanya, Rita. Wanita itu sadar lalu melakukan tugasnya.
"Tolong izinkan saya ... kalian semua. Terlebih ibu dan ayah dari Master. Tolong beritahukan pada semua kenalan, bahwa kalian akan pergi berlibur ....
Ini pemberitahuan penting. Segala bentuk penggunaan gadget yang terintegrasi internet akan distop. Itu bisa menjadi alat pelacak mereka. Dengan kata lain, kita benar-benar akan bersembunyi seperti tengah ada bencana. Terputus dari dunia luar.
Saya punya kemampuan IT yang sangat bagus, hacking pun saya bisa. Tak sulit memanipulasi data-data yang menunjukkan kita sedang pergi ke luar negeri."
"Perlu ditekankan lagi ... kita bersembunyi cuma seminggu. Setelahnya kita bisa bebas keluar." seru Erick.
"Semoga rencana ini berhasil. Jika ada System ... aku tak akan berbuat serepot in, hahaha. Tapi, sepertinya seru juga." batin pria berambut cokelat-pirang itu tersenyum licik.
__ADS_1
Unit apartemennya Erick kini berisi 10 orang. Erick, Mina-Mona, Lilis-Anto. Tambahan Ariel, Fian, Karamel serta ibunya. Jangan lupakan Rita. Yah, laki-lakinya cuma 2.